Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Season 3 : sebenarnya siapa suaminya


__ADS_3

#maaf baru updte, tadi masih sibuk. Jangan lupa titip jempol🤭


Ke esokan paginya..


Putra Mahkota Yuan Feng seperti biasa ia melakukan aktivitasnya. Memmbersihkan dirinya, merias diri seperti biasanya. Setelah itu ia akan menyantap hidangan yang tersaji. Namun saat ia hendak memakan sesuap nasi, ia kembali teringat dengan Putri Mahkota. Entah apa akhir-akhir ini. Di otaknya hanya terlihat wajah sang Putri Mahkota.


"Pelayan, siapa yang menyiapkan ini?" tanya Putra Mahkota melihat ke arah hidangan di depannya itu.


"Pelayan dapur Putra Mahkota," jawab sang pelayan.


Putra Mahkota Yuan Feng melirik tajam ke arah Kasim, Pengawal setianya dan para pelayan. Seketika Putra Mahkota Yuan Feng mengeluarkan aura tiraninya.


"Apa masakan Putri Mahkota masih ada?" tanya Putra Mahkota Yuan Feng dengan nada dingin.


"Semua hidangan sudah..."


"Apa kalian memakan semuanya? siapa yang menyuruh kalian memakan semuanya?" bentak Putra Mahkota Yuan Feng menatap tajam.


Aneh, ada apa dengan Putra Mahkota? bukankah kemarin dia yang mengatakan suruh di makan. Lagipula makanan kemarin mungkin sudah basi batin para *pelayan.


Apa mungkin Putra Mahkota sudah membuka hatinya batin sang Kasim dan pengawal*.


"Jalani hukuman kalian masing-masing 50 kali cambukan. Jika kalian pingsan tambah lagi 50 kali cambukan." perintah Putra Mahkota Yuan Feng beranjak pergi. Ia bermaksud mencari udara segar. Sedikit menghilangkan penak nya.


Sedangkan di sisi lain.

__ADS_1


Putri Mahkota keluar menuju halaman belakang istana. Semenjak kejadian itu, hatinya sangat tidak nyaman. Mungkin dengan berjalan di sekitar istana membuat hatinya merasa sedikit nyaman. Ia berjalan menunduk hanya melihat langkah kakinya yang menginjak tanah.


meong


meong


meong


Putri Mahkota Qi Luxia mendongakkan kepalnya, seketika langkah kakinya berhenti ketika melihat seekor kucing tergeletak tak berdaya. Terlihat salah satu kakinya di lumuri darah.


Putri Mahkota Qi Luxia langsung berlari, ia menghampiri kucing putih itu dan langsung menggendongnya. Hatinya di penuhi rasa iba dan khawatir.


"Putri Mahkota biarkan hamba saja yang menggendongnya," usul pelayan An menyodorkan kedua tangannya.


Tanpa sadar Putra Mahkota dan Putri Mahkota berpapasan. Sejenak mereka saling menatap. Kedua jantung mereka pun berdetak semakin kencang. Rona merah mulai keluar dari wajah mereka.


"Hormat hamba Putra Mahkota," ucap Putri Mahkota Qi Luxia menunduk hormat dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban darinya.


Putra Mahkota Yuan Feng menaikkan salah satu alisnya, "Beraninya dia mengabaikan ku. Tapi tunggu dulu, sebarnya apa tadi yang di bawanya?" gumam Putra Mahkota Yuan Feng.


Karna penasaran Putra Mahkota Yuan Feng mengikuti langkah kaki Putri Mahkota. Entah itu karna sebuah penasaran atau karna hal lainnya.


Sedangkan Putri Mahkota langsung menaruh kucing itu di kasurnya. Ia panik bercampur takut hingga meneteskan air matanya.


Putra Mahkota yang sudah sampai, ia masuk dan mendapati Putri Mahkota menangis sesegukan di depan ranjangnya. Putra Mahkota pun melangkah kan kakinya menuju ke arah ranjang. Ia hanya mengkerutkan dahinya melihat se ekor kucing yang berlumuran darah di kakinya.

__ADS_1


"Hormat hamba Putra Mahkota dan Putri Mahkota," ucap Tabib istana di ikuti para pelayan lainnya.


"Cepat kalian obati kucing ini," ucap Putri Mahkota seraya menyeka air matanya.


Tabib istana segera memeriksa luka di kaki sang kucing. Tidak terdapat racun atau sejenis lainnya.


"Bagaimana?" tanya Putri Mahkota menatap lekat ke arah sang Tabib.


"Ini hanya luka biasa Putri Mahkota," jawab sang Tabib.


"Kenapa masih diam, cepat obati lukanya." ucap Putri Mahkota Qi Luxia dengan tegas.


15 menit kemudian.


Tabib istana telah selesai mengobati luka di kaki sang Kucing. Kini terpancar nafas lega ketika melihat sang kucing telah di obati.


"Baiklah, beberapa hari kedepan lukanya pasti sudah kering. Putri Mahkota tidak perlu khawatir. Hamba permisi Putri Mahkota dan Putra Mahkota." ucap Tabib istana seraya menunduk hormat dan berlalu pergi.


"Hem," derheman Putra Mahkota Yuan Feng membuat Putri Mahkota Qi Luxia menoleh. Putri Mahkota Qi Luxia membulatkan matanya, ia tidak menyadari kehadiran Putra Mahkota sedari tadi yang di pikirannya hanyalah keselamatan sang kucing.


"Hormat hamba Putra Mahkota," cicit Putri Mahkota Qi Luxia.


Putra Mahkota Yuan Feng hanya diam saja, ia merasa kesal karna di abaikan oleh Putri Mahkota. Tanpa menjawab hormat Putri Mahkota ia melangkahkan kakinya keluar kediaman Putri Mahkota.


Sebenarnya siapa suaminya? aku apa kucing itu? Suami kelaparan tidak dikhawatirkan. Sedangkan kucing itu di khawatirkan. Sungguh menjengkelkan gerutu Putra Mahkota Yuan Feng dengan wajah kesal.

__ADS_1


__ADS_2