Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 113


__ADS_3

PLAK!


Dengan kerasnya Ana langsung menampar muka Ria, ia sebenarnya kemarin kemarin sudah menahan perasaannya untuk tidak memukul wajah Ria dengan kerasnya. Gadis itu langsung berteriak kerena pukulan Ana mengenai mata. Gadis itu menjerit histeris kerena biji matanya terasa panas dan sakit, Ana menetap puas sekali saat ia melihat Ria kesakitan seperti itu, Ria langsung memengang bola matanya yang berdenyut, dan melihat Ana dengan tatapan beringas ke arah Ana. Tapi gadis yang awalnya tidak mengunakan kerudung itu langsung waspada, kerena ia nyakin kalau Ria bukan melawan tapi hanya melempiaskan kekesalannya pada Ana.


"Kamu harus hati hati dengan Dia cewek jadi jadian, kayanya dari dalam rahim pengen jadi cowok tapi keluar malah ada apem nya," dengan Cempaka kemarin waktu Arya menceritakan kejadian di ruangan kapsek.


Ana memukul Ria kerena gadis itu mengacak ngacak ruangan kreasi, segala yang ada di ruangan itu oleh Ria diacak sampai sapu di patahkan begitu saja oleh Ria. Ana yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Ria dan tanpa segan segan ia menampar muka Ria dengan ganasnya. Bukan sekali dua kali ia mukul Ria, tapi beberapa kali sampai bola mata Ria di tinjunya sampai gadis jadi jadian itu menjerit seketika juga menahan sakit yang luar biasa di matanya.


Tapi Ria tidak kapok juga, ia masih bisa menyerang Ana, ia membabi buta langsung menampar pipinya Ana dengan kerasnya menarik kerudung yang Ana pakai. Melihat perlawanan Ria, Ana tidak tinggal diam dengan beraninya ia melawan Ria yang sedang mengamuk.


Ana yang merasa Ria melawan secara normal akhirnya memberikan perlawanan. yang sengit pada gadis itu! Sebenarnya Ana sama sekali tidak menyangka kalau di ruangan itu ada Ria.


Gadis berkacamata berpikir kalau yang ada di ruangan kreasi adalah Mawar tapi setelah di dekatinya bukan Mawar tapi Ria yang membuang semuanya barang barang yang ada di ruang kreasi, sebenarnya tadi ia ke perpustakaan sedang bantuin ibu Elis membereskan buku yang acak acakan. Tapi setelah membereskan perpustakaan, ia dikejutkan dengan kertas dan barang barang yang ada di ruang kreasi meluncur begitu saja keluar.


Ya ruang kreasi dan ruangan perpustakaan dekat sekali, pinggirnya ruang perpustakaan hanya beda gedung saja. Melihat itu Ana langsung menyusul ke ruang kreasi ingin tahu apa yang terjadi, tidak tahunya disana ada Riang yang sedang mengobrak abrik ruangan itu!


Melihat itu semuanya darah Ana langsung naik ke atas ubun ubun. Sedangkan Ria masih tidak menyadari kalau Ana telah tiba di lokasi, Aan langsung menghampiri Ria yang mengacak ruangan itu. Tanpa ampun lagi Ana memukul bahu Dia dengan kerasnya sampai gadis itu kaget dan melihat ke belakang, mata Ria terbelalak melihat Ana yang ada di belakangnya, tapi sebelum hilang rasa terkejutnya ada menghantam pipi Ria dengan beberapa pukulan yang langsung mengenai pipi gadis itu.

__ADS_1


Ya darah Ana mendidih sangat kuat, kerena ruangan yang telah ia bersihkan menjadi kacau balau seperti kapal pecah akhirnya tanpa pikir panjang lagi ia menarik tangan Ria dan menatap wajah Ria dengan tajamnya, dengan emosi Ana langsung melayangkan tanganya kearah pipi Ria dengan keras sekali sampai pemilik pipi itu menjerit kesakitan saat tangan Ana mendarat tepat di bibi dan matanya Ria.


Ria menjerit histeris kerena kesakitan di pipinya dan terasa panas sekali akibat tang Ana. Dengan tanpa ampun gadis berkacamata mendorong tubuh Ria, otomatis tubuh Ria terbentuk dengan kerasnya ke lantai sekali lagi gadis itu berteriak dengan kuatnya. Ria belum sama sekali melawan Ana, ia sama sekali belum siapa melawan keenam terjangan gadis berkacamata itu sangat tiba tiba dan membuat dirinya kelimpungan.


Teman teman yang berada di di sekolah yang mendengar teriakan Ria langsung berlari menuju ruangan kreasi ingin tahu apa yang terjadi, setelah tahu dan melihat adegan Ria dan Ana, salah seorang memanggil pak Salwa. pak Salwa yang mendengar kejadian itu langsung membawa Ana dan Ria ke ruangan guru.


"Dia duluan pak!" bela Ria menunjuk pada Ana.


"Nggak, Ana lihat Ria ngacak ngacak ruangan kreasi, buat apa kamu lakukan itu?" tanya Ana menatap wajah Ria tajam.


Mendengar apa yang Ana katakan Ria akhirnya diam seketika juga, ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana sendiri. Pak Salwa akhirnya meminta Ana menceritakan apa yang terjadi pada ruangan kreasi.


"Ria bapak nggak ngerti maksud kamu itu bagaimana? Dan apa maksud kamu seperti ini." tatap pak Salwa tajam..


Gadis yang diajak bicara hanya menundukkan kepalanya saja mendengar apa yang pak Salwa katak. Ia sama tidak fokus mendengarkan apa yang dibicarakan oleh pak Salwa.


"Sekarang kamu bereskan ruangan itu sekarang juga!" teriak pak Salwa membuat Ana dan Ria ketakutan.

__ADS_1


Ya biarpun Ana tidak melakukan kerusakan apapun ia otomatis ketakutan membuat Ria yang babak belur oleh dirinya. Akhirnya Ria mau tidak mau membereskan ruang kreasi dengan setengah hatinya, mungkin kalau tidak ada perintah dari pak Salwa ia tidak akan mau membersihkan ruangan itu dengan baik.


Sedangkan Ana langsung ke perpustakaan di sana ia hanya diam mematung saja, kerudung yang telah terlepas di pakai kembali. Ia menghela nafas panjang mengingat kejadian tadi. Rani yang melihat Ana ke ruangan perpustakaan langsung menghampiri gadis berkacamata itu.


"Sudah jangan dipikirkan, Ria benar benar kebangetan." kata Rani mengusap tangan Ana.


"Kenapa sih ia begitu? Ana nggak ngerti sama pikiran dirinya?" Dengus Ana pada Rani..


"Cinta yang seharusnya nggak pernah terjadi tapi harus terjadi, cemburu nggak pada tempatnya," dengus Ana kembali.


"Sudah orang seperti itu nggak mungkin bisa bertahan." ujar Rani lembut.


Ana hanya mengangguk mengiyakan apa yang Rani katakan sama dirinya. Tapi ia harus bisa mengatasi semuanya kerena pasti peristiwa seperti ini bakal terjadi kembali dimasa mendatang.


"Jangan hiraukan yang penting kita melakukan apanyang kita anggap baik saja, biarkan dia seperti itu," Rani menatap Ana.


"Ran, sejujurnya kasihan sih seperti itu, kerena bagaiaman pun itu penyakit. Dsn aku takut kalau ia memakan korban," ujar Ana berpikir panjang.

__ADS_1


"Sudah, jangan mikirin dirinya. Ya sih apa yang di katakan kamu Na, tapi kita juga nggak bisa melakukan apa apa sih!" kata Rani menghela nafas panjang.


Keduanya diam. Dan selama ini tidak ada pelecehan yang dipenjarakan ya biarpun bentuknya, apalagi pelecehan yang menopang seperti itu.*


__ADS_2