
Ke esokan paginya.
Lan Hua, Kaisar Feng, Putra Mahkota Yuan Feng, Pangeran Jixiang dan Putri Xio Ji Lie makan dengan khidmat. Hanya keheningan dan suara dentingan sendok yang memecahkan keheningan mereka. Sementara Lan Hua hanya makan dengan sumpit.
"Putra Mahkota, Ayahanda telah memilih calon Permaisuri untuk mu," ucap Kaisar Feng membuat Putra Mahkota Yuan Feng tersedak.
huk
huk
huk
"Putra Mahkota, berhati-hatilah." ucap Pangeran Jixiang seraya menepuk pelan punggung Yuan Feng.
"Ayahanda, aku tidak ingin menikah," tolak Putra Mahkota Yuan Feng.
"Mau tidak mau, kamu harus menikah Putra Mahkota. Seharusnya kamu sudah menikah untuk penerus Kekaisaran Feng. Mau sampai kapan kamu menolak, apa mesti menunggu Ibunda mati. Lalu menikah," sanggah Lan Hua dengan penuh penekanan.
"Ibunda,"
Putra Mahkota Yuan Feng menatap nanar Lan Hua, hatinya begitu sakit ketika mendengarkan kata Mati. Sungguh ia tidak ingin kehilangan Lan Hua dan Kaisar Feng. Ia tidak bisa hidup tanpa kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Putra Mahkota Yuan Feng menghentikan aktivitas makannya, "Hamba sudah selesai Ibunda," ucap Putra Mahkota Yuan Feng menunduk hormat dan meninggalkan mereka yang masih diam.
"Selesai makan kalian," ucap Lan Hua kembali mengambil nasi dengan sumpitnya itu.
Hati Pangeran Jixiang merasa geram akan tindakan
Putra Mahkota Yuan Feng. Ibunda yang ia sayangi dan cintainya harus menerima perlakuan seperti itu. Jika Putra Mahkota Yuan Feng tidak ingin menikah, seharusnya ia tetap sopan terhadap Ibundanya.
Setelah selesai makan, Pangeran Jixiang mencari Putra Mahkota Yuan Feng di ikuti Putri Xio Ji Lie.
"Pangeran,"
Putri Xio Ji Lie melangkah kan kakinya tergesa-gesa, entah apa yang terjadi? jika dirinya tidak bisa menghentikan Pangeran Jixiang yang mulai tersulut emosi.
Pangeran Jixiang membuka pintu kediaman Putra Mahkota Yuan Feng dengan kasar, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kediaman. Namun tidak menemukan keberadaanya.
"Dimana dia?" tanya Pangeran Jixiang menatap tajam ke arah pengawal kediaman Putra Mahkota Yuan Feng.
"Putra Mahkota Yuan Feng berada di lapangan latihan Pangeran," ucap pengawal kediaman dengan tubuh bergetar.
Tanpa berfikir panjang, Pangeran Jixiang menuju ke arena latihan yang masih di ikuti Putri Xio Ji Lie.
__ADS_1
"Pangeran," ucap Putri Xio Ji Lie lembut.
"Biarkan aku memberikan pelajaran dengannya, dia tidak sopan terhadap Ibunda." ucap Pangeran Jixiang melepaskan tangan Putri Xio Ji Lie yang memegang lengannya.
Sesampai di arena latihan, Pangeran Jixiang melihat Putra Mahkota Yuan Feng berlatih memanah. Ia langsung menghampirinya dan
bruk
Pangeran Jixiang meninju pipi Putra Mahkota Yuan Feng. Hingga terhuyung kebelakang.
"Gege," ucap Putra Mahkota Yuan Feng memegang pipinya yang terasa berdenyut, iamelihat ke arah Pangeran Jixiang yang masih mengepalkan tangannya dan menatap tajam.
"Dimana sopan santun mu terhadap Ibunda, Hah," bentak Pangeran Jixiang.
"Ibunda dan Ayahanda sibuk memikirkan masa depan mu, tapi kau? Pangeran Jixiang mencengkram kerah hanfu Putra Mahkota Yuan Feng, "Setidaknya hargai Ibunda sebagai orang tua mu. Dimana hati nurani mu, hah." teriak Pangeran Jixiang merah padam. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata Lan Hua.
"Seharusnya Putra Mahkota bersyukur mendapatkan Ibunda seperti Permaisuri Lan Hua, tidak seperti ku mendapatkan Ibunda yang haus akan takhta. Bahkan Aku yang semenjak kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ibunda ku. Justru Permaisuri Lan Hua lah yang memberikan kasih sayang itu." teriak Pangeran Jixiang dengan suara menggelagar di arena latihan.
Pangeran Jixiang menghapus air matanya, ia akan cengeng jika melihat Lan Hua sedih.
"Aku tidak peduli, mau kau Putra Mahkota atau Adikku, yang aku pedulikan hanya perasaan Ibunda. Jika aku melihat kau," Pangeran Jixiang melepaskan cengkraman hanfu Putra Mahkota Yuan Feng, "Aku tidak akan tinggal diam." ucap Pangeran Jixiang meninggalkan Putra Mahkota Yuan Feng yang diam membeku.
__ADS_1
Sementara Putri Xio Ji Lie merasa terkejut melihat kemarahan Pangeran Jixiang, baru kali ini ia melihat Pangeran Jixiang semarah itu. Hatinya yang begitu mencintai Lan Hua. Membuat ia terharu dan meneteskan air matanya. Dia pun membalikkan badannya mengikuti langkah kaki Pangeran Jixiang untuk menenangkan suaminya itu.