
Hasil pertanian Ana benar benar berkah sekali.
"Pak, Ana ingin kuliah." tiba tiba gadis itu meminta izin untuk kuliah.
Ya Ana sendirilah yang meminta izin kuliah lada bapaknya ketika mereka duduk di teras rumahnya. Pak Mamat yang mendengar Ana mengatakan itu hanya menatap heran, kerena kemarin kemarin ia sendiri yang menolak kalau di suruh kuliah.
"Oke! Ana mau ambil jurusan apa," sambut bapaknya antusias.
"Pertanian, Ana dengar kalau di Pandeglang ada jurusan Pertanian sih," ujar gadis itu menatap wajah bapaknya.
Tanpa di duga sama sekali oleh pak Mamat sebenarnya Ana sudah lama mencari informasi tentang kuliahan, ia.mwndengar kalau ada sebuah Universitas Terbuka yang menjaring anak anak yang lulusan SMU yang ingin kuliah dekat rumahnya kerena UT itu sudah masuk perkampungan.
Ana yang awalnya berpikir kalau kuliah di kota enak malah kini pasrah. Memang kalau kuliah di kota itu enak kerena ia hanya melihat fasilitas yang ada di kota saja, tapi saat dikerjakan sama sekali tidak ada gunanya. Makanya ia ingin kuliah mengambil jurusan pertanian di UT.
UT UT itu telah berdiri di kota Emping Menes, itu paling dekat sih di rumah, ada juga di Cikayas itu daerah Angsana perbatasan dengan Munjul, kalau di Cikayas UT nya hanya ada PGSD saja. Sedangkan ia sama sekali tidak mau mengambil jurusan PGSD seperti teman teman yang lain.
Akhirnya keputusan itu Ana ambil dengan izin pak Mamat dan ibu Tri, kedua orang tuanya bernafas lega sekali kerena putri pertamanya mau kuliah di bidang yang ia sukai. Ana mengatakan itu pada kedua orang tuanya kerena ia pasrah apa yang terjadi pada kehidupannya. Dan ia menyadari kalau semuanya pasti yang terbaik, bukan ingin melupakan niat dan keinginan nya tapi ia hanya ingin fokus pada bidang yang satu yaitu pertanian.
"Ana udah mantap kuliah di pertanian? Lalu setelah kuliah Ana berpikir bagaiamana?" tanya ibu Tri menatap Ana..
"Mantap, Bu. Kalau masalah kerja Ana Pengan kerja sesuai bidang Ana nantinya yaitu jadi penyuluhan pertanian, kan di Teluklada ada tuh penyuluhan penyuluhan masalah pertanian," ungkap Ana pada ibu.
"Kalau itu keinginan Ana ibu nggak bakal memaksa Ana, ikuti apa yang Ana inginkan," nasehat ibu.
Gadi itu mengangguk. Ia bertekad untuk di Menes kerena di menes ada UT Pertanian, ia sudah membanyangkan kalau ia sudah kerja sebegai Sarjana ia bakal mengadakan pertemuan dengan para petani dan cara mengolah pertanian yang baik.
"Ibu cuma bisa berdoa pada Allah semoga apa yang Ana inginkan terkabul." doa ibu.
"Makasih Bu,"
__ADS_1
Ana memeluk tubuh ibu nya dengan erat sekali. ia bahagia sekali punya orang tua seperti mereka yang tidak pernah menuntut dirinya, malah memberikan yang terbaik buat dirinya. Bapak dsn ibu selalu membimbing dsn mengarahkan apa yang Ana inginkan jadi wajar kalau sosok ibu dan bapak selalu dekat dengan keempat anaknya.
"Lalu Khabar Ana menulis bagaimana?" tanya ibu Tri melepaskan pelukan dari tubuh putrinya.
"Ana putuskan menulis itu hanya iseng iseng saja, nggak terlalu penting!" hindar Ana..
Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduk meninggalkan ibunya yang hanya menatap punggung Ana dengan tajam. Ada helaan nafas yang terdengar dari mulutnya, sedangkan Ana sekarang asyik menekuni tanamannya.
Ia menyaingi rumput yang tumbuh di antara tanaman yang ia tanam, bukan itu saja tanganya juga menggunting daun daun yang telah merah atau batang tanaman yang telah patah.
Saking suka pada pertanian yang Ana bat sendiri, gadis itu sering banget makan di tempat pekarangan rumahnya sambil memperhatikan tumbuhan nya.
Ya Allah kalau berikan aku yang terbaik dihadapan Mu, kalau memang jadi novelis yang terbaik tunjukan lah dan dekatkanlah, tapi kalau jadi novelis bukan yang terbaik jauhkan dariku. Hamba ingin kau tunjukan kebaikan itu padaku dan keluargaku, kehidupan yang aku jalani ya Allah. Dan tetapkan hati hamba untuk bidang yang hamba sukai sampai kapanpun juga.
Doa doa kepasrahan Ana selalu diungkapkan dalam setiap ia bersujud dihadapan Allah, ia merasa nyakin kalau Allah bakal memberikan yang terbaik buat hambanya. Biarpun menurut hambanya terburuk tapi kalau menurut Allah yang yang terbaik itu bakal dilakukan nya.
Dan pada tahun itu adalah titik balik Ana.
"Na, Minggu depan nanti ada yang mau kos di ruang ini." kata ibu.
"Ha! siapa?" tanya Ana heran.
"Orang labuan, namanya Anton Purwanto."
"Kaya orang Jawa namanya." celetuk Ana..
"Iya orang jawa." lanjut ibunya.
Ana hanya menghela nafas kasar. Sebenarnya hatinya tidak setuju kalau ada yang kos apalagi laki laki, ia takut kalau laki laki itu nakal atau apalah. Masih untung kalau baik, kalau tidak baik kelakuannya? Tapi gadis itu tidak bisa protes pada ibunya.
__ADS_1
Sebenarnya yang Ana takutkan dari laki laki itu takut kalau tidak ada orang tuanya menganggu dirinya apalagi ibu dan bapak tiap hari harus sekolah. Kadang pulang siang. Tapi perasaan.itu ditepis kan oleh nya.
( hampura kakak, saya pernah berpikir negatif saat kakak datang ke rumah, sebenarnya kedatangan kakak lah yang membuat saya berubah😊 ).
01 Januari 2005, bakda asyar.
Teman pak Mamat yaitu pak Asep Wahyudin membawa dua cowok ke rumah pak Mamat. Setelah terjadi pembicaraan yang lama akhirnya diputuskan kalau Anton Purwanto asal Labuan bakal kos di rumah pak Mamat sedangkan cowok satunya yaitu Agustiar tetap di rumah pak Asep kosnya.
Ana yang menguping pembicaraan hanya diam saja melihat gerak gerik dua cowok yang ada di tiang tamu, dua cowok terlihat berbeda sekali. Satu cowok terlihat selalu bercanda yaitu Agustiar sedangkan Anton orangnya pendiam paling senyum dan senyum mendengarkan percakapan pak Mamat dan pak Asep.
Setelah tamunya pamit pulang, Ana langsung menghampiri Anton yang melepas lelah dengan duduk di kursi teras rumah.
"Ana," ujar nya sambil mengulurkan tangan ke depan Anton. Dalam hatinya sebenarnya Ana ingin cowok itu menyambut dan memegang tangannya.
"Anton," jawab cowok itu, melirik wajah Ana. Cowok itu hanya menangkupkan kedua tanganya ke depan dada tanpa memandang wajah gadis yang ada dihadapannya..
Ana terkejut sejenak melihat kelakuan Anton yang tidak menyambut uluran tanganya, ditatap wajah Anton yang lumayan tapi laki laki itu hanya memalingkan wajahnya.
"Kak, kok nggak dipengang sih! ada tangan nganggur!" celetuk Ana merajuk.
Gadis itu! Merasa heran sekali batu kali ini ada cowok tidak mau salaman dengan memegang tanganya, apalagi tangan cewek cantik dihadapannya.
"Nggak boleh, haram!" ketusnya sambil meninggalkan Ana yang begong.
Awalnya Hadi itu ingin mengejarnya tapi pintu kamar Anton yang ada di dekat ruang tamu lanhsung di kunci dari dalam.
"Haram, haram apanya? jabatan tangan haram?" bisik gadis itu heran.
Gadis itu menatap tanganya yang tidak ada debu sama sekali. ( perang antara kak Anton saya akan segera di mulai! ).
__ADS_1