
Satu Minggu Rani tudks sekolah, dan ada sesuatu yang hilang dalam pikiran Ana. Sedangkan teman teman Rani yang lain tidak pernah peduli pada Ana, mereka juga biasa saja. Kalau Ana beberapa kali menanyakan Rani tapi mereka hanya diam saja. Satu keanehan yang dirasakan oleh Ana teman teman Rani apa tidak.mwncari Rani?
Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan dalam hatinya tidak mampu menjawab pertanyaan dirinya sendiri. Ana hanya bisa menggaruk kepala tanpa rasa gatal. Tapi ia menjalani hari hari nya dengan membaca dan menulis ya biarpun tanpa gangguan Rani rasanya hampa sekali. Rani yang sellau bikin kesal, geram kini seperti hilang.
Waktu seminggu lamanya ia tidak melihat Rani, mau menanyakan pada teman teman nya tidak berani bertanya masalahnya kemarin tanya juga mereka cuek dan malah membuang muka daripada bikin masalah lebih baik ia menghindar saja.
Pulang mau pun pergi juga tanpa dihadang oleh Rani seperti ada sesuatu yang hilang, sering diganggu malah sekarang tidak diganggu seperti ada sesuatu yang hilang. Ana hanya bisa menghela nafas saja.
"Mawar nggak tahu kok kalau aku suka menulis. Jadi aku itu sama kamu yang begitu ulet menulis dsn teman teman juga ngobrolin kamu di kantin dsn di kelas, sedangkan aku?" kata kata Rani terhiang di telinga Ana..
Ia tidak menyangka kalau banyak siswa yang bilang kalau Ana suka.menulis..Ana tidak menyangka kalau saja Rani tidak bilang apa apa pada dirinya kalau semua orang bercerita tentang dirinya. Ia hanya gadis biasa saja tidak.mungkin ada yang bicara kalau ia suka menulis.
"Aku nggak bohong Na, salah satu nya ibu Elis yang tahu itu. Aku iri sama kamu kerena kamu akrab juga dengan ibu Elis dan ibu Elis berusaha membuat kamu terkenal," kata Rani waktu itu.
Ya biarpun Ana tidak pernah diberikan kesempatan bicara oleh Rani, tapi ia mendapatkan keluh kesah Rani lada dirinya. Dan Ana merasa nyakin kalau Rani tudks sekolah ada hubungan dengan ceritanya..Itu yang jadi patokan Ana sekarang, apalagi genknya juga tidak tahu apa yang Rani inginkan mungkin itu lah jadi memicu Rani membenci dirinya.
Jadi Ana tidak mau gegabah sebelum Rani menceritakan semuanya lada Mawar den teman temannya.
"Aku nggak cerita kepada mereka kerena aku tahu mereka nggak mungkin bisa menerima aku, Na." ungkap Rani.
__ADS_1
"Jadi aku nggak bisa cerita banyak lada mereka, takut mereka juga tidak pernah menganggap aku ada, seperti aku pada kamu."
Ana hanya bisa.mwnganggik anggukan kepala saja. Kalau itu ceritanya ketakutan Rani pada teman temannya seperti ia dulu takut kalau banyak teman teman yang tudks.menyukai tapi nyatanya mereka suka. Jadi Ana merasa enjoy sekali, saat teman teman tau semuanya malah sebagian memang terang terang mendukung, ada yang cuek, biasa saja, maupun tidak pernah peduli.
Tapi itu hanya ketakutan dirinya, kenyataannya biasa saja. Jadi Ana sekarang mengerti apa yang dialami oleh Rani hampir sama pada dirinya waktu SMP.
Ketakutan yang tudks beralasan. Ana pun tidak cerita apa apa pada Mawar dsn dua temannya. Ana hanya melakukan kegiatan yang selalu ia kerjakan di sekolah. Lebih banyak di perpustakaan sedangkan Mawar dsn dia temannya entah pergi kemana, ia tidak pernah memikirkan sama sekali mereka mau kemana juga yang penting untuk saat ini ia aman dari gangguan mereka.ya mungkin seminggu atau untuk selamanya.
🐝
"Rani!"
Keheningan di pagi hari harus pecah oleh teriakan Ana. Gadis berkacamata itu mendelik saat seorang gadis mengambil kertas yang ia tulis tanpa menunggu waktu lagi gadis itu langsung melempar kertas itu kelantai begitu saja.
Tanpa ba bi bu lagi Rani pergi begitu saja dihadapan Ana, Ana hanya mengenal nafas kasar.
"Disangka mau berubah tidak tahunya malah nggak berubah," Dengus Ana kesal.
Ia langsung mengambil kertas yang telah dilempar oleh Rani. Untung juga gadis itu tudks menyobeknya kalau menyobeknya bisa gawat. Ana hanya mwngelangkan kepala melihat Rani seperti itu lagi padanya.
__ADS_1
Pagi itu memang Ana datang lebih awal dari biasanya. Jam 06.30 sudah ada di sekolah niatnya ingin membuat cerpen apalagi kalau di pagi hari ide nya selalu muncul bagaikan air yang mengalir. ia mengunakan waktu itu untu menulis di sekolah sebelum pelajaran dimulai.
Ana ke sekolahnya naik sepeda kembali kerena kemarin kemarin ia jalan kaki tapi sekarang mengunakan sepeda. Sampai di sekolah hari masih pagi dan udara pagi itu teramat sejuk sekali, kerena kemarin malam hujan dengan deras mengguyur jadi sinar mentari pagi tidak begitu terik. Malah terkesan lembut sekali sinarnya, ditambah lagi nyanyian burung pagi yang merdu menambah ramai nya sekolah..
Anak anak juga belum semuanya masuk ke sekolah kerena pagi masih ranum. Akhirnya kerena hari masih pagi, perpustakaan juga masih tutup kerena ibu Elis belum datang. Ana mengunakan waktu itu dengan menulis puisi dan membuat cerpen mini.
Tapi keheningan pagi hari terusik saat terdengar teriakan Ana yang membelah keheningan pagi itu, untuk tidak banyak siswa yang masuk ke delapan kelas. Jadi teriakan itu hanya terdengar oleh Ana dan Rani, Rani yang menatap Ana pergi begitu saja. Sedangkan Ana hanya mengelangkan kepala saja saat matanya tidak menangkap sosok tubuh Rani kembali. Rani telah masuk ke dalam kelasnya, sedangkan Ana tahu kelas Rani yang berada disamping kelasnya juga masih kosong.
Ana akhirnya duduk kembali di kursi sambil memikirkan Rani, disisi lain yang sama sebenarnya Rani juga sedang memikirkan Ana yang berada di kelasnya.
Rani masih ingat tatapan mata gadis berkacamata itu! Tatapan penuh misteri Menato kearahnya, ia masih ingat kejadian waktu ibu Elis menyuruh dirinya.mwnganti cerpen cerpen yang dibuat oleh Ana. Dan siangnya ia mencegat Ana ditempat biasa, dan mereka duduk berdampingan satu sama lainnya, tanpa Ana bicara apa apa, ia yang bicara tudks hentinya. Setelah ia bicara panjang kaki lebar, tanpa menunggu Ana bicara apa apa ia meninggalkan Ana begitu saja.
Dan pagi ini pertama kali Rani sekolah kembali dan menemukan Ana menulis Sepri biasanya. Ada kerinduan saat melihat Ana menulis, rindu menganggu gadis berkacamata itu.
"Hai malah melamun! Ayam ku juga melamun malah mati," Mawar mengangetkan Rani.
"Ran, waktu seminggu kamu nggak sekolah tuh si Ana nyari kamu," ujar Cempaka memberi tahukan pada Rani.
Belum juga Rani menjawab pertanyaan Mawar, tiba tiba Cempaka memberitahukan sesuatu. Rani langsung menatap wajah Cempaka hanya ingin tahu, kenal Ana harus mencari nya?
__ADS_1
"Ana?"
Cempaka dan Mawar mengangguk, tapi mereka menggelengkan kepala tanda tidak tahu apa yang dilakukan Ana mencari Rani. ia hanya menghela nafas panjang saat melihat gelengan kepala temannya,*