
Ke Esokan harinya.
Para pelayan dan pengawal ricuh mendengarkan ada penyusup masuk ke kamar Permaisurinya. Mereka ketakutan, jika terjadi sesuatu pada Permaisurinya. Sudah pasti nyawa mereka juga akan melayang. Rasa khawatir itu membuat mereka harus meningkatkan keamanan.
Sementara ruangan Selir Mei berantakan pecahan vas bunga dimana mana. Rencananya gagal total. Padahal ia sudah menyiapkan sebuah perayaan pesta. Ia tidak tau, bagaimana caranya Lan Hua bisa lolos dari maut yang mengintainya. Dan sekarang dia harus merencanakan yang jedua.
Aragh !
"Sial mengapa wanita itu beruntung? kenapa harus gagal? aku sudah membayarnya dengan mahal. Dasar pembunuh tidak becus." Selir Mei yang berteriak di dalam kediaman hingga urat lehernya terlihat.
"Tenang Selir, kita masih memiliki kesempatan." Lagi-lagi ia menenangkan Selir Mei. Semenjak Permaisurinya kembali dari pengasingan. Selir Mei mudah marah dan berteriak, menghancurkan kediamannya. Obsesinya terhadap Kaisar melebihi Permaisuri Lan Hua.
"Sie Yue, apa semudah itu kau ucapkan, hah?" Selir Mei melangkah ke arah Sie Yue, ia mencengkram dagunya kemudian menghempaskan nya ke lantai.
"Selir Mei kita bisa menggunakan cara yang kedua." Ucap Sie Yue menunduk.
"Benar Sie Yue,, aku harus berusaha membunuhnya dengan cara apapun." Ucap Selir Mei menggigit bibir bawahnya.
"Sie Yue malam ni pergilah cari ramuan yang mematikan. Hingga jalang itu tidak memiliki kesempatan untuk hidup."
Sie Yue pun bergegas berdiri, ia memberikan hormat dan berlalu pergi. Lebih baik ia pergi menjalankan perintahnya, dari pada harus menjadi bonekanya saat marah. Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke Ibu Kota. Sie Yue mencari toko obat, lalu membelinya dengan tergesa-gesa. Ia melihat kanan kirinya, berharap tidak ada seseorang yang mengenalinya wajahnya.
Setelah membeli racun itu, Sie Yue kembali ke istana "Hamba sudah membeli racunnya, Selir." Tutur Sie yue memberikan sebuah botol pada Selir Mei..
Selir Mei tersenyum licik memandangi botol tersebut, menciumnya dengan penuh cinta. Ia menaruh di sebuah kotak, menyimpannya supaya aman.
"Kita tunggu saja waktu yang tepat." Ucap Selir Mei yang di angguki oleh Sie Yue. Setelah memberikan racun itu, kini ia bernafas lega.
Sementara di pavilium Phoenix.
Lan Hua tengah asiknya tertidur pulas dengan mimpi indahnya. Sesekali ia tersenyum dan memeluk selimutnya.
__ADS_1
"Permaisuri, cepat bangun ni sudah pagi." Ucap Yoona. Ia mengkerutkan keningnya melihat Permaisuri Lan Hua tersenyum dalam mata terpenjam.
"Ya ampun Permaisuri, ayoo bangun malu pada ayam yang sudah bangun dari tadi."
Lan Hua bangun dengan posisi duduk yang masih memejamkan matanya.
"Jiejie itu hanya ayam bukan manusia." Ucap Lan Hua menjatuhkan lagi badannya keatas kasur.
"Meimei, ayoo bangun. Tidak baik jika seseorang mengetahuinya. Pasti akan ada rumor tidak enak."
"Hormat hamba Yang Mulia, di depan ada Jendral Liue ingin bertemu dengan Permaisuri." Ucap salah satu pelayan yang tiba-tiba masuk. Seketika Lan Hua membuka matanya dengan lebar-lebar.
Hemmm pagi-pagi sudah mengganggu tidurku saja gumam Lan Hua kesal.
"Jiejie siapkan air aku akan mandi."
"Dan kau pergilah suruh Jendral Liue menunggu." Ucap Lan Hua yang menunjuk pelayan itu.
"Hormat hamba Jenderal Liue, Jenderal Liue di suruh menunggu karna Yang Mulia sedang membersihkan diri." Ucap pelayan tadi
"Baiklah."
Beberapa saat kemudian, pintu kediaman itu terbuka lebar. Memperlihatkan gadis cantik yang berpakaian warna biru dengan riasan sederhana.
"Jendral Liue apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada ku?" tanya Lan Hua datar.
"Hua'er tadi pagi Ayah mendengar kabar, jika tadi malam ada penyusup ke kamar mu, apa kau tidak apa apa?" tanya Jendral Liue penuh kekhawatiran. Ia menatap Lan Hua yang memalingkan wajahnya.
"Ooo, itu ya, aku tidak apa,, ada salah satu pengawal Kaisar yang menolong ku." Jawab Lan Hua berbohong.
"Syukurlah, Ayah akan memperketat penjagaan di kediaman mu."
__ADS_1
"Tidak perlu aku bisa menjaga diriku dengan baik." Ujar Lan Hua memutar lehernya ke arah Jenderal Liue. "Jika tidak ada yang perlu dibahas lagi. Aku pergi dulu karna waktu ku juga berharga." Sambung Lan Hua melangkahkan kakinya, meninggalkan Jenderal Liue. Namun beberapa langkah, suara itu menghentikannya.
"Hua'er, bisakah kau memanggilku Ayah." Lirih Jendral Liue.
"Ayaah?"
Lan Hua hanya tersenyum sinis menatap Jendral Liue. Hatinya meringis mendengarkan panggilan ayah. Sejak dulu, impiannya memanggil ayah dengan sejuta cinta pada laki-laki di depannya ini.
"Sudah lama aku tidak menyebut kata Ayah. Apakah Jendral Liue masih berharap aku menyebutkan kata itu?" Rasa sakit hingga sekarang membuatnya tak ingin menyebut nama ayah.
"Hua'er maafkan Ayah. Ayah egois, maafkan Ayah." Ucap Jenderal Liue dengan mata berkaca kaca.
"Jenderal Liue apa kau tau semenjak kecil aku selalu berharap kasih sayang mu dan cinta mu, tapi tersenyum mengingat masa lalunya...
Semua itu kau tidak mempedulikannya miris sekali bukan masa kecilku,
Jenderal Liue,
jika aku dilahirkan harus mengorbankan nyawa Ibunda tentu aku tidak ingin dilahirkan anak mana yang rela Ibundanya mati,
selama kau tidak memperdulikan ku hanya Ibunda Selir menyayangi ku, membela ku bahkan kau marah ketika Ibunda Selir ke kediaman ku, apa itu yang dinamakan seorang Ayah?
Seharusnya kau menjaga ku, karena aku titipan dari ibunda yang perlu kau jaga, yang perlu kau sayangi. Ibu mempertaruhkan nyawanya hanya demi peri kecil yang ingin ia berikan pada mu. Berharap kamu mencintai ku seperti dia mencintai ku.
Tapi kau ..
Lantas, apa yang bisa ku sebut untuk dirimu?"
Lan Hua pergi meninggalkan Jenderal Liue yang menangis. Akan tetapi Jenderal Liue mengejar Lan Hua dan memeluknya dari belakang.
"Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah." Ucap Jenderal Liue.
__ADS_1
Lan Hua melepaskan pelukan Jenderal Liue dan pergi meninggalkannya.