
Pak Evi langsung mengintrogasi Rani dan mawar yang telah di beri obat merah kepalanya. Ana masih ada di ruangan itu bersama dengan pak Evi. Rani dan mawar langsung membisu saat pak Evi menanyakan kronologi kejadiannya yang real.
Kedua gadis remaja itu hanya diam membisu kerena pertanyaan pak Evi membuat hatinya berdebar dengan keras sekali, mata pak Evi menatap tajam kearah dua gadis itu. Keduanya hanya saling lirik satu mama lainnya, ada helaan nafas panjang.
"Jawab!" pak Evi menekan keduanya untuk berbicara.
"Dia duluan pak!" teriak Rani.
"Nggak. Dia yang duluan, aku nggak pernah melakukan apa apa tapi mereka!" Bela Ana dengan lantang.
Tanpa ba bi bu lagi gadis itu menceritakan kronologi kejadian sampai ia melakukan ke kerasan pada mereka, An.mwnceeitakan kalau ia membaca dan menulis seringnya genknya Rani menganggu nya, misal dengan merobek buku yang ia baca atau di tulis..
Pak Evi dan kedua gadis itu hanya terdiam saat Ana menceritakan kejadian itu, sebenarnya Rani ingin menyanggahnya tapi pak Evi mengangkat tangan supaya Rani dan Mawar diam. Melihat tangan pak Evi naik keatas, akhirnya Rani dan Mawar hanya diam saja.
Hati kedua langsung berdebar dengan keras sekali, ingin sekali Mawar menyanggahnya tapi ia gagal terus kerena pak Evi hanya memberikan kesempatan pada Ana.
Gadis berkacamata itu pun menceritakan waktu ia di keroyok oleh genk Rani, keduanya hanya tertunduk saja mendengarkan apa yang Ana ceritakan, keduanya tidak menyangka sama sekali kalau Ana bakal menceritakan kejadian penyergapan mereka pada Ana, keduanya hanya menunduk dengan hati berdebar sangat keras sekali.
Pak Evi hanya bisa mengelangkan kepala saja mendengar kalau Genk Rani memukul Ana, itu kerena Ana memukul Rani alasannya kerena Rani menyobek kertas yang berisikan puisi yang Ana buat.
"Bapak nggak nyangka ya kalau kamu ingin jadi preman di sini Rani? Apa salahnya Ana pada kamu sampai kamu menganggu Ana?" Tanya pak Evi menatap Rani dengan tajamnya.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka sekali kalau kejadian yang seperti itu, pak Evi menyangka kalau Ana yang salah tapi kalau di ceritakan faktanya Ana sebenarnya hanya mempertahankan harga dirinya yang di injak injak oleh temannya saja..
"Kenapa kalian tidak menjawab?" tanya pak Evi menatap kedua gadis itu yang menunduk.
Bukannya menjawab Rani dan Mawar hanya diam semata, ia tidak menjawab pertanyaan dari pak Evi, hanya lirikan matanya saja saling melirik satu sama lainnya. Sedangkan Ana langsung di suruh masuk kelas kembali oleh pak Evi sedangkan Rani dan Mawar masih tetap di ruang guru.
__ADS_1
Ana masuk kelas 2A tapi kelas kosong, ia hanya diam saja mematung kerena.twman teman di kelas tidak ada ia langsung masuk ke perpustakaan. Kebiasaan masuk perpustakaan terlihat sepi sekali, hanya beberapa siswa dan siswi yang datang ke perpustakaan.
Sedangkan Rani dan Mawar akhirnya di suruh pergi oleh pak Evi kerena keduanya tidak pernah menjawab pertanyaannya hanya permintaan maaf saja yang terlontar dalam mulut keduanya.
"Na, katanya kamu dikeroyok?" tanya Ihah menatap Ana penasaran.
Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ihah. Gadis Labuan itu langsung melotot melihat anggukan kepala Ana, ia tidak menyangka kalau berita itu benar. Ihah sangka kalau berita keroyokan yang terjadi itu bukan korbannya Ana..
"Iya waktu kemarin, mereka mencegat waktu mau pulang sekolah." jelas Ana pada Ihah yang tetap menunggu cerita tentang keroyokan itu.
"Bajingan juga sih mereka hanya berani keroyokan kaya gitu!" Dengus Ihah prihatin mendengar kabar itu.
"Kamu memang nggak melawan?" tanya Ihah penasaran.
"Melawan sih melawan tapi kalau banyakan otomatis kalah sih," ujar Ana.
"Begitulah!"
Ana tidak semangat mendengar kaku dirinya memukul mawar kerena balas dendam..Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk balas dendam tapi kalau.mereka keterlaluan kenapa tidak ia harus membalas semua yang mereka.lakikan padanya hanya untuk menjaga diri saja.
Ana sebenarnya tidak suka.lada pertengkaran atau musuhan. Dan yang ia heran kenapa Rani selalu menganggu dirinya saja. Sedangkan Ana sendiri tidak.leenah menganggu Rani maupun teman temannya..Sebenarnya kalau saja Rani dan genknya tahu tentang Ana, ia hanya ingin Rani tidak pernah menganggu nya lagi..
Tapi kenyataannya tidak demikian sama sekali, dan buktinya kali misal Rani kalah malah seperti ini, ia yang selalu disalahkan oleh orang lain. Sedangkan ia sama sekali tidak pernah usil pada yang lain..
"Kaku kamu digituin lagi lebih baik lawan mereka," dukung Ihah menepuk bahu Ana.
Ana menghela nafas panjang dan mengangguk. Awalnya Ana akan bicara pada Ihah. tapi bel pulang telah memanggil para siswa dan siswi untuk pulang ke rumah masih masing. Akhirnya Ana dan Ihah beranjak dari teras perpustakaan untuk mengembalikan buku dan langsung pulang ke rumah.
__ADS_1
Ana sebenarnya hatinya sangat berdebar kerena takut kalau Rani dan Mawar mencegat kembali di tempat yang kemarin. Apa yang An takutkan tidak terbukti sama sekali, Genk Rani tidak mencegahnya.
Ia pulang dengan perasaan riang sekali, ya biarpun ia jalan sendirian tapi ia begitu nyaman sekali dari pada ia berjalan dengan yang lain lebih baik ia sendiri menyelusuri jalan yang penuh dengan krikil kecil yang menyebar di jalan beraspal.
🐝
Mentari padi muncul dengan senyuman yang indah sekali, apalagi saat ia melihat burung burung kecil yang bernyanyi menambah nuansa pagi yang semakin indah saja.
Pagi itu Ana dengan semangat 45 nya berjalan menyelusuri jalan yang penuh dengan bebatuan kecil yang berserakan. Hari itu ia tidak mengunakan. sepeda untuk sampai ke sekolah tapi ia berjalan menuju Kp Teluklada untuk sampai ke SMU nya.
Apalagi pagi yang sejuk begitu telah tergantikan oleh kesegaran yang luar biasa kerena telah keluar keringat yang membasahi tubuhnya. Perjalanan membuat ide ide kreatif nya muncul begitu saja, ya ide menulisnya begitu tajam untuk dituangkan melalui tulisan tanganya apalagi kalau ia selalu berjalan menuju sekolahnya.
Hanya memakan waktu 1 jam ia berjalan menuju sekolahnya. Biarpun tubuhnya capai tapi ia begitu semangat sekali berjalan apalagi ditemani oleh nyanyian burung yang mengiringi langkahnya.
"Na, tungguin dong!" teriak Titis memanggil Ana.
Gadis itu langsung mengejar Ana yang telah jauh. Ana hanya tersenyum melihat Titis berlarian kecil untuk menghampiri gadis berkacamata itu.
"Na benar kamu di keroyok!"
"Tahu dari mana?"
"Ketua kelas kita.
"Iya, Rani dan genknya. Aku juga heran kenapa sih mereka Sepri itu sama aku?
"Sabar saja, mungkin mereka iri saja sama kamu," celetuk Titis.
__ADS_1
Ana menatap wajah Titis tajam, ia masih ingat kata kat ibu Tri padanya waktu ia menceritakan perkelahian dirinya dan Rani.*