Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 17


__ADS_3

Di kamar Ana hanya mwngelangkan kepalanya, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Anton tentang haram berjabat tangan antara laki laki dan perempuan. Ya selam ini ia selalu berjabat tangan dengan laki laki lain, kalau sama orang yang lebih tua sering cium pungung tangannya.


Tapi ini dengan tiba tiba tanpa penjelasan Sama sekali Anton mengatakan yang tudks masuk akal yaitu haram menyentuh wanita. Ana benar benar berontak sekali, kok bisa haram, darimana ya coba.


Pertanyaan demi pertanyaan tidak pernah terjawab kerena saat ia menyakan itu lada Anton, Anton seperti menghindar dan tidak pernah memberikan penjelasan terperinci. Mungkin kalau ia tahu pasti tidak bakal bertanya pada Anton sama sekali.


Bukan itu saja yang membuat Ana blank dengan apa yang Anton katakan, bukaan hanya sentuhan tangan wanita saja yang haram, pacaran juga menurut Anton haram. Otomatis Ana tidak tahu dan tidak mengerti haram dari mana coba pacaran.


Apa yang dipikirkan oleh Ana sama dengan apa yang dipikirkan Anton. Kalau Anton berpikirnya masa Ana usia 21 tahun tidak mengerti agama? Ya menurut Anton seharusnya gadis yang berusia seperti Ana itu sudah mengerti apa yang haram dan yang tidak. Tapi kenyataannya sama sekali Ana tidak tahu masalah itu. Ya kalau diibaratkan Ana itu bagaikan burung yang di penjara tidak tahu apa apa.


Kesalahan fatal dari sosok Anton itu tidak pernah menjalankan apa yang pernah ia katakan pada Ana. Kalau saja Anton mau membagi ilmu agamanya tidak mungkin Ana bakal mengejar mengejar Anton dan ingin mencari tahu masalah itu.


Dari Abu menceritakan padaku Ma'qil bin Yassar diriwayatkan ia berkata kalau Rasulullah bersabda,"ditusuknya seseorang dengan pasak dari lebih baik sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahram ( HR Thabrani dalam almu'jam Al Kabir ).


Pacaran itu memang tidak boleh kerena di dalam pacaran itu kadang wanita dan pria pegangan, ciuman, dan yang lebih riskan dan fatal kadang sering berduaan dan ujung ujungnya zina. Dan kalau pacaran kadang kita lebih cenderung hatinya pada pasangan yang belum halal.


Tidak boleh diantara kami laki dsn perempuan berduaan kecuali disertai muhrim nya dan seorang wanita dilarang pergi jauh tanpa seorang mahram. HR Muslim.


Pacaran juga dianggap perbuatan yang termasuk zina, landasan pacaran termasuk zina terdapat firman Allah yaitu;


Dan jangan lah engkau mendekati zina sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji itu jalan yang buruk sekali. Al Qur'an Surat Al Isra: 32.


( saya akhirnya tahu ketika ketemu teh Najwa dan beliaulah yang memberi tahukan semuanya, kalau kak Anton memberi tahukan saya tidak mungkin saya marah marah).

__ADS_1


Gara gara masalah haramnya berjabatan tangan membuat Ana dan Anton tengang seketika juga, menurut Ana sosok Anton adalah sosok sok suci tidak pengang tangan wanita. Kalau Ana lebih asyik tangan berjabatan kalau salaman dengan laki laki asal jangan cipika cipiki saja.


Ana mempertahankan ego dan Anton juga mempertahankan ego masing masing.


"Kakak bukan sok suci!" teriak Anton emosi.


"Emang kakak itu sok suci, pegang tangan nggak boleh, pacaran nggak boleh terus kalau mau nikahnya bagaimana!" sembur Ana tajam.


Dalam banyangan Ana waktu itu kalau wanita dan pria ingin menikah kan harus melewati dulu pacaran sebagai pengenalan antara wanita itu maupun laki laki, tidak mungkinkan langsung menikah. Menurut Ana tidak mungkin seorang wanita mau menikah dengan laki laki tanpa ada rasa cinta, bagaimana laki laki bisa menerima wanita itu apalagi menikah?


"Iya haram. Pacaran nggak ada dalam Islam! Islam mengajarkan kita itu khitbah!" jelas Anton.


"Kak! Ribet banget Islam melarang ini itu! Khitbah sejenis kue apa, kok ada dalam pernikahan?" tanya Ana polos.


Ya biarpun Ana dari lahir adalah Islam, tapi masalah itu ia tidak tahu sama sekali. Ana bukan lukisan pesantren, ia hanya menimba ilmu dunia saja tanpa didasari pendidikan pesantren. Apalagi orang tua hanya mengajari sholat, dan puasa Ramadhan maupun Sunnah Sunnah nya itu sudah cukup.


Tapi Anton bukannya memberi tahukan masalah tiga kata itu, pacaran, menyentuh dan khotbah. Wajah Anton juga terlihat kesal banget mendengar kata kata gadis yang ada dihadapannya, tidak seperti gadis gadis yang ditemukan oleh dirinya.


( Khitbah adalah lamaran laki laki yang siap menikah dengan wanita yang akan menjadi istrinya, khitbah dilakukan ini untuk mengenal diri calon yang akan dinikahi ).


"Ya Allah, Ana! Kamu nggak pernah ngerti ya," sembur Anton berang.


Ya tidak berang bagaiamana, ia harus menemukan gadis yang seharusnya tahu tentang apa yang diharamkan agama malah sama sekali tidak tahu apa apa. Ana yang memang tidak tahu masalah itu tidak terima kalau pacaran itu diganti dengan makanan bernama khitbah. Ia menyangka kalau menikah itu harus bawa bikin kue khitbah sebagai hadiah pernikahan.

__ADS_1


BRAK!


Anton mengebrak meja kecil yang ada dihadapannya, ia sama sekali tidak menyangka bakal bertemu dengan wanita yang benar benar polos seperti Ana yang tidak tahu menahu masalah yang ia bicarakan..


"Kak! Kenapa kakak marah? Seharusnya Ana yang marah pada kakak kerena nggak jelaskan apa apa pada Ana!" teriak Ana ketus.


Ia tidak suka kalau cowok dihadapannya. Cowok berkacamata itu menghela nafas panjang, ada perasaan kesal di hatinya melihat kepolosan Ana dalam masalah Islam.


"Ana, dalam Islam itu adanya tiga hal yaitu; Ta'aruf, khitbah dan menikah. Jadi kalau kita pengen menikah harus ta'aruf, khitbah dulu." jelas Anton.


"Ta'aruf? Ta'aruf apaan sih kak, kok ribet banget ya kalau mau nikah. O,ya ta'aruf itu sejenis minuman apa?" tanya Ana begong.


"Apa bedanya dengan pacaran?" lanjut Ana bertanya.


BRAK


Dua kali Anton mengebrak meja kecil yang ada dihadapannya, ia kesal mendengar pertanyaan Ana.


"Na kamu itu nggak ngerti aja, pacaran itu haram!"


"Kalau nggak haram bagaiamana kak! Semuanya dilarang saja," bentak Ana kesal.


Ya tidak kesal bagaimana Anton tidak menjelaskan apa apa padanya seharusnya kan ia menjelaskan, mungkin kalau Anton menjelaskan tidak mungkin gadis itu sewot dan mengejar pertanyaan dari sosok Anton.

__ADS_1


"Udah ngomong sama kakak nggak bakal beresnya,"ketus Ana langsung beranjak dari duduknya dsn meninggalkan Anton di teras rumah.


Anton melonggo melihat gadis itu pergi begitu saja. Ia hanya mendengus saat gadis itu meninggalkan tempat itu, Anton hanya menggelengkan kepal melihat rajukan Ana.*


__ADS_2