Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Membuat Istana


__ADS_3

Kaisar Feng dan pengawalnya tersadar dari keterkejutannya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Gunung Wu.


Disisi lain.


Lan Hua yang meninggalkan mereka dengan menggunakan Qingqongnya, tidak butuh waktu lama Lan Hua sudah sampai di depan pohon menuju ke Hutan Surgawi.


Lan Hua langsung memasuki pohon tersebut. Dan sudah ada beberapa Raja yang menyambutnya. Tidak heran jika mereka menyambutnya karena sudah merasakan aura Lan Hua.


"Salam hormat, Yang Mulia." Ucap Para Raja.


"Aku tidak perlu basa basi. Aku langsung saja mengatakannya pada kalian. Aku akan mendirikan istana di Hutan Surgawi dan aku akan membawa budak atau yatim piatu untuk menjadi rakyat ku.''Tutur Lan Hua.


"Jadi aku meminta bantuan kalian untuk membuat istana. Selain membuat Istana ku kalian juga harus membuat bangunan untuk rakyat ku dan Dragon juga akan ikut membantu." Ucap Lan Hua.


"Dragon, Red dan Rexi keluarlah." Perintah Lan Hua. Kalung Lan Hua pun bercahaya, kemudian munculah ketiga hewan di depannya.


"Dragon dan Rexi bantu mereka dan Red membantuku membuat senjata."


"Baik, Yang Mulia hamba akan segera melaksanakan." Ucap Para Raja, Red dan Dragon.


"Dan satu lagi aku akan menginap disini untuk membuat senjata."


Para Raja yang mendengarkan Lan Hua akan menginap merasa sangat senang. Mereka mengeluarkan suarnya, sebagai tanda kebahagiaan. Sudah lama para Raja dan bawahannya merindukan keusilan Lan Hua.


"Baiklah, aku akan mulai membuat senjata sementara kalian mulailah bekerja."

__ADS_1


Para Hewan melegenda itu mengubah dirinya menjadi manusia. Lan Hua mengkedipkan matanya seraya membulatkan mulutnya, ia tidak menyangka baru kali ini ia melihat siluman berubah menjadi manusia di depan matanya sendiri.


Ternyata mereka tampan, tampan dan cantik,


ais, kenapa aku jadi melamun sebaiknya aku harus cepat melaksanakan tugas ku gumam Lan Hua menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tanpa rasa lelah dan letih Lan Hua terus menggunakan energinya dengan bantuan Red. Ia juga memberikan Kultivasinya pada senjatanya untuk memblokir serangan dari Klan Iblis.


Kini Lan Hua memiliki banyak senjata ya mampu digunakan untuk ribuan orang. Ia kemudian memasukkan semua senjatanya ke ruang dimensinya.


Lan Hua berdecak pinggang, ia merasa terharu melihat para bawahannya bergotong royong berusaha keras membangun istana yang megah.


Kini Istana itu sudah separuhnya berjalan.


Baiklah aku tidur batin Lah Hua.


Beberapa jam kemudian, Lan Hua terbangun. Ia mengucek kedua matanya, lalu menoleh.


Ia tidak bisa berkata apa-apa melihat keindahan di depannya. Istananya berdiri dengan megah di kelilingi hamparan bunga sakura. Ia turun dari dahan itu, menatap istananya.


"Istana Bunga." Ujarnya.


Ia menamakan istananya dengan Istana Bunga, karena ia melihat seluruh bunga menjalar di dinding Istananya bahkan di depannya Istananya terdapat danau dikelilingi berbagai macam bunga.


"Para Raja serta bawahannya, Dragon dan Red. Terimakasih kalian adalah teman yang membantuku." Ucap Lan Hua seraya memeluk Dragon dengan erat.

__ADS_1


"Ini tidak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan Ratu." Ucap Rexi. Lan Hua mengangguk, ia memeluk Rexi. Ia melepaskan pelukannya dan menatap para Raja. "Baiklah aku harus pergi kembali ke istana karena aku yakin Yang Mulia akan secepatnya kembali ke istana." Ucap Lan Hua.


Dengan sekejap mata Dragon, Red dan Rexi menghilang dari hadapan mereka. Lan Hua melangkah keluar Hutan Surgawi. Sebelum ia memasuki pohon itu, Lan Hua berbalik. Ia melambaikan tangannya. Kemudian memasuki pohon yang sudah terbuka itu.


Sesampai di kediamannya..


Lan Hua melihat Yoona dengan setia menunggunya di depan jendela kamarnya.


"Meimei." Ucap Yoona memeluknya. "Apa kau baik baik saja?" tanya Yoona.


"Tenang, semua lancar Jiejie. Bisakah aku istirahat dulu Jiejie, aku ngantuk." Ucap Lan Hua sambil menguap.


"Baiklah, Istirahatlah dulu Meimei." Ucap Yoona mengelus surai hitamnya, lalu meninggalkan Lan Hua.


hoeeeemmmm lelah sekali gumam Lan Hua.


Ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Sebelum ia memejamkan matanya, sebuah angin memasuki kediamannya itu. Lalu membungkuk hormat.


"Hormat hamba, Yang Mulia." Ucap mereka Berempat.


"Gege, Jiejie aku merindukan kalian." Lan Hua turun dari ranjangnya, menghampiri ke empat Bersaudara. Ia memeluknya secara bergantian, melepas rindu yang mulai menggebu-gebu.


''Bagaimana kabar Gege dan Jiejie? apa rencana kita juga lancar?" cerocos Lan Hua.


"Semuanya lancar, bahkan kami semua sudah memiliki anak buah dan kami sudah membawanya ke Hutan Kematian, mulai malam ini mereka akan Berkultivasi." Jawab Chen tersenyum.

__ADS_1


"Tunggu kabar baiknya 3 hari lagi Meimei." Ucap Ming Yue.


__ADS_2