
Lan Hua yang melihat Kaisar Feng tak sadarkan diri matanya melotot tajam ke arah Kaisar Feng. Dadanya naik turun menahan amarah ia menoleh ke arah Tetua Hui
yang tersenyum sinis..
Bahkan Jendral Liue,, Jendral Fangyin. Ke empat saudara dan Para Kaisar melihat itu pun terkejut. Sangat besar pengorbanan Kaisar Feng pada Lan Hua...
Mereka juga melihat ada kobaran api di mata Lan Hua..
"Rexi keluarlah." ucap Lan Hua..
Rexi pun keluar dari dalam dimensi Lan Hua.
Ia menunduk memberi hormat.
Sementara semua orang terkejut melihat kuda putih memiliki sayap,,,
"Rexi panggil seluruh pasukanmu." ucap Lan Hua..
Seketika tubuh Rexi mengeluarkan cahaya dari arah Timur terlihat banyak kuda putih terbang di langit. Melihat keindahan tersebut semua orang tanpa berkedip...
Seluruh Kuda putih sampai di hadapan Lan Hua ia menunduk memberikan hormat pada ratunya..
"Rexi bawa Kaisar Feng dan pangeran Jixiang ."perintah Lan Hua dengan nada tegas.
"Untuk kalian. " Lan Hua menunjuk ke arah pasukan kuda putih.
"Bawa semua Para Kaisar,, Pangeran dan Seluruh Pasukannya.
Untuk Gege Changyu bawa pasukan Gege obati mereka. Cepat bukan waktunya kalian terkejut. Luka di tubuh kalian mengandung racun. Jadi kalian secepatnya obati." teriak Lan Hua menahan amarahnya.
"Heemm, tidak semudah itu kalian pergi. Lihat lah semua anak panah akan tertancap di tubuh kalian." ucap Tetua Hui..
"Benarkah,, Red keluarlah." perintah Lan Hua.
Red keluar dari dalam dimensinya.Semua orang terkejut ia tidak pernah melihat Burung Phoenix legenda termasuk Tetua Hui.
Bagaimana mungkin batin tetua Hui.
Lan Hua tersenyum sinis ke arah Tetua Hui..
"Hanguskan para pemanah itu, Red" ucap Lan Hua tersenyum sinis...
Red pun mengepakkan sayapnya. Seketika para tubuh pemanah terbakar mereka berteriak kesakitan hingga tubuh mereka menjadi abu.
Ketua Hui melihat itupun terkejut ia mulai ketakutan namun memberanikan diri..
"Bagaimana Tetua Hui ? menyenangkan !!
Kalian pergilah biar Aku dan pasukan ku menghadapi mereka."ucap Lan Hua tersenyum sinis.
Akhirnya mereka pun menurut ucapan Lan Hua..dan pergi menuju ke Istana Kaisar Feng...
"Red musnahakan seluruh pasukan Klan darah sisakan Tetua Hui." ucap Lan Hua..
__ADS_1
Red mengepak kan sayap apinya seketika seluruh pasukan Klan Darah mati hangus terbakar. Tetua Hui ingin kabur tapi tidak bisa.
Tetua Hui melihat ke arah Lan Hua yang
menatapnya tajam,
Seketika Lan Hua berada di depan Tetua Hui.
Tetua Hui melihat kobaran api dimata Lan Hua. Pedang yang ia genggam seketika jatuh ke tanah Lan Hua mengelilingi Tetua Hui.
Beberapa detik kemudian terjadi sebuah ledakan di atas kepala mereka. Sang Naga Hitam telah musnah dikalahkan oleh Dragon.
Lan Hua tersenyum sinis menatap Tetua Hui,,
"Anda melimpahkan kesalahan Keponakan Anda pada Para Kaisar. Keponakan Anda mati karna kesombongannya sendiri
Bahkan Anda melukai Suami Saya,bukankan nyawa harus dibalas dengan nyawa." ucap Lan Hua menatap tajam mengelilingi Tetua Hui.
Tetuai Hui tidak bisa apa apa tubuhnya tidak bisa bergerak.
Dalam sekejap Lan Hua berada di depan Tetua Hui. Ia mengayunkan pedangnya menyilang hingga tubuh Tetua Hui terpotong menyilang menjadi 10 bagian,
Dada Lan Hua naik turun menahan amarahnya tanpa basa basi Lan Hua menaiki Dragon..
"Raja Singa penjaga Hutan Kematian keluarlah." ucap Lan Hua..
Raja Singa dan seluruh pasukannya keluar dari Hutan Kematian mereka menunduk hormat pada Lan Hua..
"Dan kalian.." menunjuk pada pasukannya.
"Kembalilah ke istana bunga." ucap Lan Hua datar..
Para pasukan Lan Hua memberikan hormat pada Lan Hua dan pergi menuju Istana Bunga,,,
Sementara Lan Hua,, Jendral Fangyin,, Jendral Liue dan Ketiga saudara pergi ke Istana Feng..
Kekaisaran Feng,,,
Lan Hua sampai di halaman Istana Feng.
Semua penghuni Istana terkejut dengan adanya sang gadis menaiki se ekor Naga.
Bahkan di ikuti oleh Singa yang baru sampai.
Lan Hua tidak memperdulikan keterkejutan para penghuni Istana.
Lan Hua berlari menuju ke Kediaman Naga.
Sampai di kediaman naga. Ia melihat para Tabib dan Gegenya mengobati Kaisar Feng. Ia juga melihat Ibu Suri dan Pangeran Jixiang menangis memanggil nama Kaisar Feng..
Dengan langkah kaki berat Lan Hua menghampiri mereka.
Pangeran Jixiang melihat Lan Hua. Ia memeluk Lan Hua begitu erat.
__ADS_1
Lan Hua membalas pelukan Pangeran Jixiang.
"Ibunda." ucap Pangeran Jixiang..
Lan Hua terkejut ketika Pangeran Jixiang memanggilnya sebutan Ibunda. Mendengar nama panggilan itu Lan Hua tersenyum..
"Maafkan Ibunda." lirih Lan Hua..
Melepaskan pelukan Pangeran Jixiang.
Lan Hua membuka cadar ia menghampiri Ibu Suri.
"Ibu. " ucap Lan Hua..
Ibu suri menoleh memeluk Lan Hua.
"Feng'er"..
"Tenang Ibunda, tidak akan terjadi apa-apa" ucap Lan Hua..
Sementara hatinya sedih,, khawatir dan merasa bersalah..
Lan Hua melepaskan pelukan Ibu Suri ia menghampiri Gegenya dan Para tabib..
"Gege bagaimana keadaan yang mulia?" tanya Lan Hua..
"Yang mulia terkena racun. Gege berharap penawarnya cepat beraksi. Jika tidak Gege tidak tau apa yang akan terjadi." ucap Changyu..
Setelah menyelesaikan perban pada tubuh Kaisar Feng, Changyu dan tabib memberikan penghormatan undur diri.
Tanpa disadari Lan Hua meneteskan air matanya.
"Yang Mulia." lirih Lan Hua..
"Pangeran Jixiang,, Ibu Suri beristirahat lah biar Hua'er yang menjaga Kaisar Feng." ucap Lan Hua..
Mereka pun meninggalkan Lan Hua dan Kaisar Feng berdua.
Termasuk Jendral Liue dan Jendral Fangyin ketiga saudara yang mengikuti Lan Hua tadi...
Lan Hua mendekati Kaisar Feng,,ia menggenggam tangan Kaisar Feng...
"Yang Mulia sadarlah. Apa yang mulia tidak ingin melihat hamba?" ucap Lan Hua menangis tersedu sedu ia mengelus pipi Kaisar Feng.
Setiap Saat Setiap Waktu Setiap Hari.
Lan Hua tidak pernah meninggalkan Kaisar Feng. Ia terus menjaga Kaisar Feng layaknya seperti Ibu menjaga Anaknya. Mengompres tubuh Kaisar Feng dan memberikannya obat tepat waktu.
Masalah Istana Bunga ia serahkan pada Gege Chen dan Jendral Fangyin..
Sementara Jendral Liu dan Ketiga Bersaudara menemani Lan Hua di Istana Feng...
Bahkan Lan Hua tidak pernah keluar dari Kediaman Naga...
__ADS_1