Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
season 3 : gantinya


__ADS_3

Setelah kepergian Putra Mahkota Yuan Feng. Putri Mahkota Qi Luxia mendekati ke arah ranjang dan mengelus lembut kepala kucing putih itua. Ia tidak akan ambil pusing perlakuan Putra Mahkota yang tidak berubah. Lagipula tidak ada urusannya dengan dirinya lagi. Sudah cukup baginya di abaikan. Sekarang ia tidak mengharapkan cinta dari Putra Mahkota.


"Putri Mahkota, bagaimana jika kucing ini ditempatkan di kandang saja? Agar tidak mengganggu tidur Putri Mahkota." ucap pelayan An.


"Tidak perlu, kasian jika kucing ini tidur sendiri. Kau hanya perlu membersihkan kasurnya saja." ucap Putri Mahkota seraya menggendong kucing itu di dekapan dadanya.


Putri Mahkota keluar dari kediamannya. Sesekali ia mengelus kepala kucing putih itu dan tersenyum.


Namun langkah nya. berhenti ketika melihat para pelayan, Kasim dan pengawal setia Putra Mahkota Yuan Feng di cambuk oleh tujuh prajurit. Lima prajurit mencambuk lima pelayan sedangkan dua prajurit mencambuk pengawal setia Putra Mahkota dan sang Kasim.


Putri Mahkota pun merasa iba melihat keringat bercucuran do dahinya. Mereka meringis kesakitan di bawah teriknya matahari.


"Berhenti," seketika para prajurit menghentikan pukulannya, ia menunduk hormat dan berkata, "Hormat hamba Putri Mahkota," ucapnya.


Putri Mahkota tidak memperdulikannya, yang ia perhatikan luka di betis para pelayan, Kasim dan sang pengawal.


"Kenapa kalian mencambuknya hingga seperti itu?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia menatap tajam ke arah prajurit yang sedang menunduk.


"Hamba hanya menjalankan perintah dari Putra Mahkota,"


"Hem, kesalahan apa yang kalian perbuat?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia menatap ke arah mereka.


"Putri Mahkota ini memang kesalahan hamba. Mohon Putri Mahkota tidak perlu ikut campur, ini memang kesalahan hamba," lirih sang Kasim.

__ADS_1


"Katakan kesalahan apa yang kalian perbuat?" tanya Putri Mahkota Qi Luxia.


Para pelayan, Kasim dan Pengawal hanya saling melirik mereka tidak ikut berbicara. Jika salah bicara saja mungkin hukumannya akan bertambah. Ingin rasanya mereka mengatakan penyebab hukuman itu.


"Baiklah, kalian bungkam. Biar aku saja yang menanyakannya." ucap Putri Mahkota Qi Luxia melangkah kan kakinya menuju ke arah ruang kerja Putra Mahkota Yuan Feng.


Sesampainya disana Putri Mahkota tidak langsung masuk, ia harus meminta ijin dulu. Belum tentu kedatangannya di harapkan justru ia takut kedatangannya mengganggu.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Putra Mahkota,"


"Silahkan Putri Mahkota masuk," ucap sang prajurit membukakan pintu. Putri Mahkota sedikit ragu. Namu ia harus menghentikan cambukan untuk pelayan, Kasim dan sang pengawal.


Dalam sebuah keberanian dan tekat yang kuat, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia mengedarkan ke sekeliling dan melihat seorang laki-laki yang tengah fokus ke arah tumpukan kertas.


"Hormat hamba, Putra Mahkota." ucap Putri Mahkota Qi Luxia menunduk hormat.


Putra Mahkota Yuan Feng menghentikan tulisannya, ia menatap ke arah wanita di depannya itu.


"Hem, ada apa?" tanya Putra Mahkota Yuan Feng datar.


"Itu, itu, hamba hanya ingin," ucap Putri Mahkota Qi Luxia dengan gugup.


"Ada apa? aku sibuk." ucap Putra Mahkota Yuan Feng kembali mengambil kuasnya dan melanjutkan tulisannya.

__ADS_1


"Maaf Putra Mahkota, hamba hanya ingin Putra Mahkota menghentikan hukuman untuk para pelayan, Kasim dan pengawal." ucap Putri Mahkota.


Putra Mahkota Yuan Feng melirik ke arah Putri Mahkota Qi Luxia.


"Apa peduli pada mereka?" tanya Putra Mahkota dingin dan tajam.


Kurang ajar, beraninya kau memperdulikan mereka. Memangnya siapa mereka? batin Putra Mahkota Yuan Feng geram.


"Bukankah mereka pelayan setia, Putra Mahkota. Kasian mereka Putra Mahkota." cicit Putri Mahkota.


Putra Mahkota Yuan Feng beranjak berdiri, ia melangkah kan kakinya ke arah Putri Mahkota yang kelihatan gugup dan gemetar.


Putra Mahkota Yuan Feng semakin mendekat. Terlihat senyuman di bibir indahnya. Entah mengapa ketakutan Putri Mahkota membuatnya terlihat menggemaskan.


Tanpa basa basi ia menarik pinggang Putri Mahkota. Sedangkan Putri Mahkota jantungnya mulai melompat, ia melihat dada bidang Putra Mahkota.


"Tatap mataku,"


Putri Mahkota menelan ludahnya, ia memberanikan diri menatap wajah Putra Mahkota. Pandangan bola mata mereka saling bertemu, "Jika ingin aku mengehentikan hukuman mereka, sebagai gantinya. Setiap hari Putri Mahkota harus menyiapkan hidangan untuk ku." ucapnya tersenyum lembut. Tanpa sadar Putra Mahkota mencium kening Putri Mahkota.


Seperti aliran listrik menjalar di tubuh Putri Mahkota Qi Luxia. Ia lansung mendorong dada Putra Mahkota Yuan Feng hingga ia terlepas dari dekapan Putra Mahkota.


"Hamba akan melakukannya, tapi hamba mohon jaga sikap Putra Mahkota, " ucap Putri Mahkota Qi Luxia menunduk, ia menyembunyikan rona wajahnya bak kepiting rebus. Dan langsung menunduk hormat berlari kecil keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Putra Mahkota yang melihatnya, ia hanya mampu tersenyum dan ada rasa kesal di hatinya. Namun rasa senangnya mengalahkan rasa kesalnya. Ia tidak memperdulikan hal itu.


Ada apa dengan dada ku? tapi kenapa setiap bersama dengan Putri Mahkota jantung ku seakan melompat. Sepertinya aku harus memeriksanya ke Tabib istana, aku harus menyembuhkan jantung ini, hah.


__ADS_2