Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Mengobatinya


__ADS_3

Lan Hua menatap setiap jengkal tubuh Kaisar Feng. Ada rasa senang di hatinya, tidak terjadi sesuatu pada tubuh Kaisar Feng.


"Rupanya kita bertemu lagi Kaisar." Ucap Lan Hua melemparkan obat penawar racun pada Kaisar Feng. Ia menggenggam obat itu, lalu melihat ke arah wanita di depannya. "Obatilah racun yang ada di dalam tubuhmu. Aku tidak ingin istrimu menjadi janda." Ucap Lan Hua.


"Meili." Panggil Kaisar Zhang. Lan Hua menoleh ke arah Kaisar Zhang dan menghampirinya.


Lan Hua melipatkan tangan di dadanya yang masih memegang pedang Iblisnya yang penuh darah.


"Apa kau masih ingat dengan ku? aku kira kau akan lupa." Ejek Lan Hua.


Ia merogoh ke dalam ikatnya, lalu sebotol obat kecil pada Kaisar Zhang dengan sigap Kaisar Zhang menangkapnya.


"Obatilah dirimu dan Para Kaisar, ingat jangan merindukan ku. Jika kau merindukan ku, akan ku kutuk kau jadi Pangeran Kodok." Ucap Lan Hua berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka dengan Qingqongnya di ikuti semua para pasukannya.


Sementara semua Kaisar saling bertatap muka dan kembali tersenyum sorakan para prajurit menggema di lautan darah akan kemenangannya.


"Baiklah kita berhutang budi pada gadis itu. " Ucap Kaisar Xi.


"Benar aku penasaran dengan wajahnya. Jika ia mau aku akan menjadikan Selir Agung. Andai saja tempat Permaisuri kosong aku pasti memberikan jabatan Permaisuri padanya." Ucap Kaisar Li.


"Meilie tidak akan mau menjadi Selir. Apalagi dia gadis yang kuat mana mungkin ia mau berbagi." Ucap Kaisar Zhang di angguki mereka dengan tertawa..


Sementara Kaisar Feng melamun entah ada perasaan apa di hatinya melihat gadis itu..


"Yang Mulia, sebaiknya kita pulang ke Istana. Akan lebih baik luka yang mulia cepat di obati." Hcap Jendral Liue yang melihat junjungannya melamun saat bertemu dengan gadis bercadar.


"Kaisar Zhang, Kaisar Xi, Kaisar Li apa tidak akan menginap di istana saja?" tanya Kaisar Feng. Karena jarak dari Hutan Kematian lebih dekat dengan istana Kaisar Feng.


"Tidak, Yang Mulia. Hamba ingin cepat pulang keistana membawa berita bagus untuk rakyatku dan penghuni Istana." Ucap Kaisar Zhang.


"Benar, Yang Mulia kami tidak bisa menginap." Timpal Kaisar Li.


(hutan kematian dan hutan surgawi berada di kekaisaran feng namun hutan surgawi lebih jauh dari istana)


Para Kaisar pun membawa sejuta kebahagiaan dan akan mengadakan pesta di masing-masing istana sebagai acara kemenangannya.

__ADS_1


Sementara Lan Hua dan pasukannya sudah berkumpul di hutan kematian..


"Gege Chen, Changyi, Changyu, Jiejie Ming Yue dan Jiejie Yoona. Seluruh pasukan ku sekaligus rakyatku aku mengucap banyak terimakasih atas bantuan kalian." Lan Hua mengucapkan rasa terima kasih itu dengan hati yang paling dalam.


"Yang Mulia, justru kami semua berterima kasih.yang mulia sudah mengubah hidup kami. Kami semua akan mengabdikan diri untuk Ratu kami dan untuk Istana Bunga." Ucap Chen mewakili mereka.


"Baiklah sekali lagi terimakasih. Aku harus secepatnya kembali ke Istana." Ucap Lan Hua.


Lan Hua dan Yoona meleset pergi secepat mungkin kembali ke pasar. Dengan cara seperti itu, ia bisa mengelabui Kaisar Feng.


Tidak butuh waktu lama Lan hua dan Yoonasudah sampai di pasar dan membeli barang apa saja untuk di bawa pulang.


"Meimei kita harus secepatnya kembali. Jika perlu sebelum Kaisar kembali." Ucap Yoona


"Benar Jiejie." Ucap Lan Hua.


Mereka menyewa kuda untuk dinaiki agar lebih cepat sampai di istana dan kereta dari istana mengangkut barang mereka. Tidak jauh dari istana, Lan Hua dan Yoona melihat Kaisar dan pasukannya sudah kembali.


"Astagah Jiejie." Ucap Lan Hua memandang Yoona. Dengan terpaksa mereka berdua menghampiri Kaisar dan Jendral Liue.


"Hua'er kau dari mana saja? Kekaisaran Feng tidak aman, tapi kau malah keluar." Ucap Kaisar Feng merasa kesal.


"Maaf Yang Mulia hamba hanya ke pasar membeli beberapa barang." Ucap Lan Hua menunjuk pada sebuah kereta.


"Kenapa kau tidak menyuruh pelayan?" tanya Kaisar Feng. Ia tidak bisa mengabaikan keselamatan Permaisurinya begitu saja.


"Sudahlah, Yang Mulia, yang pentingkan tidak ada apa." Ujar Lan Hua mengalihkan pembicaraannya.


"Baiklah, sekarang kita pulang." Ujarnya dengan lembut.


Pintu gerbang istana Kekaisaran Feng terbuka lebar, memperlihatkan kedua wanita cantik yang menyambut kedatangan Kaisar Feng dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Hormat hamba, Yang Mulia." Ucap Selir Mei.


Kaisar Feng hanya menganggukinya saja.

__ADS_1


"Ibunda sangat senang dengan kabar kemenangan mu kini Klan Iblis sudah musnah." Ujar Ibu Suri.


"Ibunda sebenarnya tadi saat kami sudah mulai kewalahan, kami di tolong oleh seorang gadis. Gg


adis itu membawa pasukannya menolong kami semua." Jelas Kaisar Feng. Ia tidak bisa menyembunyikannya, bahwa gadis itu lah yang menolongnya dan para Kaisar.


"Berarti semua Kaisar memiliki hutang budi pada gadis itu." Ucap Ibu Suri.


"Benar Ibunda." Ucap Kaisar Feng.


"Yang Mulia anda terluka biar hamba obati." Timpal Lan Hua. Dengan menurutnya Kaisar Feng menuju ke kediamannya dengan di papah oleh Lan Hua. Ia bersyukur, Lan Hua masih memperhatikannya. Setidaknya, masih ada rasa cinta di hati Lan Hua untuknya.


Dengan hati-hati Lan Hua mendudukkan Kaisar Feng dan membuka hanfunya ia melihat luka goresan pedang lumayan dalam.


"Hua'er kau tidak perlu khawatir ini obatnya. Tadi ada gadis bercadar memberikan obat ini." Ucap Kaisar Feng memberikan obat pada Lan Hua.


"Baiklah, Yang Mulia." Ucap Lan Hua mulai mengobati Kaisar Feng dengan lembut.


"Hua'er setelah ini aku akan mengadakan pesta untuk kemenangan kita." Ucap Kaisar Feng.


"Baiklah, Yang Mulia hamba akan mempersiapkannya." Ucap Lan Hua.


"Yang Mulia sudah selesai anda harus beristirahat." Lan Hua membantu Kaisar Feng kembali menggunakan hanfu yang telah di siapkan oleh para pelayan tadi. Setelah hanfu itu melekat di tubuh Kaisar Feng. Dengan hati-hati ia membantu Kaisar Feng merebahkan tubuhnya.


"Yang Mulia hamba undur diri. Hamb ingin menemui Ayah." Ucap Lan Hua.


"Baiklah,"


Di depan kediaman Kaisar, Lan Hua menatap Ayahnya yang sedang khawatir.


"Ayah ! apa Ayah baik baik saja?" tanya Lan Hua memeriksa tubuh Jenderal Liue.


" Hua'er, Ayah kuat, Ayah tidak apa-apa, yang paling Ayah takutkan. Ayah sangat takut tak bisa bertemu dengan mu lagi."


"Tidak akan terjadi sesuatu Ayah, aku selalu mendoakan Ayah. Sebaiknya Ayah istirahat dulu, aku juga ingin beristirahat."

__ADS_1


Jenderal Liue menyetujui perkataan Lan Hua. Ia membungkuk hormat menuju kediamannya.


__ADS_2