Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 69


__ADS_3

Gadis berkacamata itu hanya termenung di depan perpustakaan. Angin pagi hari mengelus rambutnya yang masih belum terikat sempurna. Ia tidak menyangka kalau semuanya bakal terjadi. Tapi ia juga tudks menyalahkan dirinya kerena ia dari awal tidak pernah tahu apa apa.


Apalagi Rani juga tidak pernah menunjukan apa apa pada dirinya, ia hanya menghela nafas panjang mengingat semuanya. Sebuah kejadian yang tidak pernah ia duga sama sekali, kalau mau jujur ia sebenarnya ingin punya teman yang satu profesi dengan dirinya. Tapi malah semuanya hanya dia sia saja, ia tidak.menyangaka kalau Rani harus memiliki pandangan yang sama hanya jalannya saja beda.


Dsn ia juga tudks pernah tahu apa yang Rani inginkan, ya pantas kalau Rani selalu menganggu dirinya kerena ada sesuatu yang ingin Rani inginkan darinya. Ia mengelak nafas panjang lalu dihembuskan kembali. Ia gamang sekali untuk melakukan semuanya, kalau misal ia memilih memang ia akan memilih sih kalau awalnya ia tahu.


Rani juga suka menulis. jadi wajar kalau ia selalu ganggu dirinya kerena Rani tudks ingin melihat Ana sukses kerena Rani juga memiliki keinginan kuat pada dirinya hanya kerena dukungan dan motivasi yang belum didapatkan membuat Rani melakukan perbuatan yang menyalahkan aturan. Dan pelampiasannya dirinya sendiri.


"Mungkin Rani iri sama kamu, kerena kamu punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh Rani," suara Titis terhiang hiang di telinga Ana..


"Kamu bisa menulis puisi, cerpen, sedangkan dia. Bisa jadi ia juga bisa tapi tidak sepertimu, Na." lanjut Titis waktu itu sambil mengusap bahu Ana lembut.


"Aku hanya gadis biasa saja Tis, kalau dibandingkan dengan Rani." Ana merendah.


Memang kalau dibandingkan dirinya, Rani sebenarnya orang yang berada, pulangnya juga pakai motor sedangkan dirinya sendiri paling bawa sepeda, bisa jadi jalan kaki itu masih syukur. Masih untung kalau hati kemarau, kalau hujan ia kadang jalan sendirian pulang kerena teman teman lebih memilih pulang agak sore yang penting menunggu hujan reda.


( Memang kalau dibandingkan saya kehidupan Rani lebih enak pokoknya sempurna banget. Tidak sempurna bagaiamana ia sekolah pakai motor, sedangkan Tahuan 2001 semua murid/siswa tidak ada yang bawa motor sama sekali, kebanyakan jalan kaki atau naik ojeg kalau mau berangkat/pulang cepat.


Jadi heran apa yang dilihat Rani dari saya, saya bukan siapa siapa, kalau mau membandingkan Rani juara kelas dan itu dipertahankan. sampai lulus sekolah, ditambah lagi uang saku yang banyak tidak saya ).


"Rani lebih berprestasi dibandingkan Ana, Tis." tambah Ana.


Apa yang Ana sebutkan pada Titis memang kenyataan yang ada, Rani selalu peringkat saja dari kelas 1 catur wulan 1 sampai 3 Rani peringkat 1 terus. kalau dipikir aneh juga kan kalau sampai ia iri pada seorang Ana?


Dan sekarang Ana baru tahu kalau Rani iri pada dirinya kerena Rani hanya ingin memiliki hak seperti Ana. Ana ingat perkataan Rani lada dirinya

__ADS_1


"Kamu biasa saja tapi kamu punya kelebihan menulis, aku juga punya kelebihan menulis tapi nggak seperti kamu jadi aku sangat itu sama kamu, " tutur Rani waktu ia mencegat Ana di jalan waktu pulang.


"Kamu beruntung punya teman teman kaya Ihah, Titis, dan Yayuk mereka sepertinya mendukung kamu, sedangkan aku?" lanjut Rani sendu.


"Aku nggak mungkin mendapatkan seperti apa yang aku dapatkan Na. Oya, tadi ibu Elis menyuruh aku menanti cerpen cerpen kamu ke aku nanti aku gati cerpen mu," Rani langsung beranjak dari duduk.


Lalu gadis itu langsung meninggalkan Ana yang tidak diberikan kesempatan untuk bicara sepatah katapun oleh Rani. Rani langsung melajukan motornya meninggalakan Ana di tempat itu. Ana hanya menatap kepergian Rani, akhirnya Ana juga meninggalakan tempat itu.


"Apa jangan jangan," pikir Ana.


Tapi gadis itu hanya menepiskan prasangka ya pada teman teman Rani yang selalu bersama. Ia hanya menghela nafas kasar.


Ana masih di depan perpustakaan. Pikiran nya semakin kalut memikirkan apa yang ingin ia lakukan pada Rani sekarang, kerena kemarin siang ia sama sekali tidak diberikan kesempatan buat mengungkapkan kata kata pada Rani, keburu Rani pergi begitu saja.


Dan waktu ia mencari Rani gadis itu tidak diketahuinya pergi kemana, sedangkan teman teman nya masih ada dan sekolah hanya Rani yang menghilang tanpa jejak sama sekali. Akhirnya kerena mencari Rina tidak diketemukan dimana pun juga akhirnya ia duduk di depan perpustakaan di dekat pohon entah namanya. Bunganya bagus sekali, tapi menurut orang pohon itu ada racunnya, tapi Ana hanya menatap pohon dan bunga kuning yang indah.


"Jangan asal nuduh Kaka kamu nggak ada bukti!" ketua Ana menatap wajah Mawar..


"Terus kamu mencari Rani untuk apa? Jangan bilang kamu ada urusan dengan Rani," Mawar berkomentar.


"Ingin tahu urusan orang lain saja," Dengus Ana tudks peduli.


"Ada masalah apa sih kamu dengan Rani, sampai Rani sekarang tidak sekolah dan kamu lagi.mwncati dirinya. Jadi wajar kalau aku curiga sama kamu," Mawar terus mendesak Ana supaya bicara.


Tapi Ana hanya diam saja ia tidak bicara apa apa, ia malah meninggalkan Mawar dan temannya tapi Mawar menghalanginya.

__ADS_1


"Kamu jangan bikin gara gara!" teriak Ana..


"Bilang apa yang kamu cari dari Rani,"


Bukannya menyingkir dari hadapan Ana tapi mawar malah menghalangi jalan Ana.


"Iya Na apa kamu cari Rani ada apa? Bilang saja kami temannya Rani, biar kami.yang bilang sama Rani," kata Cempaka kemudian.


Ana hanya menghela nafas kasar. Ia tudks mungkin mengatakan percakapan yang kemarin pada mereka, kerena Ana masih ingat kata kata Rani sewaktu pergi, Ana nyakin kalau Cempaka, Mawar dan Dahlia tidak tahu apa yang Rani miliki.


"Aku harap kamu jangan ceritakan pada Mawar, Campaka dan Dahlia ya. Kaku sampai mereka tahu aku nyakin itu dari kamu bukan dari aku, "


Suara Rani begitu jelas sekali di telinga dirinya. Rani juga tidak pernah menceritakan alasan kenapa mereka harus tudks tahu, tapi melihat mata Rani yang memohon akhirnya ia hanya mengangguk saja.


Ana langsung menyingkirkan Mawar yang menghalanginya, Ana dengan leluasanya langsung meninggalkan tempat itu, sedangkan Mawar dan dua temannya hanya mengelakkan tangan kearah Ana.


Setalah Ana pergi mereka saling tatap satu sama lainnya.


"Aku nyakin kalau dia menyembunyikan sesuatu dari kita, kita tanya Rani saja." usul cempaka.


"Nggak mungkin Rani menyembunyikan sesuatu dari kita," sanggah Mawar menatap keduanya.


Kerena ia tahu Rani kalau ada apa apa pasti ia bicara kepada dirinya tidak mungkin Rani diam saja pikir Mawar.


"Aku nyakin kalau Ana yang menyembunyikan sesuatu pada kita, Rani hanya pancingan kita saja biar kita penasaran.

__ADS_1


Akhirnya Mawar dan dia dan kedua temannya membubarkan diri dan masuk kedalam kelas.*


__ADS_2