Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 103


__ADS_3

Rabu, 06 September 2002, 06.30


Udara sejuk sekali, Ana dengan semangat 45 telah sampai di sekolah. Dengan lengkap putih abu abu ( yupz pada jaman saya sekolah tidak ada yang mengunakan batik kebanyakan siswa mengunakan putih abu abu selama 4 hari, sedangkan Pramuka 2 hari, mengunakan batik baru sekarang se Banten, mungkin kalau di kota kota besar batik telah digunakan di sekolah ).


Kebiasaan sampai di sekolah pagi, itu membuat nyaman sekali buat Ana sendiri. Apalagi kalau di sekolah masih sepi ia kadang mengunakan waktu untuk membaca buku yang dipinjam di sekolah, di bacanya di dalam kelas atau sambil dudukan dibawah pohon yang rindang. Ana telah membayangkan kalau ia bakal membaca di bawah pohon, ditambah lagi kalau ada angin yang sepoi sepoi yang memainkan rambutnya.


Tapi sebelumnya Ana akan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang meminta isi, ya tadi ia tidak sarapan di rumah. Ia berjalan dengan tas gendong di depan dadanya. Tapi Ana sebelum duduk di bawah pohon ia ingat sesuatu dan membuka tas di depan perpustakaan sambil menyenderkan tangan kiri ke dinding. Ana membuka tas untuk mengambil buku didalam tas. Tapi sebelum ia mengambil buku yang ada di tasnya tiba tiba ada orang yang memeluknya di belakang.


Saat dilirik tidak tahunya Ria memeluk dan mencium dirinya, Ana otomatis kaget dan mencoba melepaskan pelukan Ria, untung ia menyikut perut Ria dengan kerasnya dan.pelukan gadis itu lepas begitu saja, Ana bisa melepaskannya. Buku yang akan diambil jatuh begitu saja kerena memang ia kaget dan terkejut sekali melihat Ria yang tiba tiba datang dan memeluk tubuhnya.


"Kamu gila!" Hardik Ana.


"Aku memang gila Na, tahu nggak Na selama ini aku kagum sama kamu, kamu pinter menulis cerpen, wajar kalau kau suka sama kamu."


"Nggak! Boleh suka tapi jangan berlebih," ceplos Ana.


Sebenarnya bukan itu yang ia akan katakan pada Ria, ia hanya ingin mengatakan kalau boleh menyukai tapi jangan sampai mencintai atau lebih dari pacaran. Tapi kalau Ria malah lain lagi, Ria hanya ingin Ana jadi pasangannya otomatis gadis berkacamata merinding mendengarnya..


Tanpa ba bi bu lagi ia langsung meninggalkan Ria menuju kantin, tapi sebelum Ana mengambil buku yang terjatuh, Ria malah terlebih dulu mengambil buku itu dan tidak memberikan pada Ana.


Ana mendengus kesal melihat Ria, ia akhirnya pergi tidak memperdulikan gadis itu, Ana pergi menuju kantin untuk sarapan pagi. Tidak lama kemudian teman teman datang ke sekolah. Sedangkan Ana akhirnya sarapan di kantin sambil melirik ke depan takut kalau misal Ria datang.


'Ya Allah kenapa aku harus dikejar sama cewek? Kalau dikejar cowok mau deh!' bisik hati Ana.


'Aku cewek dia cewek ya Allah.' lanjut Ana dalam hati.


Ia sama sekali tidak pernah bermimpi pacaran dengan sesama jenis ya biarpun cantik juga. Oke, ia pernah suka pada gadis tapi tidak pernah seperti Ria. Kalau mau bicara jujur ia jujur suka sama ibu Elis, tapi rasa suka itu hanya ia buktikan dengan belajar dan mengikuti kelas yang diberikan ibu Elis. Sedangkan Ria malah berna memeluk dirinya maupun cium dirinya bikin geli dsn tidak nyaman saja.

__ADS_1


"Na, kenapa wajahmu pucat?" Tanya ibu kantin.


"Nggak apa apa kok Bu, mungkin kurang tidur saja." Alasan Ana.


Bukan bohong sih! Memang tadi malam ia tidak bisa tidur gara gara minum kopi pas waktu sorenya, ia baru tidur pas jam 03.00 dini hari. Dan masih untung ia haid jadi nggak sholat.


Wanita itu duduk di depan Ana memperhatikan Ana yang sedang menyuap nasi dan lauk pauk nya. Begitu juga dengan gorengan tempenya, yang kering dan kriuk.


"Kalau ada yang ingin dikatakan katakan saja jangan ragu ragu," ujar ibu kantin menatap wajah Ana.


"Nggak sih Bu," elak gadis itu sambil nyengir.


"Pasti Mawar lagi," tebak ibu kantin."


Ana hanya mengangguk. Melihat anggukan Ana ibu kantin hanya menggelangkan kepala saja, ia sering sekali mendengar kenaikan Mawar lada Ana, tapi ia juga pernah mendengar kejailan Ana lebih parah daripada Mawar.


Ana hanya garuk kepala saja mendengarkan apa yang wanita itu katakan. Ia juga tersenyum manis kearah ibu kantin, tidak lama kemudian bel berbunyi dengan nyaring sekali. Seperti memanggil para siswa untuk masuk ke kelas kerena pelajaran akan dimulai. Sebenarnya Ana malas untuk masuk ke kelas apalagi pelajaran ibu Ratih, tapi bagaimanapun ia harus masuk untuk mengikuti pelajaran yang akan diberikan oleh mapel akuntansi itu.


Setelah membayar dengan harga yang pas, Ana langsung meninggalkan kantin menuju kelas 3. Di kelas 3 belum ada gurunya, akhirnya Ana masuk ke kelas dengan kerasan was was kerena takut ada Ria, ya Ria ada di kelas 3 IPS, membuat dirinya kurang nyaman saja. Tapi untungnya tidak duduk dengan dirinya, ia hanya duduk dengan cowok.


Kalau Rani duduk dengan Dahlia, sedangkan Mawar dan Cempaka. Kalau Ana hanya sendirian kerena siswa nya ganjil.


🐝🐝


"Bu, gimana kalau kelompoknya diubah saja!" Teriak Ana pada ibu Elis.


"Kenapa?" Tanya Ibu Elis heran.

__ADS_1


"Nggak apa apa sih! Bagaiaman kalau Mawar satu kelompok sama Ana, Bu." Ujar Ana menunjuk Mawar.


"Apa apaan sih Na kamu. Kamu kan udah punya kelompok nya?" Tanya Ria sewot menatap Ana.


"Bu, please!" Pinta Ana..


Bukan hanya ibu Elis saja yang begong tapi Mawar, Cempaka, Rani, dan Dahlia juga melonggo atas protes Ana pada ibu Elis. Mawar malah menatap Ana tajam tapi Ana cuek saja mendapatkan tatapan mata dari Mawar.


"Na, aku nggak mau! Kita kan kelompoknya sama Cempaka, dan Dahlia. Sedangkan Mawar dan Rani!"


"Ganti!"


"Na, kamu kenapa?" Tanya Rani heran.


Mawar hanya garuk garuk kepala, ada heran sendiri melihat Ana seperti itu. Memang ia dan Ana sering bertengkar dan tidak mungkin disatukan tapi melihat Ana seperti itu Mawar hanya bisa diam tidak bisa berkata kata. Tapi dalam hatinya ada pertanyaan yang siap ia luncurkan kapan saja.


Ana hanya diam seketika juga mendengar pertanyaan dari Rani, ia tidak mungkin bilang terus terang di kelas. Ana hanya melirik Ria.


"Ana apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya ibu Elis menanti kata kata, wanita itu sampai menatap Aan heran melihat orotesan Ana.


"Nggak apa apa kok, Bu."


"Ana!" Panggil.ibu Elis lembut.


Wanita itu memengang bahu Ana pelan, tapi Ana langsung menepiskan tangan ibu Elis. Ia sangat terkejut saat tanganya ditepiskan begitu saja oleh Ana, gadis berkacamata langsung garuk garuk kepala dsn tersenyum samar.


"Apa yang terjadi?" Tanya ibu Elis.

__ADS_1


Ana hanya mengelenhkan kepala saja, matanya melirik kearah Ria. Mawar pun memandang Ana heran sekali ia nyakin kalau Ana dan Ria ada apa nya, apalagi saat Mawar melihat Ana sering melirik Ria.*


__ADS_2