Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Kembali ke Hutan Kematian


__ADS_3

Dengan kecepatan qingqongnya Lan Hua sudah sampai di Hutan Surgawi.


"Gege, Jiejie apa kalian sudah siap?" tanya Lan Hua.


"Iya Meimei. " Ucap mereka serempak.


"Hormat hamba, Yang Mulia, apakah yang mulia tidak ingin membawa salah satu dari kami." tanya sang Rubah.


Lan Hua berfikir, suatu saat nanti mungkin ia butuh bantuan dari mereka.


Benar aku membutuhkan salah satu dari mereka. Sepertinya aku harus membawa Kuda putih ini sebagai tunggangan ku.


"Baiklah aku akan membawa salah satu di antara kalian. Tenang saja aku akan datang kesini untuk menemui kalian keluarga ku." Ucap Lan Hua.


"Kuda putih aku ingin membawa mu sebagai tunggangan ku."


"Dengan senang hati hamba akan melayani Yang Mulia." Ycap Raja Kuda putih.


"Bagus kau harus menyembunyikan sayap mu."


sriing ...


Sebuah cahaya muncul dari dalam tubuh kuda putih hingga sayapnya menghilang..


"Ingat kalian harus menjaga diri kalian baik baik,, aku pasti merindukan kalian." Ucap Lan Hua terlihat sedih. Ia memeluk satu per satu sang penguasa itu.


"Yang Mulia, juga harus menjaga kesehatan Yang Mulia, rasanya kami tidak rela ditinggalkan Yang Mulia." 7cap Raja Singa putih..


Dengan langkah berat Lan Hua pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Ke enam Penguasa itu pun sangat sedih, mereka ingat tingkah konyol Lan Hua, keusilan Lan Hua. Namun sekarang tidak ada lagi. Mereka berharap Lan Hua secepatnya kembali lagi.


Dibawah pohon yang rindang Lan Hua,, mulai berkaca kaca. Menatap pintu itu tertutup seperti semula. Lan Hua hanya bisa menghela nafas beratnya.


"Tenang saja Meimei kita akan kembali kesini." Ucap Changyu menepuk bahu Lan Hua.


"Benar Meimei." Ucap Ming Yue.


"Rexi itu adalah nama panggilan mu." Ucap Lan Hua mengelus kepala Kuda putih itu seraya menghapus jejak air matanya.


"Terimakasih Yang Mulia, karena memberikan hamba nama. Bagi hamba itu semua kehormatan yang sangat besar." Ucap Rexi.


"Gege kalian bisa menggunakan jurus Qingqong, dan aku akan menaiki Rexi."


"Rexi keluarkan sayap mu kita akan terbang ke Hutan Kematian." Ucap Lan Hua.


"Meimei untuk apa kita ke hutan kematian?" tanya Changyi..


"Meimei siapa ulat bulu?" tanya Chen.


"Aaa, nanti kalian juga tau siapa ulat bulu yang penting jangan mendekatinya. Jangan sampai tubuh kalian alergi alias gatal gatal. " Ucap Lan Hua.


Mereka berempat hanya menyimpan pertanyaan masing masing di hati mereka.


"Eemm, baiklah tapi di Hutan Kematian apa mereka (penjaga hutan kematian) tidak akan menyerang kami."


"Tidak akan tenang saja Jiejie." ucap Lan Hua.


Sudah Dua hari mereka tidak berhenti hingga mereka sampai di Hutan Kematian malam harinya.

__ADS_1


"Yuhuuuuuuuu....aku datang. "


Teriakan Lan Hua menggegerkan semua penghuni Hutan Kematian.


Mereka tau siapa yang memiliki suara yang bisa menghancurkan telinga mereka.


"Hormat hamba, Yang Mulia." Ucap mereka serempak. Red dan Dragon keluar dari dalam dimensi Lan Hua.


Ke empat Bersaudara di buat jantungan, mereka tidak tau jika Lan Hua memiliki kedua hewan melegenda itu.


Rahasia apa lagi yang kau berikan Meimei batin mereka Berempat.


Sementara semua penjaga Hutan Kematian tercengang atas naga hijau Lan Hua.


Mereka merasakan aura yang sama kuat dengan Red.


"Perkenalkan mereka Berempat adalah Saudara ku dan juga Saudara kalian. Jadi kalian tidak boleh membedakan mereka. Mereka bisa keluar masuk disini jadi jangan ada yang menghalangi mereka selama mereka senang bermain di hutan ini. Dan ini yang hijau bin ganteng adalah Dragon."


"Meimei kenapa kau memanggilnya tampan? sementara aku tidak." Kesal Red dengan nada kecemburuan..


"Hei, aku memang lebih tampan darimu." Ucap Dragon...


"Diam !" teriak Lan Hua.


"Di dalam buku atau kamus ku kalian berdua hanya level 10." Ucap Lan Hua sambil berteriak.


hufttt sabar sabar gumam Lan Hua...


"Baiklah Gege,, Jiejie aku akan mengantarkan kalian mencari penginapan." Ucap Lan Hua yang sudah menunggangi Rexi.

__ADS_1


Sesampainya di Pasar ..


__ADS_2