Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Terbongkar


__ADS_3

Dua hari telah berlalu..


Kini kompetesi pertarungan akan dilaksanakan hari ini. Dimana hari ini Ming Yue dan ke Tiga Gegenya akan membuat malu Selir Mei. Rencana yang sudah matang dan sempurna itu, tidak boleh gagal sedikit pun. Karena hari ini adalah hari di mana dirinya akan membuat semua orang menyesalinya terutama Kaisar Feng.


Di Pavilium Teratai...


"Yang Mulia, anda sangat cantik." Ucap Ming Yue memasangkan konde pada rambut Selir Mei. Ia merasa muak tiap harinya harus bertemu dengannya.


"Aku suka pujian mu," ujar Selir Mei melihat wajahnya di cermin berbentuk lonjong itu. "Baiklah cepat selesaikan, aku tidak mau membuat Yang Mulia malu dan lama menunggu." Ucap Selir Mei.


Selesai berhias Selir Mei menuju ke depan istana di ikuti Ming Yue dan para pelaya. melihat Kaisar Feng, Pangeran Jixiang dan Para Pejabat menunggu kedatangan Para Kaisar..


"Salam hormat, Yang Mulia." Ucap Selir Mei.


Kaisar Feng hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tidak ada lagi wajah menatap penuh kasih sayang padanya.


"Salam Ibunda." Ucap Pangeran Jixiang. Sebisa mungkin ia berusaha membuat Kaisar Feng tidak menyalahkan Ibundanya itu. Karena bagi dirinya, pasti ada kesalahpahaman saja.


Beberapa menit kemudian terlihat sebuah kereta sampai di halaman Istana.


Terlihat Kaisar Zhang turun dari dalam kereta di ikuti Selir agungnya. Sementara Pangeran Hongli dan Jenderalnya turun dari kudanya.


Di Kekaisaran Zhang posisi Permaisuri masih kosong dan belum memiliki Putra.


Laki-laki gagah itu menuju ke arah Kaisar Feng..


"Salam hormat, Yang Mulia Kaisar." Ucap Kaisar Zhang di ikuti Selir agungnya,Pangeran Hongli dan Jenderalnya.


Sebagai balasannya Kaisar Feng hanya bersikap dingin.


Kaisar Zhang melihat perubahan Kaisar Feng merasa sangat sedih. Ia tidak melihat Kaisar Feng yang dulu lagi semenjak kehilangan Permaisurinya..


Selang beberapa menit terlihat dua kereta tiba di halaman Istana..


Kaisar Xiang turun dari dalam kereta di ikuti Permaisurinya, Putra Mahkota, dua Pangeran dan dua Putrinya.


Kaisar Xiang menoleh ke arah kereta dibelakang rombongannya dan tersenyum ke arah Kaisar Li bersama Permaisurinya, ke tiga Putranya dan ke tiga Putrinya.


Mereka saling mengangguk berjalan bersama menuju Kaisar Feng dan Kaisar Zhang.


"Salam hormat, Yang Mulia." Ucap Kaisar Xiang dan Kaisar Li diikuti lainnya.


Tidak heran para Kaisar menaruh hormat, karena di antara Kekaisaran. Kekaisaran Feng lah yang memiliki kekuatan. Mereka sangat segan, lebih lagi semua Kekaisaran berkerja sama dan bersahabat.


Mereka semua menuju ke lapangan.Para penonton sudah tidak sabar menunggu kompetesi pertarungan.


Dan para rombongan Kaisar sudah menduduki tempat duduk mereka masing masing


Kasim Qie melihat Kaisar Feng masih saja mengeluarkan sikap dinginnya pada semua Kaisar..


Kasim Qie hanya menghela nafas kasarnya.


Kaisar Feng mengangkat tangannya tanda pertandingan akan dimulai.


Suara gong sudah menggema, terlihat dua pria bertubuh kekar memasuki arena pertandingan suara penonton bertepuk tangan menggema lapangan.


Ming Yue melihat ke arah penonton ternyata ke tiga Gegenya sudah tiba disana ia melihat gegenya berpenampilan seperti rakyat biasa.


"Salam hormat, Yang Mulia." Ucap Ming Yue pada Selir Mei.


"Ada apa? " tanya Selir Mei.


"Hamba undur diri kebelakang Yang Mulia." Ucap Ming Yue.


"Baiklah,"


Ming Yue bergegas pergi meninggalkan arena lapangan menuju kekediamannya. Mengganti hanfunya, menghapus kulit hitamnya dan memakai cadarnya.


Ia pergi menuju ke arah lapangan dengan mengendap-ngendap agar tidak ketahuan prajurit.


Setelah sampai dilapangan Ming Yue menerobos orang menuju ke tiga Gegenya di depan melihat pertandingan.


"Gege."


"Bagaimana semua sudah siap?" tanya Chen.

__ADS_1


Ming Yue tersenyum licik ke arah Selir Mei.


Lima ronde sudah selesai akhirnya dimenangkan oleh laki laki bertubuh kekar berhanfu merah. Jendral Chu melihat pertandingan sangat puas.


Di arena pertandingan seorang berbicara dengan tegas.


"Bagaimana siapa lagi yang akan melawan?"


Ming Yue mengacungkan tangannya. Semua orang bahkan Para Kaisar, Para Pangeran, Para Putri dan Para Pejabat Istana melihat ke arahnya.


Ming Yue memasuki arena pertandingan. Terdengar kasak-kusuk penonton berbicara.


"Gadis itu apa bisa menang? melihat tubuhnya saja sangat kecil." Ucap si A.


"Benar." Ucapp si B.


Ming Yue tidak memperdulikan itu, ia fokus pada orang yang akan menjadi lawannya. Para Kaisar saling menatap ia merasa curiga dengan gadis bercadar.


"Apakah dia Meili?" tanya Kaisar Xiang pada Kaisar Zhang.


"Tidak, Dia bukan Meili. Aku sangat yakin." Jawab Kaisar Zhang. Semua mata Kaisar tertuju pada gadis bercadar di depannya.


"Heh keluarkan semua Kultivasi bodoh mu." Teriak Ming Yue.


"Hey gadis kecil aku tidak ingin membuat mu menangis mengadu pada Ibu mu."


"Ohh benarkah, kita lihat saja siapa yang akan menangis?"


Keduanya saling beradu pandang dengan sengit sampai suara tegas dan penuh semangat mengintrupsi gerak keduanya.


Trang suara pedang beradu..


Ming Yue memilih menyerang terlebih dahulu sampai keduanya menciptakan suara nyaring beradu. Sesekali menangkis pedang dan membalasnya dengan serangan cepat dan memutar. Merasa kewalahan akibat serangan cepat Ming Yue.


Ming Yue segera menggunakan pedangnya memutar ke pedang lawannya hingga pedang itu terlepas ke atas jatuh tertancap ke tanah..


Sekarang pedang Ming Yue berada dileher sang lawan.


Sang lawan pun sudah merasa ketakutan dan gemetar.


Tepuk tangan dan sorakan penonton menggema tandanya Ming Yue sudah memenangkan pertandingan.


Sementara para pangeran akan ikut bertanding setelah pemilihan Jender di Kekaisaran Feng terpilih dan akan mencoba melawan Jendral yang terpilih.


Jendral Chu turun ke arena pertandingan.


"Selamat nona anda terpilih menjadi seorang Jendral di Kaisar Feng." Ucap Jenderal Chu.


"Anda boleh memilih lawan salah satu Pangeran serta hadiahnya Kaisar Feng akan memberikannya."


Ming Yue mengernyitkan dahinya. "Maaf Jenderal Chu saya tidak berniat untuk menjadi Jenderal." Ucap Ming Yue tajam.


"Nona seharusnya anda bersyukur terpilih menjadi seorang Jenderal." Bentak Jenderal Chu. Selama ia menjadi Jenderal, tidak seorang pun yang merendahkannya.


"Baik, saya akan menjadi seorang Jenderal di Kekaisaran Feng asalkan saya bertanding melawan Selir Mei." Ucap Ming Yue tegas yang di dengarkan oleh para penonton juga Para Kaisar..


"Lancang, berani sekali anda berbicara seperti itu pada keluarga Kerajaan." Sentak Jenderal Chu yang mulai meluapkan amarahnya.


"Apa Selir Mei takut?" tanya Ming Yue menoleh ke arah Selir Mei.


Kaisar Feng membuka suaranya.


"Jenderal Chu sesuai kesepakatan siapa pun yang lolos dari pemilihan Jenderal. Ia harus melawan salah satu Pangeran, tapi Nona anda menyinggung peraturannya." Ucap tegas Kaisar Feng.


Sementara ke tiga Bersaudara tersenyum sinis mendengarkan perkataan Kaisar Feng. Menyinggung, itu tidak seberapa di banding dengan sakit hati Lan Hua.


Selir Mei sangat marah ia merasa terhina.


Ia adalah Selir Agung di Kaisar Feng tapi dihina oleh gadis rendahan.


"Saya terima tawaran anda Nona." Ucap Selir Mei.


"Ibunda, biar Ji'er saja melawannya." Ucap Pangeran Jixiang.


"Tidak perlu." Ucap Selir Mei menatap sengit.

__ADS_1


Sementara Kaisar Feng memberikan kode pada Jenderal Chu agar melindungi Selir Mei.


Selir Mei turun ke arena pertandingan


dan mengambil pedang Jenderal Chu.


" Nona bersiaplah. Anda salah memilih lawan yang salah." Ucap Selir Mei.


"Aaah benarkah, saya sangat takut Selir Mei." Ucap Ming Yue tertawa mengejek.


Dengan amarahnya Selir Mei memulai penyerangan duluan pada Ming Yue.


Trang dentingan pedang kembali beradu.


Semua penonton merasa penasaran siapa yang akan menang mengingat Selir Mei juga memiliki Kultivasi lumayan tinggi (Kultivasi Tingkat Menengah)


Ming Yue mendorong Selir Mei dan menendang perutnya hingga Selir Mei terlempar jauh..


Huk


Huk


Selir Mei mengeluarkan darah dari mulutnya.


Sial ! batin Selir Mei..


Ming Yue mengambil kesempatan berlari dengan cepat ke arah Selir Mei. Menghumuskan pedangnya ke leher Selir Mei.


"Anda sangat lemah." Ucap Ming Yue.


Jenderal Chu tercengang. Ia tidak bisa melihat kecepatan Ming Yue dari depan matanya hingga ia sampai di depan Selir Mei..


Semua orang terkejut.


"Ibunda." Teriak Pangeran Jixiang...


Pangeran Jixiang tidak bisa membiarkan nyawa ibundanya dalam bahaya. Ia turun ke medan pertempuran dengan membawa pedang.


Jenderal Chu juga ikut menghampiri Ming Yue untuk menolong Selir Mei.


Ming Yue tertawa menggema, hatinya panas dingin ingin menebas leher Selir Mei.


"Pangeran Jixiang dan Jenderal Chu jika kalian mendekat akan aku pastikan kepala Selir Mei terpisah." Ucap Ming Yue Lantang.


"Lancang kau berbuat seperti itu pada Ibundaku." Teriak Pangeran Jixiang dadanya sudah naik turun.


"Selir Mei kita bertemu lagi." Ucap Ming Yue pedangnya menggores leher Selir Mei.


"Si, siapa kau ? aku tidak mengenal mu." ucap Selir Mei terbata-bata.


"Kau memang tidak mengenal ku, tapi aku datang kesini meminta keadilan bagi Meimei ku." Ucap Ming Yue Lantang.


"Aaa, aa, pa maksud mu." tanya Selir Mei tak mengerti.


"Apa anda ingat ? anda menyuruh orang meracuni seorang gadis saat dipengasingan di perbatasan Hutan Kematian, apa anda ingat menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuhnya di Istana? ya Kaisar Feng tidak tau tentang penyusupan utu karna anda menutup rapat saat Kaisar Feng tidak ada di Istana, bukan." Ucap Ming Yue Lantang di dengarkan oleh semua orang.


Deg


Nafas Kaisar Feng seakan berhenti dalam sekejap, tubuhnta lemas. Ia mengerti semua ucapan Ming Yue tentang gadis yang diasingkan yaitu Permaisurinya.


"Lancang kau memfitnah Ibunda ku." Bentak Pangeran Jixiang. "Jika memang benar mana buktinya?" teriak Pangeran Jixiang dengan amarah naik pitam.


Ming Yue mengeluarkan gulungan dari dalam hanfu lengannya dan melemparkan ke wajah Pangeran Jixiang. Pengeran Jixiang mengambil gulungan tersebut dan membukanya.


"Ti,, tidak mungkin." Ucap Pangeran Jixiang terduduk lemas.


"Kaisar Feng turun ke arena pertandingan menghampiri putranya ia mengambil kedua gulungan tersebut. Ia melihat stempel Kekaisaran Feng. Sungguh dia tak menyangka dan tak menduga, wanita yang pernah ia cintai melakukan perbuatan keji. Benar dia memang membenci Lan Hua pada saat itu, tapi tidak ada keinginan menghilangkan nyawanya sedikit pun


"Bagaimana?" tanya Ming Yue melihat ke arah Kaisar Feng yang masih menatap tajam Selir Mei.


"Maka matilah !" teriak Ming Yue mengarahkan pedangnya ingin menebas leher Selir Mei.


"Ibunda." Teriak Pangeran Jixiang.


Namun pedang Ming Yu terhalang oleh pedang lain sehingga tidak menebas leher Selir Mei..

__ADS_1


__ADS_2