
Sekejap Putra Mahkota Yuan Feng merasakan tak asing dengan mata wanita di depannya itu.
Aneh, kenapa aku merasakan familiar dengan matanya batin Putra Mahkota Yuan Feng menerawang jauh.
Sementara Putri Mahkota Qi Luxia lansung membalikkan badannya menuju ke arah kereta. Saat ini ingin rasanya ia berteriak dan menangis.
"Putri," sapa pelayan An menatap iba.
"Jangan berbicara dengan ku pelayan An, aku sekarang tidak ingin berbicara,"
Pelayan An menghela nafas, mungkin memang benar junjungannya itu butuh waktu sendiri.
Keheningan menerpa di dalam kereta itu, Sesekali pelayan An melihat ke arah junjungannya, yang hanya melihat ke arah luar jendela. Ia tau jika junjungannya sedang menangis.
Sesampainya di halaman pavilium nya, Putri Mahkota Qi Luxia langsung turun, sejenak ia menoleh ke arah pelayan An.
"Pelayan An, aku tidak ingin di ganggu." ucap Putri Mahkota Qi Luxia dengan tegas.
Putri Mahkota Qi Luxia menangis tersedu-sedu di atas kasurnya dengan posisi tengkurap, tangan kanannya memukul sang kasur. Seakan kasur itulah yang bersalah. Entah apa yang ia harus lakukan untuk mengobati hatinya.
"Pelayan An, bawakan aku arak," teriak Putri Mahkota Qi Luxia. Hari ini ia akan melepaskan semua beban pikirannya melalui arak. Padahal dirinya sangat lemah dalam hal arak, tapi ia sudah menepisnya. Mau lemah atau kuat, ia akan tetap meminum arak.
__ADS_1
Lima menit kemudian, Pelayan An masuk dengan membawa sebotol arak. Ia menaruh di meja, rasa khawatir mulai menakutinya. Tatapannya beralih ke ranjang yang tertutup kelambu.
"Putri,"
"Pergilah," bentak Putri Mahkota Qi Luxia.
Pelayan An menghembuskan nafas kasarnya, ia menunduk hormat dan berlalu pergi.
Setelah pelayan An pergi, Putri Mahkota Qi Luxia turun dari ranjangnya. Ia menuju ke arah meja dan duduk, lalu menuangkan secangkir arak.
Satu teguk
Tiga teguk
Matanya mulai berkunang-kunang. Ia mulai memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Aku salah, aku bodoh. Ah, perasaan ini aku sangat membencinya. Kenapa harus memberikan cinta jika cinta itu bukan untuk kita." ucap Putri Mahkota Qi Luxia di iringi deraian air matanya. Ia mengambil botol arak itu, lalu menuangkannya ke cangkirnya. Lagi-lagi dalam sekali teguk, arak itu habis.
"Aku benci dengan perasaan ku sendiri, aku benci dengan mu Putra Mahkota." teriak Putri Qi Luxia tertawa miris. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Lelah sudah pasti, bukan hanya lelah akan fisiknya, tapi ia juga lelah dengan perasaanya.
__ADS_1
Mungkinkah aku harus menyerah, mungkinkah aku harus melupakannya gumam Putri Mahkota Qi Luxia seraya memejamkan matanya.
Tak terasa malam telah tiba, Putra Mahkota kini telah sampai di paviliumnya. Ia langsung bergegas membersihkan dirinya. Setelah selesai membersihkan diri ia bergegas menuju ke arah meja yang di penuhi hidangan enak. Entah apa yang terjadi dirinya merasa ada sesuatu yang kurang. Sejenak ia mengingat wajah Putri Mahkota.
"Kasim, apa makanan ini di siapkan oleh Putri Mahkota?"
"Tidak Putra Mahkota, Putri Mahkota malam ini tidak datang." jawab sang Kasim.
Putra Mahkota diam sejenak, "Aneh kenapa dia tidak datang," Putra Mahkota menghentikan aktivitas makannya, ia kurang bernafsu untuk makan. Biasanya setiap ia pulang istana saat malam. Ia sudah mendapati Putri Mahkota yang mondar mandir di depan kediamannya, menunggunya pulang.
"Apa tidak terjadi sesuatu dengan Putri Mahkota?" tanya Putra Mahkota.
"Hamba rasa tidak Putra Mahkota, tapi hamba tadi pagi tanpa sengaja melihat Putri Mahkota turun dari kereta istana dengan wajah sedih," ucap sang Kasim. Dirinya memang merasa ada yang salah dengan Putri Mahkota tadi pagi. Ingin rasanya ia menghampiri Putri Mahkota tadi pagi, namun ia mengurungkannya.
"Hah, kenapa tiba-tiba aku mencemaskan nya," guman Putra Mahkota Yuan Feng.
"Apa Putra Mahkota, ingin menemui Putri Mahkota?" tanya sang Kasim.
Putra Mahkota Yuan Feng menaikkan satu alisnya, ia melirik sang Kasim.
"Membuat ku kesal saja," ucap Putra Mahkota Yuan Feng beranjak pergi. Kini dirinya kesal dan tidak bernafsu untuk melanjutkan santapannya.
__ADS_1