
"Kenapa Meimei melepaskan pelayan itu?" tanya Changyu.
"Biarkan saja Selir Mei merasa puas, aku akan menunggu rencana Ketiganya Gege." Jawab Lan Hua menatap Changyu.
"Meimei kita kesini pamit untuk pergi melaksanakan semua perintah Meimei." Ucap Chen..
"Maaf Gege jika aku merepotkan kalian." Ucap Lan Hua.
"Tidak sama sekali." Ucap Ming Yue.
"Jiejie aku sudah menulis semua resep kue dan cara membuatnya." Ucap Lan Hua memberikan sebuah buku.
"Baiklah, Jiejie akan mempelajarinya." Ming Yue mengambil kertas itu, menggulungnya lalu menaruhnya di balik hanfu dalamnya.
"Seminggu lagi Gege akan melaporkan hasilnya Meimei." Ucap Chen.
"Gege untuk semua Tim harus bisa Kultivasi walaupun Kultivasinya tidak tinggi bisa di bilang untuk melindungi diri sendiri. Gunakan Hutan Kematian di sebelah selatan kawasan Raja Singa." Ucap Lan Hua.
Setelah mendengarkan perintah Lan Hua, mereka pergi meninggalkan istana.
Lan Hua hanya memandang kepergian Gege dan Jiejienya dari kejauhan dengan perasaan sedih. Ia tidak akan lupa pada mereka yang sudah mau membantunya.
"Jiejie sebarkan berita bahwa Meimei sakit. Aku ingin pergi ke Hutan Kematian setelah itu pergi ke Hutan Surgawi meminta bantuan pada mereka untuk membuat istana di Hutan Surgawi." Ucap Lan Hua.
"Baiklah, Meimei kapan berangkat?" tanya Yoona.
"Nanti malam Jiejie." Ujar Lan Hua masuk ke dalam kekediamannya.
__ADS_1
Di Pavilium Teratai.
"Hormat hamba Selir, hamba sudah mendengar kabar bawa Permaisuri sedang sakit." Ucap Sie Yue.
Selir Mei tersenyum puas mendengarkan kabar itu. Ia mengambil sebuah kantong kecil, lalu memberikannya pada Sie Yue. "Ambilah, itu hadiah untuk mu."
"Tetapi kenapa jalang itu masih sakit? tidak langsung mati saja, tidak apalah si jalang itu juga akan mati." Ucap Selir Mei. Ia tertawa puas seraya bersenandung. Memutar badannya.
"Sie Yue bawakan makanan yang banyak. Aku sedang berselera."
"Baik Selir." Ucap Sie Yue, lalu pergi menyiapkan makanan untuk junjungannya...
Malam harinya.
"Jiejie aku berangkat dulu." Lan Hua memeluk Yoona dengan erat.
Angin malam yang berhembus kencang adalah saksi perjuangan Lan Hua. Bahwa di kehidupan ini, ia harus memperjuangkan kebahagiannya sendiri dengan caranya sendiri. Tidak mudah baginya, harus mencintai seseorang yang sudah memiliki Selir.
Sampai di Hutan Kematian.
"Hormat kami, Yang Mulia." Ucap para Raja Hutan Kematian.
"Bagaimana dengan ke empat tamu itu?" tanya Lan Hua datar.
"Mereka sudah mendekati bukit tempat Lotus Api, Yang Mulia." Jawab Raja Kalajengking.
"Aku akan pergi melihatnya."
__ADS_1
Dari atas dahan pohon Lan Hua melihat perjuangan mereka. Dimana mereka menaiki sebuah bukit dengan susah payah.
"Yang Mulia, kita sudah sampai." Ucap Iyan dengan bahagianya. Lotus api itu berada di atas bukit paling tinggi.
"Biar hamba saja yang mendakinya, Yang Mulia."
Namun Iyan berhenti melihat seekor bawahan Raja Kalajengking menghampiri mereka. Lagi-lagi mereka keherana Kalajengking itu pergi membiarkan mereka begitu saja. Seharusnya para Kalajengking itu marah karena telah lancang memasuki kawasan mereka.
"Aneh, kenapa ia tidak menyerang kita?" tanya Kaisar Feng menatap Kalajengking yang mulai menjauh.
"Benar, Yang Mulia, hamba merasa aneh." Ucap Iyan.
Iyan mendaki bukit itu dan tanpa sengaja Iyan melihat seorang gadis memakai hanfu hijau dengan menggunakan cadarnya.
Iyan memerhatikan gadis itu yang menatapnya dan berbalik badan ingin pergi. Namun Iyan berteriak menghentikan langkahnya.
"Tunggu Nona." Teriak Iyan.
Kaisar Feng yang mendengarkan teriakan Iyan langsung melihat ke arah dimana Iyan memerhatikannya dan tentu saja Kaisar Feng melihatnya, seorang gadis memakai hanfu hijau dengan rambut terurai tapi Kaisar Feng tidak melihat wajahnya karena gadis itu membelakanginya.
Lan Hua terdiam, ia tak memperdulikan panggilan Iyan dan pergi begitu saja.
Iyan turun dari atas bukit berhasil membawa Bunga Lotus Api dan memberikan pada Kaisar Feng.
"Yang Mulia, apakah gadis itu yang menolong kita. Hingga Kalajengking tadi tidak berani melawan kita." Ujar Iyan merasa curiga.
"Aku juga merasa begitu Iyan. Coba kau ingat saat pertama kali kita memasuki hutan ini. Kita bahkan mau diserang oleh singa tapi singa itu pergi begitu saja dengan ketakutan." Ucap Kaisar Feng.
__ADS_1
"Jika begitu semoga diperjalanan pulang kita bertemu lagi dengannya yang mulia."