
Lan Hua dan Jenderal Fang Yin terus menelusuri Hutan Kematian.
Setiap penghuni Hutan Kematian berpapasan dengan Lan Hua mereka menundukkan kepalanya. Sebagai tanda penghormatan pada Lan Hua.
"Jiejie aku ingin sekali bertemu dengan Gege, aku sangat merindukannya. Apa Jiejie tidak merindukan Gege Chen?" tanya Lan Hua.
Jenderal Fang Yin yang mendengarkan penuturan Lan Hua, seketika wajahnya bak kepiting rebus. Ia sangat malu mendengarkan namanya saja, apa lagi bertemu dengan orangnya.
"Kau lucu Jiejie." Ucap Lan Hua terus memacu kudanya.
Sampailah Lan Hua dan Jenderal Fang Yin di kawasan Raja Singa di tempat Chen melatih pasukannya. Ia melihat Chen serius melatih pasukannya tanpa menyadari kedatangannya.
"Gege." Teriam Lan Hua dari kejauhan.
Chen menoleh ia melihat adik kesayangannya sekaligus Ratunya dan gadis yang ia cintai. Lan Hua berlari, ia sangat merindukan Chen.
"Gege aku merindukan mu." Ucap Lan Hua melepaskan pelukannya.
"Benarkah, Gege juga merindukan Hua'er." Ucap Chen sambil mengacak rambut Lan Hua.
Jenderal Fang Yin tersenyum melihat kedekatan seorang Adik dengan Kakaknya. Meskipun wanita di depannya dan pujaannya tidak memiliki hubungan darah. Kedekatan mereka sangat kental melebihi hubungan darah.
"Aah, maaf Jiejie jangan cemburu, ya." Ucap Lan Hua dengan menggoda Jendral Fang Yin.
"Baiklah aku pergi ingin bermain dengan penjaga Hutan Kematian." Ucap Lan Hua
mengedipkan satu matanya kemudian berlari dengan tertawa.
Jenderal Fang Yin dan Chen masih fokus melihat ke arah Lan Hua yang sudah mulai menjauh.
"Chen,, aku tadi bertemu dengan seorang pemuda di Hutan Kematian." Ucap Jenderal Fang Yin.
"Apa pemuda itu tampan? jika tampan aku akan menghancurkan wajahnya. Sehingga calon istri ku tidak bisa melihat wajahnya lagi." Ucap Chen menggoda.
"Berhentilah bercanda, aku serius tapi aku curiga, wajahnya mirip dengan Kaisar Feng aku melihat diri Kaisar Feng ada pada dalam diri anak pemuda itu.'' Tutur Jenderal Fang Yin.
"Apa kau serius? aku bahkan tidak tau seperti apa wajahnya tapi aku selalu mendengarkan rumor dia sangat tampan. Aku hanya tau namanya saja, dia Pangeran Jixiang." Ucap Chen.
Gawat dia tidak boleh curiga jika aku dan ketiga saudara ku mencari bukti kejahatan Selir Mei.
Memang Hua'er tidak membutuhkan kebenaran itu, tapi aku tidak rela Meimei kesayangan ku harga dirinya di jatuhkan.
Jenderal Fang Yin tidak boleh curiga batin Chen.
" Chen." teriak Jendral Fang Yin.
"Eeee ada apa?" tanya Chen langsung menoleh ke wajahnya.
"Kenapa kau melamun? disaat aku seriusnya membahasnya." Ujar Jenderal Fang Yin cemberut.
__ADS_1
"Maaf, kau sungguh menggemaskan, aku ingin memakan mu." Ucap Chen. Ia tidak boleh membuat Jenderal Fang Yin curiga.
"Kapan kita akan menikah?" tanya Chen dalam wajah serius
"Setelah Hua'er mendapatkan kebahagiaannya. Kau tau bukan dia memilih sendiri bahkan Istana Bunga harus memiliki penerus."
"Benar kita harus berusaha membuatnya bahagia." Ucap Chen menggenggam tangan Jenderal Fang Yin
Dari kejauhan ia melihat Lan Hua berlari.
Hosh
Hosh
Hosh
"Aku lelah." Ucap Lan Hua. Ia duduk di bawah pohon rindang di samping Jenderal Fang Yin dan Chen. Kemudian menyandarkan punggungnya.
"Baiklah istarahat, kau ini seperti anak kecil saja." Ucap Chen.
"Kapan kalian menikah?" tanya Lan Hua pada mereka seraya menghapus keringat di dahinya dengan hanfu lengannya.
Jenderal Fang Yin dan Chen hanya saling menatap.
"Kita masih belum kepikiran kesana Hua'er." Ucap Chen.
Lan Hua menghela nafas ia tau jika mereka masih memikirkan kebahagiaannya.
"baiklah Gege sudah hampir gelap aku akan kembali ke Hutan Surgawi ayah pasti menunggu ku." Ucap Lan Hua. Ia berdiri seraya mengibas-ngibaskan hanfunya agar tidak ada daun yang melekat di pakaiannya.
"Baiklah hati-hati." Ucap Chen pada mereka yang sudah menunggangi kuda.
Sementara Chen pergi menemui ke Tiga saudaranya di kota menggunakan Qingqongnya.
Sampai di kota ia masuk ke sebuah tempat makan, tempat bisnis Ming Yue.
"Salam tuan." Ycap salah satu pelayan.
Ia sudah tau jika Chen saudara nyonyanya.
"Silahkan ikuti saya tuan,, nyonya sedang bermain catur dengan kedua saudara tuan." Ucap pelayan.
Chen hanya mengikuti langkahnya, sampailah ia di sebuah ruangan ia melihat jika ketiga saudaranya bermain catur.
"Kau kalah lagi Gege." Ucap Ming Yue tertawa terbahak-bahak.
"Huh, aku tidak akan kalah lagi, ayo main lagi." Ucap Chanyu. Ia selalu kalah dalam hal main catur.
Sementara Changyi ikut tertawa melihat Changyu kalah lagi, lalu ia melihat Gege nya berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Gege." Sapa Changyi.
kedua bersaudara menoleh ke arah Chen yang mulai mendekati ke arahnya.
"Ada apa gege? " tanya Changyu.
"Gege harus memberitau kalian informasi." Ucap Chen dengan serius.
"Apa Gege?" tanya Ming Yue.
"Lan Hua dan Jendral Fang Yin bertemu dengan Pangeran Jixiang di Hutan Kematian." Tutur Chen.
"Apa !" teriak mereka.
"Apa Gege serius?" tanya Changyi.
"Iya, tapi Hua'er, Gege rasa tidak menaruh curiga sementara Jenderal Fang Yin menaruh curiga." Jelas Chen memperlihatkan wajah kebingungan.
"Kita harus secepatnya mencari kebusukan ulat bulu." Ucap Changyu.
"Tapi kita telah berusaha. Namun tidak ada hasilnya." Ucap Changyi.
"Gege, aku memiliki rencana bagaimana jika kita menyuruh penyusup ke istana menyamar menjadi pelayan Selir Mei?" tanya Ming Yue.
"Tapi tidak ada pendaftaran untuk pelayan kerajaan." Ucap Changyi.
"Tunggu kalian berkata pelayan." Chen langsung tersenyum.
"Gege tadi mendengarkan pengumuman dari pembicaran kedua wanita saat menuju kesini jika ada sebuah seleksi penerimaan pelayan Istana. Besok pagi kita bisa menyuruh orang memasuki Istana." Ujar Chen.
"Bagaimana jika aku saja memasuki Istana?" tanya Ming Yue.
Serempak ke tiga Saudara melihat ke arah Ming Yue.
"Meimei kau yakin, apa Selir Mei tidak akan tau? dia pernah berpapasan dengan kita saat ke istana bersama Hua'er dulu." Ucap Changyu seraya menaikkan alisnya.
"Kejadian itu sudah lama Gege aku yakin ulat bulu itu tidak akan ingat wajah ku. Aku juga akan menyamar." Ucap Ming Yue. Ia sudah memikirkan rencananya.
"Apa kau yakin ini sangat berbahaya?" tanya Changyi.
"Benar aku sangat yakin Gege." Ucap Ming Yue meyakinkan mereka bertiga.
"Aku juga mendengar pengumuman jika jstana mengadakan perlombaan pertarungan. Bahkan diadakan semua Kekaisaran Feng." Ucap Chen.
Ming Yue mengetuk ngetuk mejanya menggunakan jari telunjuknya. Sementara ke Tiga bersaudara kalut dalam pikiran masing-masing.
"Jika kita berhasil mencari buktinya. Kita akan membongkar kejahatan Selir Mei pada saat perlombaan itu, dengan begitu Selir Mei akan malu." Ucap Ming Yue.
"Wah ide mu sangat bagus Meimei. Kau harus berusaha mencari buktinya." Ucap Chen.
__ADS_1
"Baiklah kita semangat pemberantas kejahatan." Ucap Ming Yue dengan gagah berani.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama dan menghabiskan malam bersama.