
Kini matahari telah kembali ketempat peraduannya. Burung-burung pun telah kembali ke sarangnya. Bulan purnama telah menyapa para bintang. Mereka pun memancarkan cahaya, berharap makhluk di bumi melihat keindahannya dan menyapanya.
Angin malam yang telah mengusik kedua insan melalui jendela. Namun sang laki-laki tambah mengeratkan pelukannya. Berharap sang gadis tidak terusik dengan dinginnya angin malam.
"Kenapa belum bangun? apa pelukan ku sangat enak?" gumam laki-laki itu terkekeh seraya mengelus kepalnya. Ia menyandarkan dagunya di kepala Putri Mahkota.
Sedari tadi ia bangun karna lapar. Tapi karna melihat wanita di dekapannya tertidur pulas. Ia tidak tega meninggalkannya.
Sementara sang gadis terusik dengan elusan itu, ia membuka matanya. Tapi yang ia lihat pertama kali dada bidang.
Putri Mahkota langsung beranjak bangun. Tanpa sengaja dia menyenggol dagu tegas Putra Mahkota. Hingga Putra Mahkota mengerang kesakitan.
Aaa
"Apa Putri Mahkota berniat merontokkan gigi ku?" tanya Putra Mahkota menatap kesal.
"Maaf Putra Mahkota," Putri Mahkota Qi Luxia menggerakkan tangannya, mengelus dagu itu. Seulas senyum semirik mulai muncul di bibirnya.
"Bisakah Putri Mahkota mengelus dengan lembut. Ini sakit," ucap Putra Mahkota.
"Maaf hamba kira Putra Mahkota siapa? hamba takut ada yang memperkosa hamba. Bagaimana jika hamba memanggilkan Tabib."
__ADS_1
"Tidak perlu, Putri tinggal mengelusnya saja."
Ternyata menyenangkan melihat wajahnya yang khawatir. Aku ingin sekali mencubit pipinya batin Putra Mahkota menatap lekat wajah Putri Mahkota.
"Bagaimana Putra Mahkota? apa masih sakit?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia.
"Ah, sudahlah elusan mu membuat ku tidak nyaman."
"Maaf," cicit Putri Mahkota.
"Hem, tapi bagaimana dengan tubuhmu? apa masih tidak nyaman?"
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?" tanya Putra Mahkota bermaksud menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Hah," Putri Mahkota menghela nafas ia menunduk dengan wajah sendu.
"Jika tidak ingin bercerita, ya sudah." ucap Putra Mahkota beranjak pergi.
"Tunggu, hamba akan menceritakanya. Tapi tolong jangan mengejek hamba."
"Ceritakan saja siapa yang akan mengejekmu. Memangnya orang tampan seperti ku suka mengejek mu."
__ADS_1
Tampan sih,
"Dulu sewaktu kecil hamba pernah di serang bandit dan menewaskan pengawal serta pelayan hamba. Hanya pelayan An yang selamat. Untung saja ada anak kecil berhanfu biru dan beberapa pengawalnya menolong hamba."
"Hamba hanya ingat anak kecil itu memberikan sebuah cincin giok berwarna hijau sebagai tanda perkenalan hamba dengannya," jelas Putri Mahkota. Jujur saja ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ingin rasanya ia menemuinya lagi. Namun sekarang ia harus memberikan cintanya terhadap Putra Mahkota dan menghilangkan rasa cinta masa kecilnya itu.
"Apa Putri Mahkota bisa menunjukkan cincin itu?" tanya Putra Mahkota dengan penuh harap.
"Ba, baiklah hamba akan menunjukkannya."
Putri Mahkota turun dari ranjangnya. Lalu menuju ke arah kotak dekat cerminnya.
"I, ini Putra Mahkota." ucapnya terbata-bata. Hatinya takut jika Putra Mahkota membuangnya. Hanya itu yang ia miliki dari penolongnya sekaligus orang yang pertama kali singgah di hatinya. Dengan cara itu ia bisa bertemu lagi dengan penolongnya.
Putra Mahkota menerima kotak itu dan membukanya. Ia terkejut, ternyata dugaannya benar. Jadi gadis kecil yang ia tolong adalah wanita di depannya ini. Wanita yang pernah ia bentak dan mengabaikkannya. Ada rasa penyesalan di hatinya.
"Apa Putri Mahkota masih berharap bertemu dengannya?" tanya Putra Mahkota menatap Putri Mahkota Qi Luxia.
Putri Mahkota Qi Luxia menunduk, "Hamba ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terimakasih."
Tapi tentunya pertemuan itu, pertemuan kedua kalinya dan yang terakhir kalinya batin Putri Mahkota.
__ADS_1