Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 95


__ADS_3

Bagi anak anak SMU, hari yang paling ditunggu adalah hari dimana tidak ada guru untuk mengajar di kelas. Rasanya sungguh indah, bisa bermain, berlarian, melamun, makan di kantin maupun pergi ke perpustakaan. 


Kebebasan yang penuh arti ketika jam kosong telah berlangsung🤭.


"Enak, Bu. Bisa menghabiskan waktu bermain di kantin," canda siswa sambil tersenyum simpul. 


"Bisa bebas, Bu." 


Saya hanya menggelengkan kepala kalau mendengar celotehan mereka. 


🐝


Pagi cuacanya agak mendung, Ana dengan semangatnya langsung berangkat ke sekolah dengan baju putih abu abu, ia biarkan rambut tergerai kerena rambutnya agak basah. 


Baju kemeja putih pendek sesiku dan rok selutut untung ia mengunakan celana pendek lagi buat **********. Tas di gendong. 


Ia sebenarnya ingin bawa motor tapi sama bapak dilarang kerena masih belajar sepeda motor bapak khawatir terjadi apa apa pada Ana. Ya sudah menggunakan sepeda saat ke sekolahnya, tanpa diantar oleh sinar mentari pagi, kerena sinarnya terhalang oleh awan yang tebal. 


Sampai di sekolah Ana langsung masuk ke ruangan kreasi, ia hanya menatap tumpukan berkas cerpen yang masih belum di bacanya. Gadis itu langsung duduk diatas kursi dan tanganya mengambil beberapa lebar cerpen untuk dibaca. 


Tiba tiba pikiran tertuju pada Arya. Ya sebelum Arya kemarin menceritakan kalau Mawar mengatakan perasaannya, ia dan Arya ketemu di ruangan ini. Kalau tidak salah ketika ia membagi cerpen yang siap di kirim dsn cerpen yang masih di periksa, Arya datang dengan senyuman khasnya. 


"Aku suka kamu," Kata kata Arya terhiang hiang ditelinga Ana. 

__ADS_1


Ia langsung menatap wajah Arya dengan mimik heran sekali, ia sejujurnya kaget sekali  menerima ungkapan cinta dari Arya, ia hanya menepiskan ucapan Arya lada dirinya. Memang kalau dikit sih! selama ini ia hanya mengaguminya saja tidak lebih dari itu. Tapi cowok itu malah menyatakan perasaan pada dirinya, otomatis Ana kelimpungan mau jawab apa. 


Tapi untungnya ia masih bisa menguasai dirinya supaya tidak panik menghadapi sesuatu seperti ini. Sedangkan Arya hanya  menatap wajah Ana dengan tajamnya, ia menunggu jawaban dari gadis yang ada di sampingnya. 


Glek! Ana menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering seketika juga, gadis berkacamata itu menghela nafas untuk menenangkan dirinya. 


"Ya, maaf aku nggak bisa menerima kamu. Kita temannya aja ya, pis ✌️," ujar Ana gugup sambil mengacungkan dua jarinya seperti huruf V. 


Arya terlihat kecewa mendengar apa yang Ana katakan, tapi ia tahu sekuensinya. Ia tersenyum samar dan mengangguk, sebenarnya ada perasaan perih dihatinya saat mendengar penolakan dari Ana. Tapi Arya menghargai keputusan Ana, tangan Arya meraih rambut Ana dengan lembut mengelusnya. 


"Aku hargai keputusanmu, Na. Ya udah aku pergi dulu ya, tapi kita masih tetap berteman kan?" Tanya Arya menatap lembut. 


"Iya kita masih berteman," jawab Ana tersenyum dan mengusap tangan Arya lembut. 


"Ya, sebenarnya Mawar suka sama kamu." Ungkap Ana pada Arya. 


Sedangkan Ana hanya garuk garuk kepal nya saja, ia benar benar bagaikan mimpi mendengar apa yang Arya katakan pada diriny. Pantas kalau selama ada perhatian kecil dari Arya untuknya, awalnya sih ia hanya menepiskan saja perasan halusnya kerena selama ini Arya memang baik pada semuanya. 


Ia sama sekali tidak curiga sama sekali pada Arya, Ana pernah mendengar kalau Arya suka pada dirinya tapi ia sama sekali tidak pernah mengubris sama sekali. Kabar burung itu masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri. Kalau Arya datang ke ruangan kreasi juga ia tidak pernah menanyakan kabar burung itu. 


Dan melihat Arya biasa saja, ia juga biasa saja. Memang Ana tidak pernah menanyakan secara langsung, tapi desas desus itu semakin jelas, dan lebih terkejutnya ia baru mendengar kalau mawar suka pada Arya. Bagi gadis itu tidak masalah sih! Wajar kalau seorang cewek suka sama cowok. 


Apalagi Mawar terang terangan menyukai Arya ya daripada ia jadi duri daging lebih baik mundur saja, tapi Arya masih tetap menemaninya. 

__ADS_1


Ia menghela nafas panjang saat mengingat semua kejadian yang pernah ia lakukan sama Arya, ya menurutnya kejadian yang disengaja dibuat natural, ya kejadian membuat Arya dekat dengannya biarpun belum mengungkapkan perasannya pada dirinya. 


Kalau ingat ia hanya tersenyum saja, kejadian yang ia simpan menjadi sebuah memory indah, ya demi Mawar ia  lebih baik mengorbankan semua nya, ya biarpun suatu saat nanti ia harus tidakkehilangan semuanya. 


Ia masih ingat kejadian waktu ia dan Arya di kurung oleh teman teman nya  di ruangan lab Fisika. Kalau tidak salah waktu itu istirahat, Ana yang mengisi waktu  istirahat malah dipanggil Rani dan yang lainnya untuk ke ruang lab yang  jauh dari ruangan perpustakaan. 


Tanpa curiga sama sekali gadis itu langsung masuk ke ruangan lab, disana ada beberapa temannya yang sedang jogod joged ala anak muda. 


"Ayo Ana!" Teriak teman teman yang lain menyoraki Ana yang baru sampai di ruangan itu. 


Gadis itu meringis mendengar suara musik yang mengalun dengan kerasnya di ruangan itu, Ana ditarik oleh Rani disuruh joged tapi gadis itu menolak secara halus ya. 


Ana semakin heran ketika tiba tiba teman teman yang sebagian malah meninggalkan ruangan itu, Rani dan teman teman malah menutup pintu lap dengan cepat sampai Ana yang akan keluar juga terjebak. Dan di ruangan Lab itu ada ruangan ukuran 2x3², sebelum Ana menyadari, seseorang keluar dari ruangan lab dan menghampiri Ana yang meminta tolong..


"Arya!" Gumam Ana kaget. 


"Hai," cowok itu tersipu malu. 


Ana langsung terduduk di lantai. Ada Helaan nafas panjang dibibirnya. 


Sejak kejadian di ruangan lab itu lah Arya selalu mendekati Ana, ya biarpun cowok itu kelas 2B. Ana sering lihat Arya yang selalu ikut ekstrakulikuler Pramuka dan kegiatan yang lainnya, tapi gadis itu tidak menyadari kalau Arya suka pada dirinya. 


Beberapa kali gadis itu mendengus dan menghela nafas panjang. Kejadian demi kejadian demi kejadian membuat darinya menyadari sebuah kehidupan dan pengorbanan. 

__ADS_1


"Ana! Ya Allah dari tadi dipanggil panggil nggak tahunya disini!" Teriak Rani terlihat kesal sekali pada Ana. 


Ana hanya nyengir saja, masalahnya ia sama sekali tidak mendengar teriakan Rani yang memanggil namanya. Rani dengan kesal langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di dekat Ana. Perasaan kesal dan gemas membuat dirinya mencubit lengan Ana dengan kerasnya Sampai gadis itu berteriak dengan kerasnya.*


__ADS_2