
Ia tidak percaya kalau Mawar bakal mengelak dari kesalahan yang ia perbuat, sebenarnya Ana hanya ingin Mawar meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia buat bukan mengelak dari kesalahan nya.
"Apa yang duluan?"tanya Mawar bingung.
Seharusnya ia yang menyalahkan Ana ini malah Ana yang mengalahkan dirinya. Mawar sebenarnya bigung kenapa Ana marah pada dirinya, ia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan hatinya tentang Ana yang membabi buta itu.
Setelah tahu duduk persoalannya, Mawar hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kamu yang melenyapkan berkas cerpen yang Ana simpan di ruangan kreasi!" Sembur Ana bergemuruh.
"Demi Allah Ana aku nggak pernah." Bela Mawar.
Ia baru menyadari kalau Ana marah gara gara ruangan kreasi, tapi ia sama sekali tidak pernah melakukan kembali atau merusak ruang kreasi, tapi ia melihat kemarahan diri Ana pada dirinya. Sangat kentara dan jelas sekali kalau gadis berkacamata itu memang marah dan sangat murka. Tapi hatinya juga mengutuk orang yang membuat kerusuhan pada ruang kreasi, kerena orang lain yang melakukan tapi dirinya yang disalahkan oleh Ana. Ia benar benar tidak terima pada orang yang telah membuat dirinya salah dihadapan Ana.
"Jangan mengelak! Semua bukti pasti kalian yang melakukannya?" Teriak Ana kasar sambil mengebrak meja yang ada di hadapannya.
"Kalau memang kami yang salah mana buktinya!" Geram Mawar..
Ia sama sekali tidak pernah lagi melakukan perbuatan menghilangkan berkas cerpen cerpen yang Ana kumpulan, tapi sekarang Ana Tiba tiba menuduh dirinya yang melakukannya.
Rani, ibu kantin dan kedua teman Mawar hanya mendengarkan perdebatan yang dilakukan oleh Ana dan Mawar, keduanya tidak mau mengalah satu sama lainnya. Mempertahankan prinsip satu sama lainnya.
"Ya Na apa yang Mawar katakan benar, kamu nggak mungkin melakukan itu," Dahlia yang hanya mendengarkan akhirnya buka suara untuk membenarkan apa yang dikatakan Mawar.
"Alah! Kalian bicara itu kerena kalian komplotan. Kalau kalian jujur penjara bakal penuh!" Sembur Ana sambil berdiri menatap ketiga gadis itu.
__ADS_1
Hampir saja Ana ingin mencakar wajah Mawar tapi Rani dengan cepat langsung menarik tangan Ana. Ia membawa Ana menjauhi Mawar dan teman temannya, bukan hanya Ana sih sebenarnya Mawar juga berpikir keras siapa yang melakukannya, ia menatap kedua temannya, kedua temannya hanya mengelangkan kepala saja.
"Brengsek! Mencemarkan nama baik saja!" Protes Mawar tidak terima.
Ia mengebrak meja dihadapannya. Ibu kantin yang masih di tempat itu sangat kanget mendengar Mawar mengebrak meja. Tapi ia langsung meninggalkan keduanya untuk beberes di dapur kerena banyak piring yang kotor balum.di bersihkan.
Dahlia dan Cempaka mengangguk anggukan kepala, apa yang dikatakan oleh Mawar menang benar hanya mencemarkan nama baik mereka bertiga. Ya gara gara orang itu, nama baik ketiganya rusak di mata Anak dan Rani. Itu yang membuat Mawar merasa kesal dan terhina.
Sedangkan teman teman sebagiannya menyalahkan Mawar kerena dari awal mereka sering membuat kekacauan pada Ana dan Rani, dan sebagian juga menganggap Mawar telah insaf apa yang ia lakukan dimasa lalu.
Ketiga gadis itu langsung meninggalkan kantin, tapi ibu kantin mencegah mereka untuk pergi dulu sebelum membereskan kursi dan meja yang acak acakan oleh mereka. Akhirnya mau tidak mau mereka membereskan semuanya ya biarpun hati Mawar agak kesal pada Ana. Mungkin kalau Ana tidak menyerang duluan kantin tidak bakal kaya kapal pecah.
Mawar tidak curiga sama siapa siapa, ia akhirnya meninggalkan kantin setelah membereskan kursi dan meja. Kedua temannya juga mengikuti kemana Mawar berjalan..
Ana menghempaskan badannya ke lantai yang telah diberi tikar. Ia duduk dengan tatapan mata kosong, hatinya bertanya tanya pada diri sendiri tentang apa yang mawar katakan lada dirinya.
"Kalau memang Mawar nggak melakukan lalu siapa?" Tanya Ana sambil bergumam.
"Ran, kamu nyakin nggak sih Mawar yang melakukannya?" Lanjut Ana bertanya pada Rani.
"Nggak ada bukti Ana, kalau misal kita menuduhnya tapi kalau nggak ada bukti Mawar pasti berkelit," kata Rani.
Ya kerena ia tahu tentang Mawar, kalau Mawar biarpun salah tapi tidak ketahuan sama orang lain tanpa ada bukti tidak mungkin bisa mengakui kesalahan. Kecuali kalau ada bukti yang kuat, mendengar apa yang Rani katakan Ana hanya mengangguk anggukan kepala..
"Bagaimana kalau kita selidiki?" Tanya Ana pada Rani.
__ADS_1
"Oke! Kita jangan gegabah dan jangan sampai mereka tahu rencana kita." Jawab Rani sepakat.
Ya ia sepakat sekali untuk menyelidiki kebenaran yang ada. Kalau misal Mawar yang melakukannya Rani tidak akan segan segan bakal membuat perhitungan dengan Mawar, tapi kalau bukan Mawar siapa lagi yang perlu ia dan Ana curigai?
Tanpa sepengatahuan Ana, Mawar dsn kedua temannya yang merasa kalau Ana harus meminta maaf pada mereka, akhirnya mereka sepakat akan mencari tahu orang yang membuat Mawar menjadi tahu gejrot.
Ya Mawar tidak akan bisa memaafkan kalau ada orang yang mempermainkan dirinya atau memfitnah dirinya. Jadi waktu Dahlia mengajak ia mencari tahu orang yang telah berani mempermainkan dirinya, ia langsung setuju pada apa yang Dahlia usulkan.
"Bagaiamana kalau besok." Kata Cempaka.
"Mau kapan juga boleh kok, tapi kalian curiga nggak sama seseorang?" Tanya Mawar..
"Nggak sih! Aku nggak punya felling siapa orang yang membuat kamu babak belur gara gara berkas cerpen punya Ana dan Rani." Jawab Dahlia blank.
"War, jangan jangan kamu punya musuh selain Ana dan Rani?" Tanya Cempaka menatap wajah temannya tajam.
"Seingat aku nggak sih!" Mawar berpikir.
Kalau di selidiki memang apa yang dikatakan oleh dirinya, ia sama sekali tidak ada musuh selain dua gadis yang disebutkan oleh Cempaka, tapi ia hanya mengelangkan kepala saja kerena selama ini ia sama sekali tidak punya musuh. Ya kecuali Ana.
"Kalau Ana nggak mungkin sih yang membakar berkas cerpen terus ujug ujungnya marah sama aku?" Tanya Mawar.
"Tapi bisa saja, War. Ya pengen sensasi gitu lho!" Ujar Dahlia
Mawar menggelengkan kepala saja mendengar kata kata Dahlia seperti itu. Di tatap kedua wajah temannya saling bergantian satu sama lain, hatinya menduga tapi tidak menuduh sih! Tiba tiba hatinya menduga kalau kedua temannya melakukan melenyapkan berkas, tapi ia juga menepiskan kerena ketiga temannya selalu bersama dengan dirinya. Jadi mustahil kalau kedua nya melakukannya.*
__ADS_1