
Aiiss jika aku ke Hutan Surgawi sekarang bagaimana jika yang mulia ke kediaman ku,,Yoona tidak mungkin bisa menghentikannya ..
aaa merepotkan saja batin Lan Hua.
"Gege Chen bolehkan Meimei meminta bantuan mu." Ucap Lan Hua.
"Meimei meminta bantuan apa?"
"Meimei tidak bisa ke Hutan Surgawi,, bisa kah Gege membawa sisa pasukan kita kesana?"
"Baiklah, tapi Gege tidak bisa masuk Hua'er." Ucap Chen menghela nafas kasarnya.
"Aa, iya hampir lupa Tato itu masih belum ada di pergelangan tangan kalian, baiklah aku akan membuatnya."
Lan Hua mengambil sebuah belati di ruang dimensinya,.
"Meimei untuk apa kau mengeluarkan belati?" tanya Ming Yue.
"Jiejie, Hua'er akan melukis bunga mawar di sini." Ucap Lan Hua menunjuk ke pergelangan tangannya sendiri.
Lan Hua melukis sebuah Tato Bunga Mawar hingga darahnya mencucur keluar.
Beberapa saat kemudian luka itu sembuh dengan sendirinya.
"Lihat lah pergelangan tangan kalian."
Semuanya melihat pergelengan tangannya ternyata benar sebuah Tato Mawar Putih muncul di pergelangan tangan mereka dengan rasa takjub bahkan tak merasakan apa-apa.
__ADS_1
"Dengan ini aku menyatakan kalian adalah rakyat ku, maka aku akan berusaha menjaga kalian." Ucap Lan Hua dengan aura membunuh.
''Hormat kami, Yang Mulia." Ucap mereka semua menundukkan kepalanya tanda memberi penghormatan.
"Gege aku harus kembali ke Istana, aku akan segera menemui kalian di Hutan Surgawi."
Lan Hua pergi meninggalkan mereka dengan qingqongnya. Sementara Chen membawa sisa pasukannya ke Hutan Surgawi dan Chanyi, Changyu, Ming Yue membawa anak buahnya ke tempat bisnis mereka yang akan memulai bisnis Esok pagi.
Sesaat kemudian.
Lan Hua sudah sampai di kediamannya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun sebelum ia memejamkan matanya terdengarkan langkah kaki mendekati kediamannya, sehingga ia memilih berpura-pura tidur.
"Hua'er aku tau kau pura-pura tidur." Ucap Kaisar Feng duduk di samping Lan Hua.
karena sudah ketahuan Lan Hua membuka matanya ia menatap Kaisar Feng.
"Apa aku tidak boleh datang kesini?" tanya Kaisar Feng.
Lan Hua menggeleng, "Bukankah, Yang Mulia akan tidur dengan Selir yang mulia." Ucap Lan Hua.
"Dia sudah tertidur." Ucap Kaisar Feng menatap Lan Hua.
"Untuk apa Yang Mulia kesini?" tanya Lan Hua lagi.
"Untuk menemani mu." Kaisar Feng menyelipkan rambut Lan Hua ke belakang telinganya.
"Hua'er bukankah kau sudah memberikan kesempatan pada ku, lalu kenapa aku merasa kau menjauh." Lirih Kaisar Feng.
__ADS_1
"Yang Mulia, bolehkah aku bertanya."
"Apa?"
"Aku dan Selir Mei, mana yang akan anda pilih?" tanya Lan Hua. Ia butuh jawaban itu.
"Kenapa kau menanyakan itu? kalian adalah istri ku tentu aku menyayangi kalian berdua." Jawab Kaisar Feng..
Lan Hua menahan sesak di dadanya. "Maaf Yang Mulia. Perasaan tidak bisa dibagi,
semenjak Yang Mulia membuang ku tanpa menyelidiki kesalahan ku. Semenjak itu aku tidak lagi memercayai Yang Mulia. Mari kita menjaga jarak."
Sudah aku duga batin Lan Hua
"Yang Mulia, bisakah anda pergi aku lelah." ucap Lan Hua merebahkan tubuhnya, membelakangi Kaisar Feng.
"Baiklah." Ucap Kaisar Feng mencium kepala Lan Hua berlalu pergi menuju ke kediamannya. Ia tidak bisa memilih di antara keduanya. Baginya, Selir Mei dan Permaisurinya sangatlah penting.
Sampai dikediamannya Kaisar Feng menyibukkan dirinya dengan berkas berkas di Istana.
"Kasim Qie."
"Hamba, Yang Mulia."
"Tolong berikan semua surat ini pada semua Kaisar. Aku akan mengadakan diskusi tentang Klan Iblis." Ucap Kaisar Feng..
"Baik Yang Mulia, hamba undur diri."
__ADS_1
Hua'er batin Kaisar Feng