
Keheningan telah menyerbu ruangan itu. Santapan yang lezat tidak mampu menghentikan degupan jantung mereka. Sesekali mereka saling melirik. Namun mereka seakan menciptakan jarak.
Tak terasa mereka telah selesai menyantap hidangan lezat itu. Putri Mahkota Qi Luxia melirik Putra Mahkota Yuan Feng.
"Hem, Putra Mahkota. Apa hamba boleh undur diri?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia.
"Apa aku menyuruh mu untuk tinggal disini?" tanya Putra Mahkota Yuan Feng mengerutkan dahinya.
Oh, astagah! aku bertanya benar di jawab salah. Memangnya lidah nya terbuat karet batin Putri Mahkota Qi Luxia dengan kesal.
"Baiklah, hamba pamit undur diri." ucap Putri Mahkota Qi Luxia beranjak pergi.
"Tunggu," ucap Putra Mahkota Yuan Feng. Entah mengapa hatinya ingin bersama dengan Putri Mahkota. Namun egonya terlalu tinggi untuk memintanya menetap.
"Ada apa Putra Mahkota?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia seraya menaikkan salah satu alisnya.
"Ekhem, tidak apa-apa," jawabnya tanpa merasa bersalah.
Putri Mahkota Qi Luxia menghela nafas, ingin rasanya ia memaki. Namun ia takut dengan hukuman, bisa jadi lehernya melayang. Putra Mahkota Qi Luxia bergedik ngeri ketika membayangkan hal itu. Namun tanpa ia sadari Putra Mahkota Yuan Feng menatapnya.
Kenapa dengannya? apa dia jijik bersama ku. Hingga ia bergedik seperti itu batin Putra Mahkota Yuan Feng kesal.
__ADS_1
"Tidak ada, silahkan pergi," ucap Putra Mahkota Yuan Feng datar.
Tangan Putri Mahkota Qi Luxia merasa gatal. Ingin rasanya ia menjambak rambut Putra Mahkota, "Baik Putra Mahkota," ucap Putri Mahkota menunduk hormat tapi masih memberi kesan lembut.
Putri Mahkota Qi Luxia langsung bergegas pergi. Jika berlama-lama dengan Putra Mahkota Yuan Feng bisa-bisa ia tidak tahan.
"An, aku bosan di kediaman ku." ucap Putri Mahkota Qi Luxia seraya melangkah kan kakinya.
"Bagaimana jika kita keluar istana Putri Mahkota," usul pelayan An.
"Tidak, aku malas untuk keluar." jawab Putri Mahkota, ia menghentikan langkah kakinya.
"Hormat hamba, Ibunda." ucap Putri Mahkota menunduk hormat.
"Bagaimana kabar mu? Ibunda merindukan mu," tanya Lan Hua mengelus kepala menantu kesayangannya. Setelah mengetahui dari mata-matanya. Lan Hua sedikit lega, rupanya Putra Mahkota sedikit demi sedikit telah membuka hatinya.
"Hamba baik-baik saja Ibunda. Hamba juga merindukan Ibunda," lirihnya.
"Sebaiknya kita jalan-jalan. Ibunda tau Putri Mahkota pasti bosan."
Putri Mahkota mengangguk tersenyum, merekapun berbincang-bincang. Tanpa sadar langkah kaki mereka menuju ke arah latihan prajurit. Para Prajurit pun menghentikan aktivitasnya yang sedang belajar berpedang dan memanah. Jendral Chun segera menunduk hormat.
__ADS_1
"Jendral Chun, bagaimana jika kita bermain pedang lagi," tawar Lan Hua tersenyum.
"Maaf Yang Mulia, tapi.."
"Sudahlah jangan ragu, ayo." ucap Lan Hua menuju ke arah pedang yang sedang berjajar.
Dentingan pedang saling beradu, Lan Hua dan Jendral Chun kini seperti pertama kalinya. Mereka saling menyerang dan menangkis. Sementara Putri Mahkota hanya diam memperhatikan dentingan pedang itu.
"Apa Putra Mahkota menyukai wanita kuat?" gumam Putri Mahkota menunduk dengan wajah lesu.
"Aku ingin sekali menjadi kuat, tapi aku takut ketika pedang itu mengenai kulit mereka. Aku hanya wanita yang lemah, pantas saja Putra Mahkota tidak menginginkan diriku,"
Putri Mahkota menatap ke arah pedang yang sedang berjajar. Tanpa sadar ia menuju ke arah pedang itu. Saat ingin mengangkat pedang itu, keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya. Ia kembali mengingat masa kecilnya yang membuat trauma. Pada saat itu, Putri Qi Luxia kecil sedang berjalan-jalan dan di hadang oleh bandit. Semenjak kejadian itulah, ia mengalami banyak trauma jika menyangkut hal dalam berpedang.
Untung saja kejadian itu di temukan oleh anak kecil dan beberapa pengawal hingga anak kecil beserta rombongan itu menolongnya.
"Tapi demi Putra Mahkota, ia harus melawan rasa takutnya,"
Dengan tekad yang kuat, Putri Mahkota mengambil pedang itu. Namun pedang itu langsung terjatuh dari tangannya. Tangannya gemetar, ia langsung terduduk lemas di tanah.
"Putri Mahkota," teriak seorang laki-laki yang menuju ke arahnya.
__ADS_1