Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 86


__ADS_3

Ana benar benar marah dan kesal sekali mendengar pengakuan jujur dari Mawar, ya secara diam diam mereka setelah dari kantin mendengar percakapan ketiganya di kelas 2B. Ana mengetuk perbuatan Mawar ia tidak habis pikir kenapa harus Mawar yang melakukannya, Mawar tidak pernah kapok dalam segala hal dipanggil juga percuma, kebal banget. 


Sebenarnya Rani sudah tahu rencana  Mawar tapi ia langsung bertindak. Kemarin ia mendengar percakapan antara Mawar dan Dahlia, mereka berdua lah yang merencanakan semuanya, Rani mendengar semua rencana itu dan pagi tadi ia berangkat seperti biasanya ke sekolah, dan ia melihat Mawar yang juga siap siap ke sekolah. Rani yang melihat mawar langsung berangkat, dan saat itu juga Mawar berangkat ke sekolah ia melihat semuanya. 


Tapi Rani pura pura tidak tahu rencana Mawar, ketika sampai di sekolah ia langsung ke kantin bersama Ana. Tadi memang Ana mau membuka ruang kreasi kerena mereka handak ke kantin Rani langsung menghentikan Ana supaya jangan membuka ruangan kreasi dulu, tanpa menceritakan dulu sama Ana. 


Ana hanya mengangguk anggukkan kepala saat ia tahu kalau mawar pasti bakal marah dan kesal sama mereka berdua kerja ruangan itu sengaja tidak dibuka dulu, apa yang Ana pikirkan memang terbukti Mawar marah dan kesal. 


Kalau misal ia membuka ruangan kreasi pasti ruangan kreasi bagaikan kapal pecah kembali, dan rencana mawar gagal untuk menghilangkan semua karya karya anak anak. Ya Ana tidak mau kalau karya anak anak kreatif hilang gara gara Mawar dan teman temanny. 


Setalah selesai sarapan Ana dan Rani menuju kelas, disana mereka mendengar keributan sedangkan teman teman masih belum ke sekolah setelah dilihat Mawar dan kedua temannya yang ribut. 


PLAK


Ana mendekati Mawar dengan tanpa izin gadis itu, tiba tiba dengan kerasnya ia menampar pipi Mawar bebarapa kaki, Rani, Cempaka dan Dahlia hanya bengong saja melihat Ana melakukan tamparan yang maha dasyat di pipi Mawar, sampai Mawar menjerit keras kerana kesakitan. Mawar juga kaget dan shock mendapati Ana yang telah berani menampar wajahnya dengan keras sekali. 


Mawar hendak membalas perilaku Ana  tapi gadis itu kabur dengan cepatnya, Rani menghalangi Mawar untuk mengajar Ana. Mawar menatap wajah Rani dengan tajam, ia merasa kalau Rani memihak pada Ana. 


"Kamu kenapa sih!" Rajuk Mawar. 


"Udah jangan diladeni, sebentar lagi jam masuk!" Cegah Rani menghalangi Mawar. 


"Ngomong aja kamu mihak pada Ana,"ketus Mawar. 

__ADS_1


Gadis itu ingin rasanya mengampar wajah Rani, ya kerena selama ini Rani selalu bantu Ana dalam berbagai hal. Ada rasa iri pada Ana jadi ia hanya ingin menghancurkan Ana. Tapi Rani tidak mau Ana hancur oleh Mawar, ia berpikir kemarin kemarin ia hendak menghancurkan Ana tapi nyatanya sekarang malah kebalikannya. 


"Kalau iya gimana? Kamu marah?" Pancing Rani bertanya pada Mawar. 


Sebenarnya Mawar hendak menampar muka Rani, tapi Cempaka dengan cepat menghalangi Mawar. 


"Kamu lagi apa apaan!" Teriak Mawar. 


Ia langsung melihat Cempaka menghalangi Rani dari tanganya, ia langsung menipiskan tanganya dengan kasar dari tangan Cempaka, Mawar mendorong tubuh Cempaka tapi tidak membuat gadis itu jatuh hanya goyah saja. 


"Mawar! Aku nggak sependapat dengan kamu, kamu benci Ana tapi kenapa harus Rani yang jadi korban, kalau kamu berani lawan Ana!" Bela Cempaka menatap wajah Mawar. 


Sebenarnya yang dikatakan oleh Cempaka benar adanya, dulu mereka hanya ingin menghancurkan Ana bukan Rani tapi setelah Rani bersama Ana malah mawar ingin menghancurkan keduanya itu yang Cempaka yang tidak terima dari Mawar. 


Gadis itu langsung menarik tangan cempaka kesebelah kiri, supaya ia dan mawar berhadapan satu sama lainnya. Tapi cempaka menepiskan tangan Rani, bukan kerena  benci sama Rani. Cempaka hanya ingin Rani dan Mawar berteman lagi. 


Mawar tidak pernah menduga kalau Cempaka mengatakan itu pada Rani, ada rasa sakit dihatinya saat mendengar Cempaka mengatakan itu padanya. Mawar hanya melirik Cempaka saja dan  pandangan matanya langsung menatap Rani yang masih berdiri disana. 


Sedangkan Dahlia hanya diam saja, ia tidak mau ikut campur atas masalah Mawar dan Ana. Sebenarnya Dahlia juga heran kenapa Ananda Rani harus bersatu, ia  hanya melihat saja apa yang dilakukan Mawar pada Rani. 


"Brengsek kamu Ran," Dengus Mawar kesal. 


Tapi tidak  lama kemudian bel masuk terdengar dengan nyaring sekali memberi tahukan pada semua siswa untuk belajar di kelas masing masing, akhirnya Mawar langsung duduk di kursinya begitu juga dengan Rani, Cempaka dan Dahlia. Ya jam pertama mereka ada mapel IPA, kelas Rani hari itu full belajar dan ini yang membuat Mawar kecewa dan frustasi. 

__ADS_1


Sedangkan kelas Ana full tidak belajar kebalikan dari kelas Rani. Ana dengan tenangnya mengerjakan apa yang harus dikerjakan kerja biarpun ia bekerja sendiri itu lebih baik dari lada harus diaganggu oleh mawar dan kedua temannya. 


PLAK 


Ana dengan kekuatan tinggi langsung menghantamkan kayu yang dipegangnya untuk memukul tubuh Mawar dengan kerasnya. Gadis itu yang tidak menyangka langsung meraung kesakitan yang sangat akibat pukulan yang keras menimpah tubuhnya. 


Mawar waktu itu sendirian Ana tidak tahu kemana teman Mawar yang dua lagi, Mawar yang tahu Ana yang memukulnya  langsung menatap wajah Ana tajam sekali, ada bara api yang bersinar di wajah Mawar. 


"Na!" Teriak Mawar. 


"Apa? Kamu yang duluan bikin aku marah jangan salahkan Ana kalau Ana bakal melakukan apa pun juga!" Ujar Ana berapai api menatap Mawar. 


Sejujurnya ia merasa takut kalau Mawar membala kelakuannya, apalagi di sekolah hanya mereka berdua kalau misal terjadi apa apa kemungkin besar orang tidak bakal tahu. Hatinya bergemuruh dengan keras sekali apalagi saat menatap wajah Mawar yang merah padam menahan gejolak perasannya. 


Sreeet! 


Tanpa Ana duga sama sekali Mawar dengan spontannya langsung melempar kerikil yang ada di hadapannya, Ana yang tidak menyadari itu langsung memejamkan matanya. Ada perih dimatanya tapi Ana langsung memukul Mawar dengan mengunakan kayu yang masih ada ditangannya. 


Mawar melolong seketika juga dengan kerasnya, pipinya yang kena, hampir kena matanya. Ia meraung kesakitan kerena Ana menghantamnya kuat sekali. 


( Saya bersyukur hidup di jaman 2001-2002, kalau misal saya hidup di jaman sekarang pasti HAM bakal bicara kerena ada penyiksaan terhadap teman. Kalau dulu kan orang tua jarang ada yang melaporkan kenakalan teman anaknya  yang nakal pada anaknya, atau guru yang dilaporkan kerena memukul muridnya. Orang tua jaman dulu paling menganggap kenakalan remaja itu hal biasa, kalau sekarang tidak sama kali ). 


Mawar akhirnya pulang dengan badan sakit semuanya, begitu juga Ana yang mengunakan sepeda untuk pulang. Sampai di rumah ia tidak menceritakan apa apa pada orang tuanya, ( dulu bukan takut di marahin sama orang lain, takutnya sama orang tua ). 

__ADS_1


Sepulang sekolah Ana kebiasaan di kamar dan kedua orang tuanya tidak curiga sama sekali, kalau anaknya yang mereka cintai telah memukul anak orang dan membuat Mawar terluka. Dan orang tua Mawar juga tidak pernah mengungkapkan pemukulan terhadap putrinya😊. 


__ADS_2