
Aaaahhhh!
Ana berteriak keras, ia tidak menyangka waktu memasukan tasnya tiba tiba ribuan kecoa berterbangan dihadapannya ya. Ia shock melihat semuanya, teman teman yang lain tertawa apalagi Mawar.
Melihat itu Ana langsung memukul Mawar.
"Sakit tahu!"
"Kamu jahat!" Tekan Ana kesal.
"Kamu sebenarnya takut'kan sama kecoa, tapi kenapa dulu kamu menakuti ibu Ratih dengan kecoa?" Balas Mawar tersenyum licik.
Ana langsung terdiam seketika, ia tidak menyangka kalau Mawar tahu kelemahan dirinya. ( Saya dari kecil memang takut dan jiji sama kecoa, waktu SD dan SMP kalau lihat kecoa langsung lari dan menangis. Tapi seiring waktu berjalan ciele saya berusaha menahan rasa takut saya melihat kecoa. Sampai sekarang kalau lihat kecoa pasti kaget cuma tidak lari lagi😂😂😂, malah dimainin aja atau di usir.
Biarpun saya geli lihat kecoa, tapi saya berusaha mempelajari tentang mahluk itu, dan alhamdulillah rasa takut ke kecoa berangsur hilang, tidak seperti dulu lagi. Bisa menguasi diri, tapi kalau suruh bersihin gudang atau apa paling pikirannya bukan apa apa, hanya kecoa ).
Ana langsung lari terbirit birit ketakutan, ya memang sejak kecil ia takut sama binatang itu entah kenapa, kalau waktu SD dan SMP sampai menangis takut sama kecoa, kalau sekarang masih bisa ditahan takutnya tadi hanya kaget saja.
Rani hanya melonggo saja melihat Ana lari terbirit birit ketakutan seperti itu, ia tidak menyangka kalau gadis berkacamata itu punya kelemahan yaitu takut sama kecoa. Kalau dirinya nggak sih takut sama kecoa, uang ia takuti adalah tikus, dan ulet. Kalau mendengar kata tikus dan ulet ia merasa merinding banget.
Rani hanya tersenyum saja.
"Kamu jangan gitu Mawar, kasihan!" Ingat Rani.
"Dia juga gitu sama ibu Ratih."
"Jangan dendam!"
"Siapa yang dendam?" Elak Rani..
Gadis itu langsung menyusul Ana, ia menduga pasti Ana di ruang perpustakaan atau ruangan kreasi. Benar dugaannya, Ana berada di perpustakaan.
Ya Ana lari ke perpustakaan, ia begitu anteng melihat ibu Elis dengan segala aktifitasnya. Terdengar pertanyaan pertanyaan yang terlontar dari mulut Ana, untuk ibu Elis.
"Bu, memangnya perlu kertas ini buat perpustakaan?" Tanya Ana sambil menunjukan kertas yang dipengang Ana.
"Perlu banget Ana?" Jawab ibu Elis tersenyum.
"Untuk?"
__ADS_1
"Untuk mencari buku di perpustakaan, jadi dengan kartu ini para siswa siswi maupun guru kalau butuh buku ya harus ke lemari katalog," terang ibu Elis tersenyum.
Ia sebenarnya senang Ana banyak bertanya tentang apa saja, ya biarpun pertanyaan diluar pelajaran yang diajarkan.
"Biar nggak ngajak ngajak buku ya Bu," kata Ana jujur.
"Ya salah satunya gitu, jangan diacak acak," senyum wanita manja itu.
"Yaelah ibu menyindir banget."
"Bu, ini nantinya disimpan dimana?"
"Di lemari katalog,"
( Saya tidak tahu kalau suatu waktu saya bakal mengalami seperti ini Elis, sebagai pengelola perpustakaan, hehehe kaya mimpi yang tidak mungkin terjadi tapi ini nyata banget tahu ).
Ana hanya mengangguk angguk kepalanya, ya biarpun ia sama sekali belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang ibu Elis kerjakan.
( Jujur saya salut sama beliau, sampai sekarang juga, saya muridnya tapi tanpa beliau mengenalkan pertama kali tidak mungkin saya mengetahui semuanya tentang ilmu perpustakaan, tanpa disadari ibu Elis lah yang mengajari saya waktu itu. Jadi kangen sama beliau ).
"Na, ayo!"
"Apa apaan sih!"
"Kita harus bikin perhitungan dengan Mawar!" Teriak Rani.
Terlambat.
"Perhitungan apa?" Tanya ibu Elis menatap keduanya heran.
"Nggak bu, Rani pengen perhitungan uang arisan," elak Ana berdusta.
Ibu Elis langsung mengangguk mendengar apa yang Ana omongkan. Akhirnya kedua siswi SMU itu keluar dari perpustakaan dsn menuju ruang kreasi.
"Aneh! Aku nggak ngerti kenapa anak itu tahu ya?" Tanya Ana seperti pada dirinya.
"Mawar?" Tanya Rani.
"Iya, siapa lagi?" Sengaja Ana kesal..
__ADS_1
Ana tidak menyangka kalau mawar tahu kelemahanya, ia tidak tahu kaku ada siswi kelas 1 SMU yang tahu yang tahu kalau ia sendiri takut ke kecoa yaitu Puspita. Yupz! Puspita Efditasari, SMU nya bareng sama mbaknya di SMU itu. Ana tidak tahu kalau mawar mencari informasi dari adiknya sendiri🤦🤦.
Ya kemarin Mawar mendengar percakapan Puspita adiknya Ana dengan temannya.
" Iya mbak Ana takut sama kecoa," Puspita menjelaskan pada temanya..
"Nggak sangka kalau mbak kamu takut pada kecoa," tawa teman nya Ita lucu.
Tanpa disadari oleh Puspita dan temannya, Mawar dsn kedua temannya hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Puspita, akhirnya Mawar ada ide jail sama Ana. Dengan batuan kedua temannya ia pagi lagi langsung berangkat ke sekolah dan memasukan kecoa ke bawah meja..
Dan otomatis saat Ana menyimpan tas, kecoa kecoa itu langsung merayap ke tangan Ana, Ana yang tidak menduga langsung lari dan sampai sekarang masih di ruang kreasi bersama Rani.
Rani hanya diam saja kerena ia juga Sama sekali tidak tahu siap orang yang menakut nakuti Ana dengan kecoa yang dibawanya. Sejak kejadian itu Ana berusaha untuk bertahan supaya tidak takut sama kecoa, kalau ia tetap takut saja pasti banyak orang yang menakuti dirinya dengan kecoa.
"Ran, aku bakal buktikan kalau aku nggak tahun kecoa lagi!" Tekad Ana.
( Yupz sejak kejadian itu dan ada tekad kuat, akhirnya saya berhasil untuk tidak takut pada kecoa, jadi kalau ada orang yang menakuti sama kecoa saya hanya bersikap tenang saja, supaya tidak ketahuan ).
"Harus itu,Na. Masalahnya kalau kita takut sesuatu, orang lain bakal menakuti dengan hewan itu juga." Jelas Rani.
"Oke!"
Ana hanya mengangguk, apa yang dikatakan Rani benar sekali kalau misalkan ia hanya diam dan tidak berusaha bakal jadi bumerang buat dirinya sendiri. Ana dan Rani akhirnya menuju kelas 3, kerena bel pergantian jam telah berbunyi. Apalagi sekarang pelajaran ibu Elis mapel sosiologi.
Mereka akhirnya berjalan menyusul ibu Elis yang akan menuju kelas 3, akhirnya ketiganya berjalan bersama ke kelas 3.
"Ana, kenapa?" Tanya ibu Elis setelah selesai mengajar dikelas Ana..
"Nggak apa apa kok Bu?"
"Pasti keingetan kecoa tuh!" Goda Mawar tersenyum sinis.
"Makanya jadi orang itu jangan belagu, dirinya juga takut eh malah berani benarani nakutin ibu Ratih!" Dengus Mawar kesal.
Ana mengepalkan tangannya kerena kesal, kalau saja tidak ada ibu Elis mungkin Mawar sudah dijadikan dendeng oleh dirinya. Kerena ada ibu Elis akhirnya Ana hanya diam saja.
Ibu Elis menepuk bahu Ana dengan lembut, dsn melirik Mawar..
"Kalian yang akur, sebentar lagi kalian lulus masa harus musuhan?" Ujar ibu Elis tersenyum.
__ADS_1
Ibu Elis langsung meninggalkan muridnya dan masuk ke perpustakaan, sedangkan Ana dan teman teman melanjutkan belajarnya kerena pelajaran terakhir adalah mapel akuntansi*