Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Bersama Kaisar Feng


__ADS_3

Sesampainya di pasar.


Semua mata tertuju pada seorang gadis cantik yang memakai hanfu berwarna merah. Para laki-laki menahan liurnya, sementara para wanita merasa iri dengan kecantikannya


"Waaa,, siapa gadis itu bagaikan sang dewi? aku tidak pernah melihatnya." Ucap si A yang tidak bisa mengedipkan matanya. Baru kali ini matanya membulat melihat wanita yang begitu sempurna.


"Benar, jika ia mau aku akan menjadikannya nyonya sah di kediaman ku." Timpal si B.


" Jika ia mau dengan ku, aku akan menjadikannya Selir dan memanjakannya." Sanggah si C.


Riuh para laki-laki yang membicarakan kecantikan Lan Hua membuat telinga Kaisar Feng semakin memanas. Hatinya berkobar api kecemburuan. Ingin rasanya ia menyembunyikan tubuh Permaisurinha ke dalam istananya, agar hanya dirinya lah yang bisa melihat tubuh istrinya itu. Setiap langkahnya, ia menatap tajam ke semua laki-laki. Ada yang menunduk ketakutan bahkan ada yang terang-terangan melawan tatapannya. Seandainya saja tadi ia membawa pengawal dan menggunakan jubah kebesarannya, tentunya tidak akan ada yang berani menatapnya sekaligus Permaisurinya ini.


Sedangkan Lan Hua ia memilih diam, mengabaikannya saja. Ia tersenyum sinis, dia ini seorang wanita. Tidak ada Kaisar Feng masih banyak laki-laki yang menginginkannya. Dengan banyak tatapan laki-laki yang tertuju padanya, ia bisa membuktikan. Jika bukan hanya Kaisar Feng yang menginginkannya.


Dengan antusiasnya ia melihat ke arah para pedagang yang menawarkan dagangannya terdapat senyum cerah di wajahnya. Kaisar Feng bersyukur malam ini bisa menghabiskan berdua dengan Permaisurinya, meski dengan hati yang jengkel.


Kedua insan itu kini tengah berkeliling pasar mencicipi semua macam kue yang di tawarkan oleh para pedagang.


Pandangannya tertuju pada kue yang indah yaitu kue bulan. Kue khas yang terkenal lezatnya.


Tanpa ba bi bu Lan Hua langsung menyantap nya. Memasukkannya ke dalam mulutnya.


waw enak banget ....


Dengan lahapnya Lan Hua memakan kue bulan itu hingga membuat pedagang menganga melihat mulut monyongnya itu.


Astagah apakah dia monster, kue bulan ini cepat sekali ia makan batin pedagang yang menatap ke mulut Lan Hua..


"Hua'er, apa kau ingin membungkus kue ini?"


Lan Hua dengan antusiasnya mengangguk.


Melihat mulut Lan Hua yang penuh dengan makanan. Kaisar Feng tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Permaisurinya yang menggemaskan saat makan.

__ADS_1


menurutnya pemandangan yang langka.


"Hu'er ikut lah dengan ku." Ajak Kaisar Feng kesalah satu pedagang dengan menggengam tangannya.


Mata Kaisar Feng tertuju pada sebuah gelang giok berwarna bening dengan gambar ukiran bunga sakura.


Kaisar Feng mengambil gelang giok itu dan memakaikannya ke tangan Lan Hua.


"Hua'er, kau tambah cantik memakai gelang ini." Ucap Kaisar Feng sambil mengelus pipi Lan Hua.


"Nona anda sangat beruntung memiliki suami yang baik." Timpal pedagang itu merasa Kaisar Feng sangat menyayangi Lan Hua.


Baik gundul mu batin Lan Hua.


"Tuan kau sangat beruntung memiliki istri secantik dirinya. Bahkan di kekaisaran ini aku tidak pernah melihat wanita secantik dirinya, sungguh keindahan yang langka." Pedagang itu pun mengkhayal, seolah dirinya di layani Lan Hua.


"Bahkan gelang giok pun yang ada di tangannya juga kelihatan indah,, seindah pemiliknya." Sambungnya seraya tersenyum.


"Baiklah, berapa harganya?" tanya Kaisar Feng membuyarkan lamunan pedagang itu. Ia sudah tau, pedagang itu menaruh kagum pada istrinya.


"Tidak perlu, ingat jangan menatap istri ku seperti itu kalau tidak aku akan mencongkel matamu." Bentak Kaisar Feng dengan kesalnya menarik tangan Lan Hua meninggalkan tempat itu..


"Hua'er apa kau sudah puas berkeliling,, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat, dimana tempat itu tidak ada duanya." Tutur Kaisar Feng seraya menatap manik Lan Hua.


"Benarkah."


"Ikutlah dengan ku." Kaisar Feng menggandeng tangan Lan Hua dengan lembut. Ia melangkah menuju tempat dimana dirinya hanyalah dia yang tau.


"Ini tempatnya, ayo." Kaisar Feng menuntun Lan Hua menaiki sebuah bukit dengan hanya pencahayaan kunang-kunang.


"Wah," Lan Hua sangat kagum, kunang-kunang itu mengikutinya langkahnya dengan Kaisar Feng.


Angin yang menelusuri malam. Di bawah terangnya sang bulan, menerangi hamparan bukit nan hijau yang terdapat pohon sakura di kelilingi cahaya kunang kunang.

__ADS_1


Lan Hua berlari ke tengah hamparan nan hijau merentangkan tangannya menikmati angin malam,, rambutnya terbawa angin menambah kesan kecantikan yang alami.


Kaisar yang melihatnya dari kejauhan tak rela pergi meninggalkan Permaisurinya..


''Hua'er, kemarilah aku ingin menunjukkan sesuatu." Ucap Kaisar Feng yang berada di bawah pohon sakura.


Lan Hua yang mendengarkan panggilan Kaisar Feng lalu menghampiri nya..


"Lihatlah ke bawah, itulah Kekaisaran Feng."


ucap Kaisar Feng.


"Waw"


Andai HP ku juga terbawa sudah kupastikan akan selfi disini kapan lagi liat pemandangan gratis batin Lan Hua.


Kaisar Feng tersenyum, tanpa terasa dia dan Lan Hua saling kejar-kejaran layaknya anak kecil. Baru kali ini Kaisar Feng merasakan indahnya kebersamaannya dengan Lan Hua. Sungguh hatinya menyesal, menyia-nyiakan Lan Hua.


hosh,,hosh,,hosh,,,


"Aku lelah." ucap Lan Hua merebahkan tubuhnya di hamparan rumput menatap langit malam akan keindahan nya...


Kaisar Feng mengikuti Lan Hua merebahkan tubuhnya.


"Hua'er apa kau senang?"


sambil melihat wajah Lan Hua yang masih setia menatap langit.


"Apa kau sering ke sini?" tanya Lan Hua yang masih menatap langit malam.


"Ya aku sering kesini, tempat ini adalah saksi disaat aku bersedih."


"Ternyata kau bisa bersedih, aku kira seorang Kaisar yang kejam tidak bisa bersedih.'' Ucap Lan Hua.

__ADS_1


"Ya saat ayahanda meninggal itulah hal yang paling menyedihkan bagiku."


"Lalu pada saat Permaisuri meninggalkan istana, pernahkah kau bersedih." Ujar Lan Hua.


__ADS_2