
PLAK!
Ana dengan tiba tiba melayangkan tangan kearah wajah Irma ( samaran ) dengan kerasnya sampai gadis yang ada di depan nya langsung berteriak histeris sambil memengang pipi yang terasa panas dan sakit sekali, Irna sama sekali tidak menduga kalau Ana bakal memukul dirinya dengan kuatnya.
Ana juga sebenarnya memukul Irma spontan saja keren gadis itu tudks ada angin maupun hujan malah merebut buku yang ia tulis, Ana benar benar terusik dengan tingkah laku Irna yang tiba tiba sekali. Sediakan lalu dipikir ia sama sekali tidak punya musuh atau apa. Irma dengan tidsk.merasa bersalah malah menyobek kertas yang ia tulis.
Kertas kertas itu di sobek kecil kecil oleh Irma membuat hati Ana panas kerena itu cerpen yang ia buat dengan sudaha payah malah di pandang sebelah mata begitu saja.
Irma mendelik menatap wajah Ana ia tidak pernah menerima Kalau Ana harus melakukan pukulan lada dirinya, sedangkan Ana dengan tatapan sinis memandang wajah Irma yang menatap tajam kearahnya. Ia waspada pada apa yang bakal dilakukan oleh Irma.
"Gadis singa!" sembur Irma matanya berkilat.
"Kamu yang gadis singa,"balas Ana sengit
Ia tidak menerima kalau Irma mengatakan kalau ia gadis singa, ia melakukan itu hanya pembelaan saja pada apa yang ia lakukan pada Irma. Ya tidak kesal mana coba, waktu sedang buat cerpen tiba tiba buku yang ia tulis direbut oleh Irma lalu di sobek begitu saja otomatis ia marah dan kesal pada Irma.
Ya mungkin kalau menurut Irma tidak penting sebuah cerpen tapi yang susah itu mencari ide harus kelimpungan, sedangkan yang baca enak tinggal baca. Ia sangat tidak sependapat dengan orang orang yang lain menganggap menulis itu gampang tudks tahunya jungkir balik ditambah lagi harus menyelesaikan semuanya.
"Awas aku perhitungkan semuanya!" teriak Irma marah.
Hadi itu langsung mengebrak meja yang ada dihadapan Ana dengan kerasnya, sampai gadis berkacamata itu kaget saat tangan Irma memukulnya dengan keras sekali.
Irma langsung pergi dari kelas Ana. Ana awalnya ingin mengejar Irma tidak jadi kerena bel masuk telah berbunyi memanggil para siswa untuk belajar di kelas masing masing.
Ana tidak mengubris kata kata Irma yang barusan ia menyangkanya itu hanya gertakan Irma saja supaya Ana takut pada dirinya. Hati telah berlalu tapi apa yang diucapkan oleh Irma sama sekali tidak terbukti.
__ADS_1
Tapi seharusnya Ana waspada dengan apa yang bakal dilakukan oleh Irma pada dirinya, di suatu siang yang panas, masih di sekitar sekolah. Tiba tiba...
BUG
PLAK
BUG
PLAK
Pukulan mengenai tubuh Ana, ia langsung melihat siapa orang yang memukul tubuhnya. Irma yang melakukannya, akhirnya An menampar kembali wajah Irma beberapa kali, begitu juga dengan Irma memukul tubuh Ana. Ana akhirnya menerjang tubuh Irma dengan kuat sampai tubuh Irma terjatuh dan tubuhnya juga ikut berguling guling. Setelah terjatuh keduanya bangkit dan Ana langsung memukul wajah Irma dengan kerasnya.
Sebenarnya Ana tadi akan turun ke bawah untuk mencari buah ceri yang ada dibawah dekat kelas 1A. Tapi belum sempat ia mendapatkan buah Ceri tiba tiba sebuah pukulan mengenai tubuh Ana dengan kuatnya, saat melihat kebelakang ia melihat Irma dengan tatapan yang tidak biasa.
Akhirnya Ana memukul balik pada Irma dsn saat tubuh Ana menerjang tubuh Irma tiba tiba keduanya terpelosok ke bawah kerena memang dataran disana tidak rata, keduanya malah masuk ke semak ilalang yang tinggi. Tubuh keduanya saling berguling satu sama lainnya.
Akhirnya ia mengikuti Ana ke bawah dan memukul Ana dengan kayu, tapi gadis itu malah melawan dan akhirnya mereka jatuh ke bawah.
"Gara gara kamu ini!" teriak Irma geram kerena melihat bajunya kotor.
"Kamu yang duluan main pukul segala!" balas Ana.
"Kurang ajar kau!" sengit Irma.
Gadis itu memukul tubuh Ana tapi Ana menghindar dari pukulan Irma, kerena ia memukul angin tiba tiba kakinya terperosok jatuh ke lobang yang tanpa ia sadari. Ana pun kaget melihat Irma jatuh langsung kebawah..Irma berteriak minta tolong, Ana hanya diam saja ia tidak bisa melakukan apa apa. Ditambah sekolah masih sepi..
__ADS_1
Ana langsung berlari ke atas untuk meminta pertolongan, sedangkan Irma berguling dan kakinya terantuk batu yang besar, darah membasahi tanah. Kerena tidak ada orang yang dilihat Ana turun akhirnya menghampiri Irma yang meringis kesakitan.
"Makanya jangan jail jadi orang, kenapa sih kamu seperti ini?" tanya Ana kesal..
Irma hanya diam saja mendengarkan Omelan diri Ana.
"Kalau nggak mau bantu pergi!" teriak Irma sambil mendorong tubuh Ana. Sampai Ana terjungkal jatuh. tapi tudks fatal ia hanya duduk di tanah.
"Irma!" teriak Ana memukul lengan Irma kasar kerena telah mendorong tubuhnya yang tadi jongkok kini jadi duduk di tanah.
"Kamu seharusnya tolong aku bukan ngomel ngomel kaya gitu," Rajuk Irma kesal..
"Nggak ada orang diatas juga jadi nggak bisa menolong kamu, lebih baik tunggu aja teman teman yang lain. Ini kan Pramuka pasti banyak teman datang," hibur Ana..
Mendengar Ana mengatakan itu Irma hanya cemberut saja, kerena masih lama juga kegiatan Pramuka nya juga. Memang benar sekarang Pramuka tapi kalau menunggu mereka datang masih beberapa jam lagi, apalagi ini baru jam 11.30. Irma meringis kerena luka yang sobek begitu dalam dan darahnya biarpun kering.
"Hiks hiks hiks hiks"
Tiba tiba Irma menangis sedangkan Ana hanya menatap begong lada Irma yang menangis. Bukan menolong Ana hanya senyaman senyum mendengar Irma menangis seperi itu. Terdengar lucu juga.
"Kamu malah senyum senyum!" gerak Irma kesal pada Ana.
"Semuanya gara gara kamu, coba kalau awalnya kamu jangan jahat aku pasti juga nggak bakal jahat sama kamu!" hardik Ana kesal..
Irma hanya diam saja ia tidak membalas perkataan Ana, apa yang dikatakan Ana ada benarnya juga. Tapi ia hanya menghela nafas secara kasar mendengar Aan berceloteh seperti itu. Kedua nya akhirnya saling diam satu sama lain, kalau Ana lebih baik mengunakan waktu itu dengan membaca sedangkan Irma masih merasakan sakit dsn perih di dengkul kakinya di sebelah kanan.
__ADS_1
Untuk ditekukan juga tidak bisa sama sekali, kalau sampai terkena tangan sakitnya menggigit tulang, ia hanya bisa.mwrintih kesakitan dan menatap Ana dengan perasan kesal dan gemas sama Ana yang tidak pernah peduli pada keadaan sekitarnya*