Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
season 3 : menenangkan


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, Lan Hua yang menerima laporan dari mata-matanya. Ia langsung menuju kediaman Putri Mahkota, untuk saat ini ia tidak bisa ikut campur, ia hanya bisa melindungi Putri Mahkota dari jauh. Tapi ia juga berjanji dirinya akan membuat Putra Mahkota mencintai Putri Mahkota.


Sesampainya di kediaman Putri Mahkota, ada rasa takut ketika ia melihat pelayan An gugup.


"Hormat hamba, Yang Mulia," ucap pelayan An menunduk hormat di ikuti pelayan lainnya.


"Dimana Putri Mahkota?" tanya Lan Hua datar.


"Putri Mahkota sedang tidur, Yang Mulia."


"Hem,"


Lan Hua memberikan kode ke salah satu pelayannya, pintu itu pun langsung terbuka. Sementara para pelayan Putri Mahkota terkesiap, keringat dingin mulai keluar dari dalam tubuhnya. Mereka yang saling lirik hanya bisa meremas hanfunya.


Lan Hua masuk di ikuti para pelayannya dan pelayan Putri Mahkota. Ia mengedarkan ke seluruh pandangannya, terasa sunyi dan bau arak yang mencengkam.


"Yang mulia hamba akan membangunkan Putri Mahkota," ucap pelayan An.

__ADS_1


"Tidak perlu, kalian keluarlah. Biarkan aku sendiri yang membangunkannya." ucap Lan Hua.


Semoga saja Yang Mulia tidak marah batin para pelayan Putri Mahkota. Sudah pasti mereka akan mendapatkan hukuman.


Lan Hua melangkah kan kakinya, ia mendekati tubuh yang membaringkan kepalanya di atas meja dengan bantal kedua tangannya.


"Nak, ketahuilah. Aku pernah berada di posisi mu. Tapi kehidupan ku lebih sakit darimu." gumam Lan Hua seraya mengelus kepala Putri Mahkota.


Putri Mahkota yang mendapatkan elusan lembut, ia membuka matanya. Lalu mendonggak kan kepalanya. Apa yang ia lihat di depannya masih terlihat kabur. Ia mengucek matanya dan betapa terkejutnya dia, melihat wanita penguasa yang berdiri di depannya.


"Yang Mulia," ucap Putri Mahkota membulatkan matanya.


Bagaimana ini?? batin Putri Mahkota seraya menelan ludahnya.


"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba bisa menje.."


"Ibunda tau, kamu melakukannya hanya karna ingin menenangkan pikiran mu ka?" Lan Hua menjeda ia menarik kursi di sebelahnya. Lalu duduk di depan Putri Mahkota, Ia meraih tangan Putri Mahkota dan menggenggamnya, "Maafkan Ibunda, untuk kali ini Ibunda hanya bisa melindungi mu. Ketauhilah Lu'er. Ibunda pernah ada di posisi mu. Bahkan lebih menyakitkan."

__ADS_1


Putri Mahkota menunduk, air mata bening mulai keluar dari matanya.


"Ibunda, Lu'er sudah lelah. Putra Mahkota tidak pernah mencintai hamba. Mungkin saat ini lah akhir perjuangan hamba. Bahkan hamba melihat Putra Mahkota bersama dengan wanita lain." Putri Mahkota mendongakkan kepalanya, ia menatap kosong ke depan dan mengingat kejadian tadi pagi.


"Dia tidak mencintai hamba Ibunda," Putri Mahkota tersenyum menatap Lan Hua di iringi air mata yang berjatuhan.


"Jika memang Putra Mahkota mencintai orang lain, tidak masalah. Mungkin hidup hamba hanyalah pajangan di istana." lirih Putri Mahkota Qi Luxia.


"Tidak Lu'er, kamu harus kuat. Kamu harus mendapatkan cinta Putra Mahkota."


"Maaf Ibunda, Lu'er sudah lelah."


"Ibunda pernah ada di posisi mu, dulu Ibunda tidak pernah di cintai Yang Mulia. Bahkan Ibunda di asingkan. Ibunda di tuduh meracuni Selir Mei, hah." Lan Hua menunduk, tak terasa air mata mengikuti rasa sakitnya dulu. Walaupun masa lalu, tapi jika di ingat masih memberikan luka.


"Saat Ibunda, kembali ke istana. Ibunda membuat Yang Mulia mencintai Ibunda, tapi kebahagiaan itu sirna ketika Yang Mulia tidak mempercayai Ibunda lagi. Ibunda pergi meninggalkan Yang Mulia. Tepat 17 tahun lamanya. Ibunda kembali di pertemukan."


Setelah mendengarkan penjelasan Lan Hua, Putri Mahkota kini mengerti. Tidak seharusnya dia seperti ini. Hati Permaisuri Lan Hua lebih menyakitkan dari pada hatinya.

__ADS_1


"Berikan dia hukuman, abaikan dia sementara. Jika masih sama," Lan Hua mengelus pipi Putri Mahkota, "Tinggalkan dia, walaupun Ibunda berharap. Kau menajadi Anak Ibunda sekaligus menantu Ibunda." ucap Lan Hua tersenyum lembut dan berlalu pergi.


__ADS_2