
Satu Bulan telah berlalu.
Tidak ada perubahan dalam dirinya, ia tetap pada pendirian tidak mencintai Putri Mahkota Qi Luxia. Setelah perdebatan dengan Kaisar Feng, Putra Mahkota Yuan Feng memilih menghindar jika bertemu dengan Kaisar Feng, Lan Hua dan Pangeran Jixiang. Bahkan demi menghindari ketiga orang penting itu, Putra Mahkota Yuan Feng memilih keluar istana menemui Huang Xue Na.
Selama Sebulan itu pula Putri Mahkota Qi Luxia mendekati Putra Mahkota Yuan Feng. Sering kali Putri Mahkota Qi Luxia mendapatkan bentakan, hinaan dari mulut pedas Putra Mahkota. Tapi demi cintanya, ia rela melakukan apapun. Jika ditanya mencintai Putra Mahkota Yuan Feng. Ya, dia sudah jatuh hati pada Putra Mahkota Yuan Feng. Demi Putra Mahkota, Putri Mahkota Qi Luxia belajar memasak. Tapi saat Putra Mahkota tau siapa yang memasak, ia tidak akan makan. Dan justru makanan yang di buat susah payah oleh Putri Mahkota Qi Luxia di buang begitu saja.
Dengan penghinaan seperti itu, Putri Mahkota tidak menyerah begitu saja. Dirinya sudah bertekad akan membuat Putra Mahkota Yuan Feng mencintainya.
Sama halnya sekarang, Putri Mahkota Qi Luxia membuat gaduh para pelayan dapur.
"Putri, biarkan hamba saja yang mengiris bawangnya." ucap salah satu pelayan. Ia tidak tega melihat Putri Mahkota mengeluarkan air mata.
"Tidak apa-apa, ini hanya sebentar saja. Setelah itu kalian yang melanjutkan." ucap Putri Mahkota.
Setelah selesai mengiris bawang, Putri Mahkota memberikan alih ke para pelayan.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap. Aku tidak mungkin menemui Putra Mahkota dengan pakaian kotor seperti ini. Mohon bantuannya," ucap Putri Mahkota Qi Luxia tersenyum dan berlalu pergi.
Para pelayan pun merasa kasihan, sudah beberapa kali Putra Mahkota menolak makanan dari Putri Mahkota. Mereka berfikir untung saja Putri Mahkota memiliki sifat lembut dan penyabar.
Para pelayan pun yang telah selesai menata makanan, mereka segera menuju ke arah kediaman Putri Mahkota.
__ADS_1
"Hormat hamba Putri Mahkota. Semuanya telah siap." ucap pelayan yang menunduk hormat.
"Baiklah," ucap Putri Mahkota. Kebetulan dirinya telah selesai merias diri.
Merekapun menuju ke arah kediaman Putra Mahkota. Sesampainya disana, tanpa sadar Putra Mahkota keluar dari ruang kerjanya.
"Hormat hamba Putra Mahkota," ucap Putri Mahkota Qi Luxia.
"Untuk apa datang kesini, aku sudah bilang. Aku tidak butuh masakan mu." bentak Putra Mahkota Yuan Feng, dirinya merasa risih. Setiap harinya dia harus melihat Putri Mahkota membuat makanan untuknya.
"Putra Mahkota, tolong cicipilah masakan hamba." lirih Putri Mahkota sendu.
"Cih, Pelayan. Ambil makanan dari Putri Mahkota. Aku memberikannya pada kalian." teriak Putra Mahkota dengan senyuman sinis.
Putri Mahkota menatap mata elang Putra Mahkota Yuan Feng. Tidak ada rasa bersalah di dalam bola mata itu.
Sebenci itukah dirimu terhadap hamba Putra Mahkota.
"Aku sudah bosan melihat mu yang membuat masakan." bentak Putra Mahkota Yuan Feng berlalu pergi.
Tak terasa air mata telah jatuh membasahi pipinya, ia menatap ke arah punggung yang mulai menjauh. Para pelayan pun merasakan iba.
__ADS_1
"Kalian makan lah," ucap Putri Mahkota segera pergi menuju kediamannya.
Sesampainya di kediaman, Putri Mahkota menangis di pelukan pelayan setianya.
"An, apakah aku memang tidak pantas untuknya?" tanya Putri Mahkota mendongakkan kepalanya menatap ke wajah wanita paruh baya itu.
"Tidak, Putra Mahkota lah yang tidak pantas untuk Putri Mahkota." ucap pelayan Yun seraya mengelus lembut pucuk kepala Putri Mahkota.
"Jangan berbicara seperti itu An, jika kamu berbicara seperti itu. Aku akan marah." ucap Putri Mahkota kesal di iringin wajah cemberutnya. Ia melepaskan pelukannya.
"Maafkan hamba Putri," ucap pelayan An menunduk hormat.
"Bagaimana jika kita jalan-jalan saja Putri, apalagi Putri akan memberikan sulaman indah untuk Putra Mahkota." usul An tersenyum. Ia tidak ingin junjungannya marah dengannya.
"Ah, aku hampir lupa." ucap Putri Mahkota seraya menepuk dahinya.
"Baiklah, ayo kita bersiap," ucap Putri Mahkota membuat pelayan An bernafas lega. Untung saja dia mengingatkan junjungannya yang berniat membuat sulaman untuk Putra Mahkota, tapi lebih tepat, niatnya itu hanya mengalihkan topik saja.
Sesampai di Kota, Putri Mahkota Qi Luxia menatap berbinar. Sudah lama dia tidak keluar istana, jika dirinya masih seorang Putri kediaman Qi. Pasti dirinya keluar, sejenak mencari hiburan.
Putri Mahkota berjalan dengan menggandeng tangan pelayan An, ia merasa senang. Sesekali dia mencicipi kue yang di tawarkan oleh para pedagang. Dan sering pula ia menyuapi pelayan setianya, yang dianggap sebagai ibunya sendiri.
__ADS_1
Putri Mahkota mengedarkan pandanganya ke kanan dan ke kiri diringi senyum ceria. Sejenak dia bisa melupakan sikap Putra Mahkota. Namun senyum itu hilang ketika melihat orang yang dia kenal sedang tersenyum bersama wanita lain.