
Istana Bunga..
Terlihat seorang gadis cantik dengan Mahkota di atas kepalanya memakai hanfu putih matanya lurus kedepan melihat hamparan bunga mei hua.
"Hormat hamba,Yang Mulia." Ucap Jenderal Fang Yin.
"Ada apa Jiejie?" tanya Lan Hua tanpa melihat Jenderal Fang Yin.
"Ke empat Saudara ingin bertemu Ratu."
"Mereka tidak perlu izin menemui ku bawa mereka. " Ucap Lan Hua.
Jenderal Fang Yin memberikan hormat, ia membawa ke empat saudara. Sampailah ke empat Saudara itu di belakang Lan Hua, lalu membungkukkan badannya.
"Hormat hamba, Yang Mulia." Ucap ke empat Saudara serempak. Lan Hua membalikkan badannya ia melihat ke empat Saudaranya secara bergantian.
"Ada apa Gege dan Jiejie? tidak perlu seformal itu." Ucap Lan Hua.
Chen menghela nafas melihat keteguhan hati Lan Hua. Terbuat dari apa hatinya yang masih memiliki kesabaran.
"Meimei kita baru saja mendengar jika Meimei meninggalkan Istana." Ucap Chen.
"Iya aku akan tinggal disini." Ucap Lan Hua.
"Kenapa Meimei tidak menyerang Istana." Ucap Ming Yue.
"Buat apa Jiejie kita akan dikenal sebagai penghianat. Lagi pula aku sudah senang disini."
"Tapi kami tidak rela.jika Meimei di rendahkan." Ucap Chen mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Lagi pula tujuan ku hanya itu Jiejie kepercayaan Kaisar." Ucap Lan Hua tersenyum, tetapi hatinya masih merasakan sakit.
"Jika kalian menyerang Istana bagaimana dengan orang yang tidak bersalah prajurit bahkan pelayan pun tidak bersalah." Ucap Lan Hua.
"Bagaimana dengan bisnis kita?" tanya Lan Hua tersenyum.
"Tenang Meimei kami akan mengirimkannya kesini." Ucap Changyu.
"Tidak perlu kalian sudah melihat kan. Rakyat ku tidak membutuhkan bantuan kalian." Ucap Lan Hua tersenyum sombong.
"Aaaah, Gege kan tau di Hutan Surgawi tidak kekurangan apapun, tanah yang subur, buah yang banyak, aku ingin sekali tinggal disini." Ujar Changyi. Ia merasakan kesejukan di hatinya saat sampai di dalam Hutan Surgawi.
"Jika kalian ingin tinggal disini. Tinggal saja berikan bisnis kalian pada orang kepercayaan kalian." Ucap Lan Hua.
"Tidak kami masih bisa menjaganya. Lagi pula meimei mempercayakan bisnisnya pada kita." Sanggah Ming Yue.
Mereka semua menghabiskan waktunya dengan bercanda sampai malam pun tiba.
"Meimei kita harus kembali." Ucap Ming Yue
"Apa Jiejie tidak mau menginap disini?"tanya
Lan Hua.
"Tidak perlu Meimei." Jawab Changyi di angguki ke tiga Saudaranya.
"Apa kalian butuh tumpangan?" tawar Lan Hua.
"Tidak perlu Meimei, kita memiliki Qingqong." Sanggah Changyu.
__ADS_1
"Kalian bisa membawa Kuda putih bawahan Rexi, tanpa ada penolakan." Ucap Lan Hua.
"Baiklah Meimei, kita nurut saja. " ucap Chen menggaruk kepala tidak gatal. Mana mungkin ia menang dalam hal debat dengan Lan Hua.
"Jenderal Fang Yin akan mengantarkan kalian ke tempat mereka." Ucap Lan Hua.
"Baiklah Hua'er."
Ke empat Saudara berpamitan dengan penghormatan pada Lan Hua di ikuti Jenderal Fang Yin yang akan mengantarkan mereka ke tempat Rexi.
Selesai membawa kuda masing masing mereka keluar dari Hutan Surgawi dan terbang menuju Ibu Kota.
"Gege kita harus mencari keadilan untuk Meimei, kita tidak boleh tinggal diam. " Ucap Ming Yue menahan amarahnya. Ingin rasanya ia menebas kepala Selir Mei.
"Benar, aku sepemikiran dengan mu Meimei." Timpal Chen.
"Pertama tama kita harus mencari bukti Selir Mei." Sanggah Changyu dengan serius.
"Huh, aku ingin sekali membunuh Selir Mei." Ucap Changyi.
"Baiklah kita harus memikirkan caranya." Ucap Chen meyakinkan mereka.
Ke empat Saudara akhirnya sampai di depan gerbang Ibu kota yang sudah kelihatan sepi.
Ke Empat bersaudara berjalan dan membawa kuda mereka. Dari kejauhan mereka melihat prajurit istana dan Jenderal Chu mencari Lan Hua.
"Huh, mereka mencari sampai matipun tidak akan menemukan Meimei." Ucap Ming Yue di angguki ketiga bersaudara...
Akhirnya mereka sampai dikediaman mereka dan terlelap ke tempat tidurnya masing-masing.
__ADS_1