
Sampai di kediamannya Lan Sing menahan amarahnya ia mengepalkan tangannya.
Pelayan yang berada di belakangnya juga merasakan aura mengerikan yang keluar dari tubuh sang Permaisuri.
"Siapkan aku air, aku ingin membersihkan diri." ucap Lan Sing.
Semua pelayan keheranan saling melirik baru tadi pagi Permaisurinya membersihkan diri Tidak dapat dua jam sekarang Permaisurinya ingin membersihkan diri lagi.
Ada apa dengan Permaisuri batin mereka.
"Baik, Yang Mulia." ucap para pelayan memberikan penghormatan dan menjalankan perintah Lan Sing.
"Emmm Yoon, buatkan aku sapu tangan yang banyak. Akhir-akhir ini tangan ku bisa alergi disentuh orang." ucap Lan Sing.
"Yang Mulia, jika tangan Yang Mulia alergi, hamba akan menyiapkan obatnya." ucap Yoon.
"Tidak perlu cukup kau buatkan aku sapu tangan." ucap Lan Sing.
Yoon kebingungan bukankah Permaisuri alergi seharusnya di obati bukan dibersihkan dengan sapu tangan batin Yoon.
"Baik Permaisuri." ucap Yoon.
Selesai mandi Lan Sing menggunakan hanfu hijau polos di bantu oleh para pelayan.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Yoon disampingnya.
Lan Sing melirik Yoon.
"Sapu tangan Yang Mulia sudah selesai." ucap Yoon membawa sapu tangan di nampannya.
Lan Sing mengelus sapu tangannya.
"Sulaman yang sangat indah. Kau memang berbakat Yoon." ucap Lan Sing mencium sapu tangannya "Bawa sapu tangan ini kemana mana, di Istana ini banyak sekali kuman berkeliaran di mana mana." ucap Lan Sing.
Yoon mendengarkan Lan Sing ia hanya mengangguk walaupun ia tidak tau maksud Lan Sing..
"Yoon tunjukkan jalan aku ingin ke pelatihan prajurit." ucap Lan Sing.
"Baik, Yang Mulia." ucap Yoon.
Sampai di pelatihan prajurit Lan Sing melihat para prajurit dengan semangatnya ia berlatih.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Jendral Qin, Jendral Kekaisaran Zing.
"Apa Jendral bisa menemani ku berlatih." ucap Lan Sing tanpa menatap kedepan.
"Hamba tidak berani, Yang Mulia." ucap Jendral Qin menunduk.
Lan Sing mengernyitkan dahinya, ia meninggalkan Jendral Qin menuju tempat pedang. Dan mengambil pedang yang ia akan gunakan untuk berlatih. Sementara Jendral Qin mengikutinya dari belakang.
"Angkat pedang mu dan lawan aku." ucap Lan Sing dengan siap siaga.
Jendral Qin terkejut ia terpaksa menerima permintaan Lan Sing.
trang ..
Suara dentingan pedang saling beradu para prajurit dan pelayan hanya menonton.
Lan Sing menendang perut Jendral Qin,ia berlari dengan cepat menuju ke arah Jendral Qin yang terkapar di tanah.
__ADS_1
Jendral Qin bangkit dan menyerang Lan Sing ia menangkis pedang Lan Sing.
Jendral Qin menyodorkan lurus pedangnya ke leher Lan Sing,, Lan Sing berlari mundur kemudian ia menunduk dan meremas tangan Jendral Qin menngunakan tangan kirinya hingga pedang Jendral Qin terjatuh.
Jendral Qin menggunakan tangan Kirinya mengambil milik pedang Lan Sing.
Lan Sing segera menendang perut Jendral Qin menggunakan lututnya. Lan Sing segera mundur melihat Jendral Qin memegangi perutnya. Jendral Qin melihat Lan Sing mundur ia mengambil kesempatan mengambil pedang miliknya yang berada di tanah.
Sesekali para prajuri dan pelayan terkejut akan kehebatan permainan pedang Lan Sing.
Lan Sing yang tidak bisa meluapkan ke marahannya menyerang Jendral Qin membabi buta. Tanpa sengaja pedang Lan Sing menggores lengan Jendral Qin.
Lan Sing tersadar apa yang ia lakukan.
"Maaf Jendral Qin, aku melukai mu." ucap Lan Sing merobek lengan hanfunya membalutkan luka di lengan Jendral Qin.
deg...
Suara detakan jantung Jendral Qin seakan tercopot. baru pertama kalinya ia diberlakukan lembut oleh wanita. Selama ini ia hanya fokus pada seorang Jendral saja tanpa memikirkan wanita. Wajah Jendral Qin merona ia menatap kecantikan Permaisurinya tanpa berkedip.
"Jendral." ucap Lan Sing membuyarkan tatapan Jendral Qin.
"Ehem, maaf Yang Mulia hamba tidak sopan." ucap Jendral Qin menuduk hormat.
"Tidak apa apa, pelayan ku akan mengantarkan obat untuk mu." ucap Lan Sing meninggalkan Jendral Qin.
Jendral Qin menatap punggung Lan sing dari kejauhan.
Apa dayaku merebut wanita Kaisar apalagi dia seorang Permaisuri batin Jendral Qin.
Disisi lain..
"Yang Mulia, aaaaah sakit. Kenapa Yang Mulia kasar." ucap Fu Mei menangis.
Kaisar Zing tersadar ia memeluk Fu Mei dan mencium keningnya " Maaf." ucap Kaisar Zing.
"Sebaiknya kau istirahat nanti malam akan pengangkatan mu." ucap Kaisar Zing meninggalkan selir Fu Mei.
Kaisar Zing menuju kekediamannya ia membersihkan tubuhnya. Sudah berapa lama ia merendam tubuhnya perkataan Lan Sing berputar di kepalanya.
aaaaghhh
"Sial kenapa aku harus memikir ****** itu." ucap Kaisar Zing memukul dinding kolam pemandiannya hingga tangannya berdarah.
Kemudian Kaisar Zing menyelesaikan aktivitas mandinya ia bersiap siap pengobatan selir Agung.
"Kasim Zu apa acaranya sudah siap.apa Permaisuri akan menghadirinya." ucap Kaisar Zing.
"Yang Mulia Permaisuri menunggu anda di aula Yang Mulia." ucap Kasim Zu.
"Baiklah kita kesana." ucap Kaisar Zing.
Sampai di aula ia melihat Lan Sing tanpa berkedip memakai hiasan sederhana tanpa meninggalkan aura kecantikannya. Ia menuju Lan Sing tanpa mengalihkan penglihatannya.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Lan Sing.
"Ehem, Permaisuri kenapa kau menggunakan riasan sederhana. Kasim Zu akan membawakan riasan lainnya." ucap Kaisar Zing.
"Tidak perlu Yang Mulia, hamba sangat menyukai riasan sederhana." ucap Lan Sing sopan.
__ADS_1
Lima menit kemudian terlihat sebuah tandu Selir agung. Fu Mei turun dengan riasan yang cukup mewah. Ia tersenyum sinis menatap Lan Sing. Dan berjalan lenggak lenggok di atas karpet merah menghampiri Kaisar Zing dan Lan Sing.
Lalu memberikan penghormatan pada Kaisar Zing dan Lan Sing.
"Aku Kaisar Zing Juan mengangkat putri Fu Mei menjadi Selir Agung." ucap Kaisar Lantang.
Semua para pejabat dan prajurit memberikan selamat untuk Kaisar Zing dan Fu Mei.
Selesai sudah segala acara pernikahan mulai dari penampilan tarian dan segala macam musik yang di bawakan oleh anak pejabat dan penari Istana.
Karna bosan Lan Sing hanya menatap cangkir emasnya.
"Yang Mulia hamba lelah, bolehkah hamba undur diri." ucap Lan Sing yang duduk disamping Kaisar.
"Emm baiklah Permaisuri beristirahatlah." ucap Kaisar Zing datar.
Lan Sing memberikan penghormatan dan pergi meninggalkan pesta.
Pavilium Phoenix.
Sampai dikediamannya Lan Sing langsung menyuruh pelayannya pergi hanya ada Yoon yang berada di belakang Lan Sing.
"Kenapa kau masih disini Yoon, beristirahtlah." ucap Lan Sing datar.
"Permaisuri apa baik baik saja?" ucap Yoon dengan nada khawatir.
"Aku baik baik saja Yoon. Jika ada yang datang kediamanku, bilang saja aku tidak ingin di ganggu." ucap Lan Sing.
"Baik, Yang Mulia." ucap Yoon.
Setelah tidak ada pelayan Lan Sing mengganti semua hanfunya menggunakan hanfu biru menyamar menjadi laki laki dan menggunakan cadar. Ia langsung pergi lewat jendela tanpa diketahui prajurit yang sedang berpatroli.
Lan Sing segera pergi ke hutan menemui Pangeran Xio Han Si.
30 menit kemudian ia sampai di sebuah gubuk. Lan Sing langsung membuka cadarnya dan tersenyum.
Ia lansung masuk ke dalam.
Di dalam ia melihat Putri Xio Ji Yu dan Pangeran Yuchen sedang makan bersama dengan Pangeran Xio Han Si.
Betapa bahagianya Pangeran Xio Han Si melihat kedatangan Lan Sing.
Dia langsung memeluk Lan Sing.
Lan sing pun tersenyum dan membalas pelukannya
"Apa Gege merindukanku?" ucap Lan Sing mengelus punggung Pangeran Han Si.
"Ya Gege sangat merindukan mu." ucap Pangeran Han Si mengeratkan pelukannya.
"Gege aku tidak bisa bernafas." ucap Lan Sing.
Pangeran Han Si segera melepaskan pelukannya ia menatap Lan Sing.
"Maaf." ucap Pangeran Han Si menunduk.
Sementara kedua Saudaranya melongo tak percaya akan sikap Lan Sing dan Gegenya.
Gege yang ia kenal sedari kecil tidak pernah memeluk siapa pun bahkan kedua orang tuanya kini ia memeluk wanita seakan takut kehilangannya, sedangkan putri Lan Sing yang terkenal kecantikannya ia tidak jijik pada Pangeran Han Si justru mereka saling tersenyum melihat pemandangan itu Putri Xio Ji Li dan Pangeran Yuchen tanpa sengaja meneteskan air matanya. ia terharu, ia berharap mereka adalah jodoh yang di takdirkan Tuhan.
__ADS_1