Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Beberapa Tahun Kemudian


__ADS_3

#Alasan ku milih 17 tahun, karena author nunggu kedewasaan Pangeran Jixiang.


17 Tahun telah berlalu.


Selama tidak ada Permaisuri Lan Hua di sisinya. Kini sifat Kaisar Feng berubah, ia sangat terkenal kekejamannya, kesadisannya dan sifat dinginnya.


Setia waktu, hatinya tetap setia menunggu Lan Hua. Ia tidak berniat memberikan kedudukan Permaisuri pada Selir Mei. Menurutnya, tidak ada yang pantas di posisi itu.


Walaupun para pejabat istana mendesak Kaisar Feng mengambil Selir lagi dan Selir Mei di jadikan Permaisuri, karena kedudukan Permaisuri kosong. Kaisar Feng mengabaikannya ia mampu menjalankan pemerintahannya tanpa permaisuri yang baru.


Kaisar Feng tetap saja mengarahkan prajurit dan pengawal bayangannya mencari Lan Hua.


Bahkan para Kaisar juga ikut membantu namun hasilnya nihil yang ia dapatkan.


Dan selama itu pula, Kaisar Feng tidak pernah menginjakkan Kakinya lagi ke kediaman Selir Mei. Benar, Kaisar Feng dan Selir Mei hanya bertemu pada saat perjamuan istana selebihnya makan bersama antar keluarga..


Ibu Suri juga menjauh dari putranya. Semenjak kehilangan menantunya, ia sangat kecewa pada putranya tanpa menyelidiki dulu.


Bahkan ia hanya beberapa saat bersama menantu kesayangannya. Namun ia pergi meninggalkan dirinya sendiri.


Hanya Lan Hua yang mampu membuat dia tersenyum mengingat mendiang suaminya. Karena Kaisar terdahulu yang begitu menyayangi Lan Hua bahkan Kaisar terdahulu memanjakan menantunya.


Sementara bisnis ke Tiga saudara sudah mencapai puncak. Bahkan bisnisnya pun sudah sampai di luar Kekaisaran Feng yaitu Kekaisaran Xi, Kekaisaran Li dan Kekaisaran Zhang. Akan tetapi mereka tetap mencari bukti kejahatan Selir Mei yang disimpan rapat rapat tanpa sepengetahuan Lan Hua dan Jenderal Fang Yin.


Untuk Chen yaitu ketua Tim Yakuza melihat Kekaisaran Feng dan juga Kekaisaran lainnya bebas dari para pemberontak akhirnya Chen tetap melanjutkan misinya membeli semua budak di semua Kekaisaran Feng dengan uang bisnis dari Tiga bersaudara sesuai perintah Lan Hua yang ia jadikan sebagai pengikutnya. Chen melatih mereka di Hutan Kematian jika memiliki Kultivasi di bawah 60 Chen membawa mereka Ke Hutan Surgawi menjalani hidup dengan baik disana.


Sementara Lan Hua hidup bahagia bersama Ayahnya, Red, Rexi, Dragon dan seluruh rakyatnya. Ia tidak pernah keluar dari Hutan Surgawi bahkan ketika Jenderal Fang Yin memberitau bahwa Kaisar Zhang, Pangeran Hongli dan Jenderalnya sering ke Hutan Surgawi mencari Lan Hua.


Lan Hua hanya mengabaikannya. Ia memilih tidak berurusan lagi dengan seorang Kaisar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kekaisaran Feng..


Terlihat seorang pemuda yang gagah dan tampan bertarung melawan Jenderal Chu.


Ia adalah Pangeran Jixiang putra dari Kaisar Feng dan Selir Mei.


"Jenderal Chu bagaimana dengan permainan pedangku?" tanya Pangeran Jixiang.


"Pangeran sangat hebat bahkan Kultivasi pangeran sudah tingkat 63 (Kultivasi Tingkat Menengah)" Ucap Jenderal Chu.

__ADS_1


"Aah, Jenderal aku lelah bisakah kita beristirahat." Ucap Pangeran Jixiang.


"Jendral aku ingin bertanya, mengapa Ibunda Permaisuri pergi meninggalkan Ayah? Jika aku bertanya pada Ayahanda, Ayahanda selalu diam. Ia selalu mengabaikan Ibunda." Ucap Pangeran Jixiang menatap Jendral Chu dengan serius.


"Pangeran masih kecil,, Pangeran tidak akan mengerti." Ucap Jendral Chu tertawa mengejek.


"Huh, jawaban mu selalu saja seperti itu. " Kesal Pangeran Jixiang dengan wajah cemberutnya meninggalkan Jenderal Chu menuju ketempat kuda.


Sementara Jendral Chu melihatnya tersenyum.


Permaisuri pulanglah anda membawa dampak perubahan besar bagi yang mulia dan aku juga merindukan Jenderal Liue batin Jenderal Chu menatap langit.


Sampai di tempat kuda Pangeran Jixiang mengambil kuda kesayangannya untuk jalan-jalan keluar istana bahkan ia memiliki ide pergi ke Hutan Kematian. Selama ini ia selalu penasaran akan hutan disana, pernah ia meminta izin pada Kaisar Feng. Namun jawabannya hanya balasan tatapan dingin...


Jika meminta izin pada Ibundanya yang ia dapat tuntutan menjadi kuat dan kuat agar menduduki tahta. Ia tidak pernah berfikir menaiki tahta Ayahandanya menurutnya tidak pantas karna ia lahir dari seorang Selir bukan Permaisurinya. Ia juga berencana mencari Ibunda Permaisurinya membawanya pulang ke istana.


"Aku akan pergi dari istana, membosankan." Gumam Pangeran Jixiang seraya menaiki kudanya.


Ia keluar Istana melewati gerbang belakang jika melewati gerbang depan pasti ada yang tau dan melaporkannya jika memilih gerbang belakang ia bisa mengancam prajurit dengan jabatannya sebagai Pangeran.


"Buka gerbangnya." Perintah Pangeran Jixiang.


kedua pengawal membukanya.


Pangeran Jixiang terus berjalan melihat kanan kiri. Ia tak lupa membawa pedangnya untuk berjaga jaga jika ada binatang buas.


Beberapa menit kemudian ia dihalangi oleh lima ekor singa yang berjalan menghampirinya dan mengelilinginya.


Ia turun dari kudanya memilih melawan Singa tersebut.


Pangeran Jixiang melayangkan pedangnya oada salah satu singa, ke empat singa lainnya mulai ikut menyerangnya. Pertempuran mereka terus berlanjut, lalu berhenti ketika mendengar suara kuda..


Lima ekor Singa tersebut diam gemetar. Pangeran Jixiang melihat singa terdiam memiliki kesempatan untuk menebas kepala singa tersebut dan menghiraukan suara kaki kuda yang mendekatinya...


Pangeran Jixiang mendekati para singa itu dan menggerakkan pedangnya untuk menebas kepala singa tersebut. Tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.


"Berhenti."


Pangeran Jixiang menoleh, ia melihat duaa gadis yang satunya memegang pedang berpenampilan seorang Jenderal cantik.


Namun lebih cantik gadis yang satunya gadis itu bermata biru, kulit putih bahkan lebih putih dari giok, bulu mata yang melengkung ke ata, bibirnya semerah chery dan memiliki tato api berwarna biru di antara kedua alisnya. Memakai hanfu biru dengan rambut terurai dan menaiki kuda putih serta memegang sebuah pedang.

__ADS_1


flasback


"Ayah, Hua'er bosen. Sudah lama Hua'er tidak pernah keluar. Hua'er ingin jalan jalan ke Hutan Kematian." Ucap Lan Hua. Memang benar, ia bosan mengurung diri di Hutan Surgawi.


"Apa perlu Ayah temani Hua'er?" tanya Jenderal Liue.


"Tidak perlu Ayah, Hua'er ingin pergi sendiri." Ucap Lan Hua, ia memeluk Jenderal Liue.


"Yang Mulia, biarkan hamba ikut." Ucap Jenderal Fang Yin.


"Emm baiklah Jiejie." Ucap Lan Hua. Tidak ada salahnya ia di temani oleh Jenderal Fang Yin.


Akhirnya mereka pergi berdua ke Hutan Kematian. Lan Hua menaiki Rexi sementara Jenderal Fang Yin menaiki Kuda putih bawahan Rexi mereka memacu kuda nya dengan kecepatan tinggi, lalu mereka melihat seorang pemuda melawan Lima ekor Singa bawahan Raja Singa.


Mereka mendekati pemuda itu dan ke Lima Singa.


Saat ke Lima Singa itu melihat Lan Hua dan Jendral Fang Yin, ke Lima Singa itu menunduk


ketakutan melihat Ratu mereka mengeluarkan aura tiraninya.


Lain halnya pemuda itu tidak menyadari keberadaan Lan Hua dan Jenderal Fang Yin. Walaupun bulu kuduknya tiba-tiba merinding.


"Anak muda kenapa anda menyerang Singa ku?" tanya Lan Hua tegas yang masih setia di atas kudanya..


"Kau siap? bukan aku yang menyerang mereka. Mereka duluan yang menyerang ku." Ucap Pangeran Jixiang..


"Ooh benarkan, lalu kenapa kau ke sini?


di sini adalah kawasan ku." Ucap Lan Hua datar.


"Memangnya aku tidak boleh kesini. Hutan Kematian ada di Kekaisaran Feng." Ucap Pangeran Jixiang.


"Sebaiknya kau kembali, disini sangat berbahaya dan bukan tempat mu." Ucap Lan Hua.


Kenapa wajahnya sangat mirip orang itu batin Lan Hua..


Sementara Jenderal Fang Yin merasa curiga ia melihat sikap Kaisar Feng saat muda ada dalam diri pemuda itu bahkan wajahnya sangat mirip.


Jika anak ini dugaan ku benar anak Kaisar Feng aku tidak boleh membiarkan Ratu tau aku harus menjauhkannya dari Ratu batin Jendral Fang Yin.


"Yang Mulia sebaiknya kita pergi. Kita tidak ada urusan dengan pemuda ini dan untuk kalian." menunjuk pada Lima ekor Singa. "Pergilah." Tegas Jendral Fang Yin.

__ADS_1


Lan Hua mengikuti permintaan Jenderalnya memilih pergi meninggalkan Pangeran Jixiang.


Sementara Pangeran Jixiang menatap mereka yang sudah menjauh dan memilih kembali ke istana.


__ADS_2