
tok,,tok,,tok..
Ketukan pintu membuat Kaisar Feng dan Lan Hua terbangun..
"Siapa yang mengganggu kita Hua'er?" ucap Kaisar Feng dengan nada seraknya yang masih memejamkan matanya.
"Entah lah Yang Mulia, aku akan melihatnya." ucap Lan Hua turun dari kasurny dan memungut hanfunya yang berada di lantai.
Lan Hua membuka pintu terlihat seorang pelayan.
"Ada apa?" ucap Lan Hua.
"Mohon maaf Yang Mulia,hamba mengganggu tidur Yang Mulia.
Yang Mulia di tunggu di ruang perjamuan." ucap pelayan.
"Oh baiklah." ucap Lan Hua menutup pintu.
"Yang Mulia,segera mandi kita ditunggu di ruang perjamuan." ucap Lan Hua.
Kaisar Feng dengan kesalnya turun dari kasurnya. Tanpa menutup tubuhnya.
Lan Hua hanya melongo melihat Kaisar Feng berjalan di depannya tanpa sehelai benang pun.
"Astagah, Yang Mulia." ucap Lan Hua tanpa berkedip.
"Hua'er bisakah kau membantuku mandi." ucap Kaisar Feng yang merajuk.
Lan Hua hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Kaisar Feng.
"Ehemm, baiklah Yang Mulia." ucap Lan Hua tersenyum.
Sampai ditempat pemandian. Mereka mandi berdua bersama diselangi canda tawa. Tak terasa satu jam mereka lalui hanya untuk mandi.
Selesai dengan aktivitas mandinya. Mereka turun ke bawah menuju ruang perjamuan.
"Emmm, maaf kami membuat kalian menunggu lama." ucap Lan Hua tersenyum.ia melirik Kaisar Feng yang hanya memperlihatkan wajah datarnya. Karna kesal Lan Hua menyenggol Kaisar Feng agar minta maaf.
Kaisar Feng yang merasa tersenggol melirik Lan Hua.
"Ehem, aku minta maaf." ucap Kaisar Feng.
"Tidak apa apa yang mulia, kami mengerti." ucap Chen.
sementara Fang Yin tersenyum melihat leher Lan Hua yang dipenuhi jejak.
Kaisar Feng sehebat apa dia hingga membuat jejak sebanyak itu batin Fang Yin.
Di umur Kaisar Feng yang tak lagi muda. Apakah dia lebih hebat dari diriku batin Chen melirik Fang Yin yang tersenyum ke arah Lan Hua.
"Baiklah, Yang Mulia sebaiknya kita makan dulu." ucap Chen mengakhiri rasa canggung Lan Hua.
Hanya ada suara sendok yang memecahkan kesunyian.
"Emm, Yang Mulia hamba ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada kalian." ucap Lan Hua menghentikan makannya dan menatap mereka.
"Hua'er apakah sepenting itu?" tanya Kaisar Feng.
__ADS_1
"Ya sangat penting, sebuah rahasia. Kita akan membahasnya di aula." ucap Lan Hua.
Mereka pun menurut perintah Lan Hua dan cepat menghabiskannya.
Selesai makan mereka semua menuju aula.
Lan Hua menghela nafas menceritakan semua rahasianya. Ia sangat gugup kaankah mereka menerimanya atau tidak.
"Sebenarnya aku bukan Permaisuri Lan Hua yang asli." ucap Lan Hua seakan jantungnya ingin berhenti berdetak mengucapkan kata yang seharusnya ia ucapkan dari dulu.
"Hua'er ada apa? kami tidak mengerti." ucap Chen mewakili mereka semua yang masih mencerna kata kata Lan Hua.
"Apa maksud Ibunda? Ibunda sehat sehat saja." ucap Pengeran Jixiang.
"Entah kalian percaya atau tidak aku memang bukan Lan Hua yang asli." ucap Lan Hua menatap mereka.
"Aku berasal dari zaman modern." ucap Lan Hua menghela nafas berat dan menunduk. Ia mengingat kematiannya yang tragis "Roh ku diseret oleh Permaisuri Lan Hua yang asli dan dia memintaku mencari keadilan. Aku sudah menceritakan semuanya pada kalian. Terserah kalian membenciku atau tidak." ucap Lan Hua sendu.
Kaisar Feng percaya apa yang di katakan Lan Hua. Dia menghampiri Lan Hua dan memeluknya dari belakang.
"Hua'er entah kau Permaisuri Lan Hua yang asli atau tidak, yang jelas kau adalah Istriku, Permaisuri Kekaisaran Feng." ucap Kaisar Feng mengecup kepala Lan Hua.
"Benar, Ibunda kau akan tetap Ibunda ku." ucap Pangeran Jixiang.
"Hua'er tetap akan menjadi Meimei kita. Sekaligus Ratu kita." ucap Chen yang diangguki Fang Yin.
"Baiklah, aku juga ingin memberi taukan sesuatu pada kalian." ucap Chen
Chen menyuruh Kasimnya untuk mengumpulkan semua penjabat Istana Bunga.
beberapa saat kemudian para pejabat memasuki aula dan memberikan hormat pada Chen sekaligus Lan Hua dan Kaisar Feng.
"Sudah seharusnya singgasanah Istana Bunga diduduki oleh keturunan yang asli." ucap Chen dengan suara lantang.
"Yang Mulia, sudah seharusnya keturunan yang mulia Permaisuri Lan Hua menduduki singgasanah ini." ucap Chen.
"Benar, Yang Mulia biarkan suami hamba di angkat menjadi Jendral saja." timpal Fang Yin.
"Tapi aku sudah menyerahknanya pada mu Gege." ucap Lan Hua memandang Chen.
Sementara Kaisar Feng diam tidak ingin ikut campur,karna ini memang masalah Lan Hua entah siapa menduduki Istananya itu urusan Lan Hua.
"Yang Mulia mohon pertimbangkan." ucap salah satu pejabat.
Lan Hua bingung menatap Kaisar Feng.
" Hua'er terserah dirimu mau bagaimana." ucap Kaisar Feng.
"Aku akan mempertanyakannya pada ke Dua putraku dan putriku." ucap Lan Hua.
Bagaimanapun juga ia harus menanyakan kemauan ke Dua putranya dan putrinya.
"Pangeran Jixiang, Pangeran Yuan Feng dan Putri Lan Sing, apa ada salah satu diantara kalian ingin menduduki singgasanah Istana Bunga." ucap Lan Hua menatap mereka.
"Ibunda, kenapa Ibunda menanyakan nya pada ku ? aku bukan anak kandung Ibunda, aku hanya anak seorang Selir." ucap Pangeran Jixiang.
deg,
__ADS_1
Hati Lan Hua terasa sakit mendengarkan perkataan Pangeran Jixiang.
"Apa yang kau ucapkan Pangeran Jixiang? apa Ibunda pernah membedakan mu? hingga berbicara seperti itu. Apa pun tentang mu, siapa pun dirimu ? kau akan tetap menjadi putra ku yang pertama." ucap Lan Hua tegas menatap Pangeran Jixiang yang menunduk.
"Ibunda." ucap Pangeran Jixiang menatap Lan Hua dengan mata berkaca-kaca dan menghampiri Lan Hua, memeluknya dengan erat.
semua orang terharu akan kasih sayang Permaisuri Lan Hua yang tidak membedakan putranya, menurutnya Permaisuri Lan Hua sangat bijak tidak seharusnya Permaisuri Lan Hua menanyakan pada Pangeran Jixiang yang bukan keturunan aslinya, tapi Permaisuri Lan Hua di luar jangkauan seorang Ibu Tiri.
Lan Hua melepaskan pelukan Pangeran Jixiang, menghapus air matanya dan mengecup keningnya.
"Jangan menangis." ucap Lan Hua tersenyum.
"Ji'er, Yuan'er, Lan'er apa diantara kalian menginginkan singgasanah Istana Bunga?" ucap Lan Hua.
"Ibunda walaupun aku masih kecil, tapi aku tidak ingin singgasanah ini. Menurutku tidak jauh dari Ibunda sudah cukup." ucap Pangeran Yuan Feng.
"Benar Ibunda, aku juga tidak ingin." ucap Putri Lan Sing.
"Dan kau Ji'er." ucap Lan Hua lembut.
Pangeran Jixiang menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ibunda, bagiku bersama Ibunda dan Ayahanda sudah cukup." ucap Pangeran Jixiang.
Lan Hua tersenyum dan menatap Chen.
"Bagaimana Jiejie? mereka tidak mau, aku harap kau meneruskan lagipula sekarang Gege sudah memiliki seorang Putra." ucap Lan Hua.
Silahkan mampir jika berkenan.
#Permaisuri Sang Penguasa
#Selir Yang Terbuang
#Mandadak Selir
#Putri Mahkota Yang Terbuang (Terbit)
#Permainan Sang Permaisuri
#Permaisuri Jahat !
#Oh, Kaisar Ku
#Istri Kontrak Kaisar Kejam
#Paman, Duke
#Istri Pengganti Sang Duke
#Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
#Simpanan Kontrak Kaisar Kejam
#lapak orenz / aplikasi W A T T P A D
#Istri Kedua Sang Duke
__ADS_1
#Istri Kontrak Ke Empat Pangeran.