Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Bukti


__ADS_3

Sampai dikediaman Selir Mei, Ming Yue melihat Pangeran Jixiang menatap lembut ke arah Ibundanya.


"Ibunda istirahatlah." Ucap Pangeran Jixiang pergi meninggalkan Selir Mei.


"Kalian keluarlah, aku ingin sendiri." Ucap Selir Mei mengabaikan perkataan Pangeran Jixiang.


Para pelayan memberikan penghormatan undur diri.


Yang Mulia 17 tahun anda berubah, 17 belas tahun anda mengabaikan ku batin Selir Mei.


Selir Mei meringkuk di atas kasurnya, ia menangis dan semakin menangis. Hatinya sangat hancur.


Ke Esokan Paginya.


Selir Mei sudah melihat Ming Yue di depannya menunggu ia bangun. Matanya panas dan berair.


"Ming Yue siapkan aku air. " Ucap Selir Mei menatap kosong.


"Baik, Yang Mulia." Ucap Ming Yue.


Ming Yue menyiapkan air untuk Selir Mei.


Selesai aktivitas mandinya, Ming Yue merias Selir Mei.


"Yang Mulia apa anda sudah baikan?" tanya Ming Yue.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Selir Mei.


"Yang Mulia hamba mendengar kabar di istana dua hari lagi akan mengadakan kompetesi pertarungan. Bahkan juga akan di ikuti oleh semua Kaisar dan juga Kaisar Feng mencari Jendral pengganti Jenderal Liue." Ucap Sie Yue.


Ah sial kenapa kompetisi harus secepat ini batin Ming Yue


"Aku baru mendengarnya yang mulia tidak memberi tau ku." Ucap Selir Mei.

__ADS_1


"Baiklah aku ingin bertemu putra ku." Ucap Selir Mei.


" Baik, Yang Mulia." Selir Mei dan para pelayan menuju ke kediaman Pangeran Jixiang..


Sampai dikediaman Pangeran Jixiang ia melihat putra duduk termenung. Ia memang tidak ingin memberi taukan kedatangannya pada putranya ketika Kasim akaan berteriak ia menyuruh untuk diam.


"Pangeran Jixiang." Panggil Selir Mei. Pangeran Jixiang hanya menatap Selir Mei.


"Ada apa Ibunda?" tanya Pangeran Jixiang datar.


"Ibunda hanya merindukan mu." Ucap Selir Mei mengelus rambut Pangeran Jixiang.


"Nak jadilah kuat, kau haru menduduki Putra Mahkota." Ucap Selir Mei..


Pangeran Jixiang langsung menatap Selir Mei.


"Ibunda, Ji'er tidak ingin menduduki Putra Mahkota. Kenapa ibunda memaksa Ji'er?


Ji'er masih mencari keberadaan Permaisuri." Ucap Pangeran Jixiang.


"Ibunda hentikan ! kenapa Ibunda akan haus dengan tahta? bahkan Ibunda tidak pernah berubah pantas yang mulia Kaisar berubah pada Ibunda." Ucap Pangeran Jixiang lalu pergi meninggalkan Selir Mei yang menahan amarahnya.


Sementara Ming Yue tersenyum melihat perdebatan Ibu dan Anak..


Hah, rasakan ! tapi aku harus mencari cara untuk menemukan nya. *M*alam ini aku harus berhasil batin Ming Yue.


Selir Mei hanya menghela nafas panjang dan pergi meninggalkan kediaman Pangeran Jixiang.


Malam pun tiba, Ming Yue bersiap siap dengan baju laki lakinya dan menggunakan cadarnya ia keluar melalu jendala kamarnya menuju ke Pavilium Teratai. Ia juga melihat para prajurit sedang berpatroli.


Ming Yue mengendap-ngendap melewati jendela di kamar Selir Mei. Ia melihat Selir Mei tertidur pulas. Ming Yue langsung mengeluarkan obat pingsan agar Selir Mei tidak terbangun jika tanpa sengaja membuat suara.


Ming Yue melihat semua kotak di depan meja rias Selir Mei. Ia memeriksa satu per satu namun tidak menemukan buktinya.

__ADS_1


Ia terus mencari sana sini Namun tidak menemukan apapun hingga Ming Yue frustasi kesal. Saat mulai berputus asa Ming Yue terduduk lemas dilantai. Tanpa sengaja matanya melihat sebuah kotak dibawah ranjang Selir Mei.


Ming Yue mendekati ranjang Selir Mei dan melihat kotak itu ternyata isinya sebuah racun terdapat sebuah surat tentang perintah memberikan racun pada Permaisuri Lan Hua dan perintah tentang pembunuhan secara sengaja pada Permaisuri Lan Hua.


Ming Yue tersenyum sinis ke wajah Selir Mei. Ia mengambil semua bukti dan hanya meninggalkan kotak kosong agar tidak curiga jika kotaknya menghilang..


Setelah menemukan semua bukti Ming Yue meleset pergi meninggalkan kediaman Selir Mei menuju ke tempat bisnisnya menemui ke Tiga saudaranya.


Mereka janjian jika tempat bisnis atau kediaman Ming Yue sebagai pertemuan ..


Setelah keluar dari istana Ming Yue secepat kilat menggunakan Qingqongnya dari satu atap ke atap lainnya hingga sampai dihalaman belakang kediamannya. Ia melewati jendela kediamannya. Ia langsung membuka cadarnaya dan keluar menuju tempat pertemuan mereka ternyata ia melihat gegenya sedang bermain catur dengan senang


Apa mereka main dengan senangnya sementara aku kesusahan mencari buktinya batin Ming Yue.


"Gege." Teriak Ming Yue.


ke Tiga bersaudara langsung menoleh dan berlari menuju Ming Yue yang masih berdiri.


"Bagaimana Meimei?" tanya Chen.


"Aku sudah menemukan buktinya,ini." Ucap Ming Yue menyerahkan beberap buktinya. Ke tiga saudara membuka gulungan surat itu dan membacanya mereka tersenyum sinis.


"Kau memang Meimei yang terbaik." Ucap Changyu tertawa.


"Baiklah aku harus secepatnya kembali ke istana dan aku akan mengikuti pertarungan itu. Aku sangat yakin, aku pasti menang." Ucap Ming Yue.


"Emm baiklah, tapi sangat berbahaya. Bagaimana jika lawan Meimei sangat kuat?" tanya Chen.


"Kan ada kalian yang membantu ku." Jawab Ming Yue.


"Mana buktinya biar aku yang menyimpannya." Ucap Ming Yue merampas semua buktinya di tangan gegenya dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Sampai di Istana. Ming Yue dengan mudahya pergi kekediamannya tanpa diketahuai oleh siapa pun.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa tidur nyenyak." Ucap Ming Yue memejamkan matanya.


__ADS_2