Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 12


__ADS_3

Kehidupan di kampung hanya datar star aja menurut Ana. Apalagi ia seorang gadis rumahan yang betah cuma rebahan di kamar, yupz! Kamar adalah tempat yang istimewa atau bisa di jadikan tempat nongkrong buat dirinya. Sehari hari yang ia lakukan adalah membaca buku atau membaca tulisan tangan yang berupa cerpen, puisi dan novel sendiri.


Keheningan dan kenyamanan Ana terhentak oleh teriakan yang menyayat hati, dan suara seperti badan di benturkan di dinding rumah. Ia yang ada di kamar yang sedang menulis tangan langsung berlari ke ruangan makan. Terlihat pak Mamat menangis sambi membenturkan badannya ke tembok sedangkan istrinya ibu Tri berteriak melarang suaminya melakukan itu.


"Pak!" panggil ke tiga anaknya yang tiba tiba melihat sebuah pemandangan itu. Kerena anak kedua ibu Tri dan pak Mamat yaitu Puspita tidak tahu peristiwa itu! Kerena ia sedang kuliah di Rangkas mengambil jurusan kebidanan.


Ibu Tri yang melihat keempatnya langsung menatap anak pertamanya dengan perasaan yang membuncah. Antara sedih, perih, yang dirasakan nya.


''Ini gara gara kamu Ana!" teriak ibu Tri menyalahkan anak pertamanya.


Ana dan ketiga adiknya melonggo mendengar teriakan ibu Tri dan menuduh Ana yang tidak tahu apa apa.


"Bu, kok! Ana?" tanya nya menatap ibu.


Bapak yang melihat tiga anaknya menghentikan aksinya dan ia duduk bersila di dekat ruangan mushola. Melihat bapaknya menghentikan aksinya ketiga anaknya menghampiri bapak dengan tatapan heran dsn bertanya tanya pada diri sendiri.


"Pak, kenapa? Kok bapak kaya gini kerena Ana?" tanya nya kembali menatap bapak..


"Na, jawab apa yang salah saat bapak meminta kamu untuk jadi PNS, bapak mengharapkan kehidupan Ana lebih baik lagi." tatap pak Mamat lembut.


"Bapak melakukan ini kerena gagal menjadi bapak yang baik buat Ana. Dan Ana perlu tahu kenapa bapak melakukan seperti tadi, kerena bapak melihat dari koran pengumuman kelulusan CPNS. Semua guru bantu lulus sebagai CPNS tanpa kecuali. Banten membutuhkan 10.000 orang CPNS tapi yang masuk 100.000 CPNS, kalau saja Ana menurut mungkin Ana sekarang jadi PNS." lanjut pak Mamat menjelaskan.


Semua hening tidak kecuali Ana. Bhakti dan Yuliet hanya diam sja mendengarkan semua yang bapak nya jelaskan kadang mata mereka melirik wajah mbaknya yang ikut ikutan diam kerena bapak bicara panjang lebar.


"Maafkan bapak, kerena bapak bukan bapak yang baik buat Ana. Tapi ingat Ana jangan menyesali keputusan Ana untuk tidak.kuliah, maupun jadi CPNS," ujar pak Mamat beranjak dari duduk nya dan meninggalkan anak istrinya di ruang makan.

__ADS_1


Melihat pak Mamat pergi begitu saja Ana hanya menghela nafas,'Ana nggak akan menyesal, pak.' bisik Ana dalam hati.


( Saya baru menyadari kalau bapak benar benar menuntun saya ke jalan yang benar, tapi saya memilih jalan sendiri, ini baru terungkap saat saya benar benar mengejar CPNS / ASN 2019 sebagai PNS tenanga pendidik, ada sedikit penyesalan saya kenapa tidak mengikuti apa yang bapak perintahkan, tapi penyesalan sekarang tidak ada gunanya sama sekali🤦.


Apalagi melihat kedua adiknya, Puspita dan suami nya Puspita Alhamdulillah telah jadi PNS kebidanan dan perawat, hati saya beru terbuka PNS bukan hanya guru, banyak profesi lainnya yang harus jadi PNS🤦 ).


"Mbak sih! nggak nurut sama bapak!" sembur Yuliet terlihat kesal.


Gadis umur 15 tahun itu langsung pergi begitu saja, wajahnya benar-benar di tekuk sedemikian rupanya.


Sedangkan Bhakti hanya diam saja, cowok yang akan menamatkan SMU hanya memiliki dan mengusap tangan mbaknya tanpa berkata kata lagi ia pun meninggalkan tempat itu. Sedangkan Ana dan ibunya masih duduk di tempat semula.


"Ibu nggak mau mendengar Ana menyesal atas keputusan Ana sendiri, ibu hanya mendoakan Ana semoga apa yang Ana cita citakan menjadi terkabul dan berkah,"


Sebelum menutup pintu, tiba tiba Yuliet menghampiri mbaknya. Ana membiarkan adik bungsunya masuk ke dalam kamar.


"Mbak kalau Iyet jadi mbak Ana, Iyet bakal mengikuti apa yang di perintahkan bapak." kata Yuliet menohok hati Ana.


Yuliet Swastanti Astuti, panggilan nya adalah Iyet yang sekarang berusia 15 tahun dan akan naik ke kelas 2 SMU tempat mbaknya sekolah. Ya keempat anaknya bapak dari anak pertama sampai bungsu sekolah dia sekolah yang sama hanya beda angkatan saja.


"Dek, kalau mbak mengikuti keinginan bapak takutnya mbak gagal meraih cita cita mbak, de." bela Ana..


"Tapi nyatanya sekarang apa yang mbak buat? Sampai kapan mbak bertahan sebagai penulis hanya mimpi saja!" sembur Yuliet agak marah.


"De!" jerit Ana.

__ADS_1


"Kaku mbak Ita tahu pasti mbak Ita marah sama mbak," pojok Iyet menyebut mbak nya yang satu lagi.


Puspita panggilannya Ita yang sekarang sedang belajar di Rangkas, untuk jadi bidan. Awalnya Ita pernah kuliah di Untirta mengambil jurusan komunikasi, tapi baru satu tahun kuliah ada program kebidanan mencari para lulusan SMU. Bapak malah menyuruh Ita untuk masuk ke Untirta, kerena alasan yang tepat.


Ita pun mengikuti arahan bapak untuk jadi bidan, kerena waktu itu bidan masih langka sekali.


Mendengar Iyet mengatakan itu Ana hanya diam saja, ia tidak membalas perkataan adik bungsunya.


"De, kalau udah ngomongnya lebih baik kamu keluar dari kamar mbak." usir Ana halus.


Mendengar itu Yuliet lanhsung pergi begitu saja dari kamar mbaknya, sedangkan Ana langsung menutup pintu dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan perasaan yang tidak menentu sama sekali.


Hatinya hanya ada sebuah ketakutan. Ketakutan terbesar adalah tidak bisa menjadi penulis, jadi apa yang dipikirkan Ana sebenarnya salah besar.


( Saya sebenarnya dari awal tidak menyukai pendidikan Formal banyak aturan yang harus di gunakan tapi selalu di ingkari. Kedua ketakutan takut tidak fokus menulis, kenyataannya menulis adalah mengisi waktu luang yang terbuang. Dan saya sekarang sebagai tenaga pendidik alhamdulillah masih fokus pada menulis dan membaca😊 ).


Kalau saja Ana berpikir panjang tidak bakal seperti ini ceritanya, ia hanya lebih fokus pada cita cita tanpa ada perbuatan sama sekali. Iya ingin jadi penulis sedangkan fasilitas di rumah tidak pernah mendukung sama sekali.


"Jangan putus asa, kejarlah apanyang kau cita citakan." kata pak Mamat saat mendengar keluhan Ana.


Ya tidsk.mwbgeluh bagaimana, ia ingin meraih keinginan tapi keinginan itu selalu berbenturan dengan keadaannya saja. Ia tidak memungkinkan untuk diraihnya.


"Semangat!" teriak pak Mamat merangkul pundak putrinya lembut.


Ia merasa iba melihat Ana terlihat pesimis sekali mengejar apa yang diinginkan nya. Jadi sebagai orang tua ia hanya ingin melihat putrinya bahagia.*

__ADS_1


__ADS_2