Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Wanita Misterius


__ADS_3

Kaisar Feng dan Iyan segera meninggalkan bukit dengan di ikuti kedua pengawalnya. Ia tidak sabar ingin cepat kembali, memberikan Lotus Api itu dan yang paling terpenting, ia cepat pulang ke istana. Rasa rindu ingin menemui Permaisuri Lan Hua. Hatinya sangat berat, rasa jauh dengan istrinya membuat hidupnya seakan terkikis oleh waktu.


"Iyan aku haus kita mencari sungai di dekat sini." Ucap Kaisar Feng. Tenggorokannya terasa kering.


"Baik, Yang Mulia." Ucap Iyan.


Mereka pun menelusuri Hutan. Berharap di dekat sini, ada sungai yang akan menghilangkan dahaga mereka.


"Iyan lihatlah kita sudah menemukannya." Ucap Kaisar Feng. Ia lantas menuju ke bibir Sungai, lalu duduk di pinggirnya. Kaisar Feng, meminum air jernih itu dengan kedua tangannya, yang ia satukan. Setelah rasa hausnya hilang, ia membasuh wajahnya yang di penuhi keringat.


Kaisar Feng melihat semua pemandangan keindahan sungai itu, bunga berada di mana mana membuat mereka mencium harumnya bunga. Hingga Kaisar Feng tertuju pada seseorang di atas batu yang merebahkan tubuhnya...


Bukankah dia gadis itu yang pernah aku temui di bukit walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya tapi dilihat hanfunya sama batin Kaisar Feng.


"Iyan. " Ucap Kaisar Feng.


"Iya, Yang Mulia." jawab Iyan yang masih membasuh wajahnya.


"Lihatlah bukankah itu gadis tadi." Ucap Kaisar Feng.


Iyan mengikuti ekor mata Kaisar Feng yang menuju ke arah batu besar.


"Benar, Yang Mulia. Aku melihat gadis tadi, dia juga menggunakan cadar bahkan hanfunya juga sama." Ucap Iyan.


"Baiklah aku akan menghampirinya. Tunggulah disini." Kaisar Feng menuju ke arah Lan Hua yang memejamkan matanya.

__ADS_1


Karena merasa ada orang mendekatinya Lan Hua membiarkannya. Ia berpura-pura tidur. Seolah tertidur sangat nyenyak.


Dengan hati-hati Kaisar Feng duduk berjongkok, ia memerhatikan seluruh tubuh wanita di depannya. Jika di lihat dari tubuhnya, ia merasa tidak asing dengan wanita di depannya.


Mata yang indah, kulit yang halus dan seputih giok batin Kaisar Feng.


Kaisar Feng duduk ia ingin membuka cadarnya tapi diurungkan karna di anggap tidak sopan.


Seketika Lan Hua membuka matanya dengan sigap Lan Hua berdiri dan melangkah pergi. Secepat kilat Kaisar Feng memegang pergelangan tangan Lan Hua.


"Maaf Nona jika mengganggu waktu anda. Bolehkah saya bertanya sesuatu. Apa nona yang menolong kami dari Singa yang ingin menyerang kami dan di bukit itu apa nona juga yang menolong kami?" tanya Kaisar Feng seraya mendonggakkan wajahnya.


Lan Hua tidak menjawab, ia hanya memandang Kaisar Feng dan melepaskan tangan Kaisar Feng meninggalkannya begitu saja.


Kaisar Feng berteriak memanggilnya. Namun Lan Hua menghiraukannya.


Kaisar Feng kembali, ia menghampiri Iyan yang memperhatikannya.


"Bagaimana? apa Yang Mulia tau namanya?" tanya Iyan.


Kaisar Feng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melewati Iyan meninggalkan sungai, melanjutkan perjalanan pulangnya.


Tak terasa Kaisar Feng sudah sampai di luar Hutan Kematian dengan menggunakan Qingqongnya. Tanpa ia sadari, anak panah meluncur ke arah tubuh mereka. Dengan sigap Kaisar Feng dan pengawalnya menghindarinya.


Salah satu orang berhanfu hitam itu turun, di ikuti yang lainnya. "Serahkan harta kalian." Ujarnya dengan tegas.

__ADS_1


"Heh, tidak semudah itu. Langkahi dulu mayat kami." Ucap Kaisar Feng.


"Kalian ingin mati melawan kami, hah." Teriak Ketua bandit.


Tidak ada jawaban, hanya ada senyum meremehkan. Ketua bandit itu langsung menyuruh bawahannya menyerang Kaisar Feng dan yang lainnya.


Kaisar Feng dan Iyan melawan mereka dengan sengit dan membunuh beberapa anak buah bandit. Akan tetapi tidak dengan kedua pengawalnya mereka kuwalahan karena Kultivasi mereka jauh dari Kultivasi para bandit.


Dari kejauhan Lan Hua memperhatikannya. Sebenarnya ia tidak langsung pergi. Ia ingin memastikan Kaisar Feng keluar dari Hutan Kematian dengan selamat.


Tanpa disadari sebuah anak panah mengarah pada Kaisar Feng dan Iyan. Lan Hua langsung menghalangi anak panah itu dengan menangkapanya. Dan posisinya membelakangi Kaisar Feng.


Lan Hua melemparkan jarum akupuntur pelumpuh. Hingga beberapa bandit yang diam mematung. Ia juga mengarahkan pada seseorang di atas pohon.


Bruukkk,


Pemanah itu jatuh dari atas dahan pohon. Kaisar Feng dan Iyan saling menatap, ia menoleh ke belakang. Kedua laki-laki itu terkejut, tidak heran jika perjalanannya lancar. Mereka bertambah yakin, wanita itu lah yang menolong mereka.


Lan Hua mengeluarkan pedang Iblisnya, dengan secepat kilat Lan Hua sudah menebas leher para bandit termasuk ketua bandit itu.


Kaisar Feng dan Iyan tercengang, ia menatap mayat di depannya. Lalu beralih ke tubuh wanita misterius itu. Tidak ada noda darah sama sekali di hanfunya.


Bagaimana mungkin secepat itu mereka ditebas..


Lan Hua langsung pergi meninggalkan mereka yang masih membeku. Mereka tidak sadar jika gadis misterius itu telah pergi dari hadapan mereka. "Sebaiknya kita harus cepat meninggalkan Hutan ini. Lain kali, semoga kita bertemu dengan gadis Misterius itu lagi." Ujar Kaisar Feng mengembalikan pedanganya ke sarungnya di pinggangnya. Sebelum melangkah ia merasa aneh melihat para mayat bandit itu. Tubuh mereka meleleh dan langsung menghilang bagaikan ditelan bumi.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin? " ucap mereka secara bersamaa dan saling menatap.


__ADS_2