Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
season 3 : Mengejar Cinta Pria Dingin


__ADS_3

Ke esokan paginya.


Setelah selesai merias diri Qi Luxia menuju ke pavilium Lan Hua. Bermaksud memberikan salam, sudah kebiasaan bagi setiap anggota baru istana akan memberikan salam kepada Permaisuri, atau Janda Permaisuri.


"Hormat hamba Yang Mulia. Putri Mahkota bermaksud memberikan salam."


"Biarkan dia masuk, dan kalian siapkan teh hangat serta camilan." perintah Lan Hua.


Selang beberapa saat, datanglah wanita cantik memakai hanfu merah. Ia berjalan menunduk dan berkowton di hadapan Lan Hua yang berjarak hanya beberapa meter saja.


"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Putri Mahkota Qi Luxia


"Kalian keluarlah," perintah Lan Hua.


Para pelayan pun memberikan hormat berlalu pergi.


"Mendekatlah," ucap Lan Hua lembut.


"Jangan bicara terlalu formal, panggil saja Ibunda,"


"Ah baiklah, Yang Mulia. Ee, maksudnya Ibunda." ucap Putri Mahkota Qi Luxia tersenyum canggung.


Putri Mahkota Qi Luxia tidak menyangka, Permaisuri Lan Hua yang dikenal kejam dan keberaniannya, tersimpan sebuah kelembutan yang mendalam. Siapa yang tidak kenal tentang Permaisuri Lan Hua yang terkenal akan Kultivasinya, maka dari itulah tidak pernah ada pemberontak di Kekaisaran Feng. Semua orang yang memberontak harus memikirkan ribuan kali.


Maka dari itu Kekaisaran Feng mengalami kesejahteraan luar biasa.

__ADS_1


Putri Mahkota Qi Luxia pun mendekat dan duduk di hadapan Lan Hua.


"Bagaimana tadi malam? apa Putra Mahkota memperlakukan mu dengan lembut?" tanya Lan Hua tanpa basa basi.


Tersirat keraguan dalam hati Putri Mahkota Qi Luxia, ia tidak mungkin memberitaukan sebenarnya.


"Putra Mahkota memperlakukan hamba dengan baik, Yang Mulia."


"Apa masih sakit?" tanya Lan Hua, biasanya setiap gadis yang melakukan malam pertama akan merasakan sakit di bagian intimnya.


Apanya yang masih sakit? batin Putri Mahkota Qi Luxia.


"Hamba tidak merasakan sakit apa-apa Yang Mulia?"


Berarti Putra Mahkota memperlakukannya dengan lembut batin Lan Hua.


"Hem, Ibunda berharap secepatnya Putri Mahkota memiliki seorang putra atau putri,"


"Ibunda boleh saya bertanya?"


"Ya, bertanyalah apa pun itu," ucap Lan Hua lembut. Ia mengambil teh yang disajikan oleh pelayan tadi, beberapa saat yang lalu.


"Bunda, anak itu datang darimana?" tanya Putri Mahkota dengan penuh tanda tanya.


Byur

__ADS_1


Seketika Lan Hua menyemburkan tehnya.


"Ibunda, Ibunda tidak apa-apa?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia khawatir.


Lan Hua mengambil sapu tangan di dekatnya, ia mengelap mulutnya dan menatap Putri Mahkota Qi Luxia. Semoga telinganya tadi salah dengar.


"Maksud Putri Mahkota?" tanya Lan Hua penuh selidik.


"Maaf Ibunda, hamba tidak tau Anak itu datang darimana?"


Seperti bak di sambar petir pagi hari, Lan Hua diam membeku.


Pantas saja dia tidak merasakan sakit, apa benar Putri Mahkota Qi Luxia sepolos ini.


"Apa tadi malam Putra Mahkota melakukan hal lain,?


"Ah, tidak Ibunda. Putra Mahkota hanya tidur saja." cicit Putri Mahkota Qi Luxia. Lagi-lagi dirinya harus berbohong.


Anak ingusan itu geram Lan Hua di dalam hati.


"Jadi Putri Mahkota tidak tau, Anak itu datang dari mana?" tanya Lan Hua lagi.


"Tidak Ibunda, hamba hanya tau setiap wanita melahirkan. Tapi hamba tidak tau anak itu datang dari mana? apa mungkin Anak itu datang dari tumbuhan atau lain semacamnya. Contohnya seperti pohon pisang Ibunda, dia bisa memiliki anak pisang." jelas Putri Mahkota dengan wajah serius.


Lan Hua semakin pusing, bagaimana caranya untuk menjelaskannya. Sementara Putra Mahkota belum menyentuhnya sama sekali dan dia tau betul Putra Mahkota belum mencintai Putri Mahkota. Apa perlu dirinya mengundang Gisaeng, memberikan pelajaran hal itu.

__ADS_1


__ADS_2