
Sementara di Hutan Surgawi..
Lan Hua dan Jenderal Fang Yin sudah sampai
mereka pun menuju Istana Bunga.
Lan Hua melangkah menuju ke arah Ayahnya mondar-mandir dengan wajah gelisah.
"Ayah !"
Secepat kilat Jendral Liue menoleh dan berlari menuju ke arah Lan Hua.
"Hua'er kenapa baru kembali?" tanya Jendral Liue.
"Maaf Ayah tadi Hua'er sedikit bermain." Jawab Lan Hua cengengesan. Ia merasa bersalah membuat ayahnya khawatir sebegitunya.
"Baiklah, kamu istirahat dulu, tapi sebelum itu kamu haru makan dulu." Ujar Jenderal Liue. Ia takut tubuh Lan Hua sakit. Jika pun Lan Hua sudah kuat dan bisa menahan lapar karena kekuatannya, tetapi ia sebagai seorang ayah masih takut tubuh putrinya melemah.
"Baiklah, hamba undur diri Yang Mulia." Pamit Jendral Fang Yin.
"Iya Jiejie." jawab Lan Hua tersenyum.
Lan Hua dan Jenderal Fang Yin memasuki kediamannya masing-masing.
Lan Hua menyuruh para pelayan menyiapkan hidangannya dan juga air hangat. Ia memakan hidangan lezat itu dengan lahap, lalu beralih ke tempat pemandiannya.
Sedangkan Jenderal Fang Yin pikirannya melayang pada kekasihnya. Ada rasa ragu di hatinya, seperti sesuatu yang di sembunyikan pada dirinya dan Ratunya.
Entah mengapa aku merasa Chen menyembunyikan sesuatu ketika aku membahas pemuda itu.
"Aku harus mencari tau," ujar Jenderal Fang Yin.
Ia memeluk guling di sampingnya, lalu memejamkan matanya. Rasa lelah di tubuhnya membuatnya melayang ke alam mimpinya.
Keesokan paginya di Ibukota..
Terlihat ke empat Saudara mendandani Ming Yue ala pelayan dengan wajah kusam dan bertompel.
"Gege cepat buat wajah ku hitam." Ucap Ming Yue.
"Aah baiklah Meimei." Uap Changyu memberikan obat penghitam wajah. Sementara Ming Yue memberikan tompel di pipi kirinya.
"Aah selesai, bagaimana Selir Mei tidak akan mengenalku kan bahkan tidak curiga?" tanya Ming Yue mengkedipkan matanya.
"Benar, kau tidak terlihat seperti nyonya Ming Yue yang cantik." Ejek Changyu. Dalam sekejap Ming Yue yang di kenal sebagai wanita cantik berubah wajah menjadi wanita terjelek.
Mereka berjalan menggunakan kereta sampai di gerbang istana.
"Meimei berhati hatilah." Ucap Chen.
"Baik Gege, doakan Meimei mu ini." Ucap Ming Yue.
Ming Yue mendekati ke arah dua pengawal.
"Tuan saya ingin mendaftar menjadi pelayan di istana." Ucap Ming Yue.
Kedua pengawal itu pun langsung membukakan gerbang Istana. Ia merasa risih melihat wajah Ming Yue, entah nanti Ming Yue di tendang oleh Selir Mei bukan urusannya, yang terpenting wanita di depannya menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Selamat datang kembali Ming Yue batin Ming Yue tersenyum sinis. Ia melihat ke arah pengawal yang menatapnya jijik.
"Ingin sekali aku mencakar wajahnya." Ming Yue memutar bola matanya, lalu melangkah ke arah banyak wanita di depan istana untuk bergabung.
Beberapa menit kemudian ia melihat Ketua pelayan istana menuju ke arah mereka..
"Baiklah, kalian harus menuju ke kediaman Selir Mei karna kalian akan dipilih menjadi pelayan Selir Mei." Ucap Ketua pelayan..
Keberuntungan berpihak padaku batin Ming Yue.
Akhirnya mereka mengikuti ketua pelayan menuju kekediaman Selir Mei. Semua calon pelayan menundukkan kepala mereka saat berjalan, tapi Ming Yue mencuri curi pandang celingak-celinguk kanan kiri. Ia penasaran dengan Kaisar Feng namun tidak menemukan keberadaanya.
Sampailah mereka dikediaman Selir Mei.
Ming Yue melirik kedepan melihat wanita yang sombong dan arogan itu.
Semua pelayan menunduk hormat pada Selir Mei,
"Aku akan memilih kalian menjadi pelayan pribadiku." Ucap Selir Mei.
"Jika kalian berkhianat maka aku akan membuat perhitungan pada kalian dan juga keluarga kalian." Ucap Selir Mei tegas.
Ulat bulu rasanya aku ingin batin Ming Yue mengepalkan tangannya..
"Kau !" Selir Mei menunjuk Ming Yue.
Selir Mei menghampiri Ming Yue menundukkan kepalanya. Selir Mei melihat wajah Ming Yue ada perasaan sesuatu, seperti pernah melihat wanita bertompel itu.
"Sepertinya aku pernah melihat mu." Ucap Selir Mei keheranan.
"Ah, mungkin hanya perasaan ku saja." Ucap Selir Mei tersenyum.
"Aku akan memilih mu menjadi pelayan pribadiku tanpa test entah kenapa aku menyukai mu ketika melihat wajah mu." Ucap Selir Mei.
Keberuntungan tanpa susah payah batin Ming Yue.
"Beribu terimakasih, Yang Mulia." Jcap Ming Yue memberikan penghormatan..
"Ketua pelayan akan menjelaskan tugas mu." Ucap Selir Mei langsung pergi meninggalkan mereka.
Sementara ketua pelayan memberikan 20 perak kepada masing masing pelayan yang gagal lolos untuk dibawa pulang sebagai oleh oleh dari Istana. Setelah selesai semua pelayan itu pun pulang.
Ming Yue mendengarkan penjelasan ketua pelayan apa saja pekerjaan nya. Selesai menjelaskan.
Ketua pelayan mengantarkan Ming Yue ke Selir Mei di dalam kediamannya. Langkahnya berhenti di ambang pintu, ia merasa jijik memasuki kediamannya. Hatinya menguat, demi Lan Hua, demi Ratunya dan demi adiknya.
Ming Yue melihat Selir Mei duduk dengan mengunyah camilannya di temani seorang pelayan disampingnya yaitu Sie Yue.
"Salam hormat hamba, Yang Mulia." Ucap Ming Yue pada Selir Mei.
"Siapa nama mu?" tanya Selir Mei.
"Nama hamba Ming Yue, Yang Mulia." jawab Ming Yue masih menunduk.
"Baiklah siapkan aku air." Perintah Selir Mei.
Ming Yue pun akhirnya menyiapkan air untuk Selir Mei. Selesai membersihkan diri, Ming Yue merias wajah Selir Mei.
__ADS_1
"Yang Mulia, anda sangat cantik." Ucap Ming Yue. Padahal dalam perutnya ingin mual.
Selir Mei mendengarkan pujian Ming Yue pun tersenyum. "Bagus kau tau membuatku senang. " Ucap Selir Mei.
Senang dulu kita lihat saja nanti batin Ming Yue..
"Aku akan menemui yang mulia Kaisar di kediamannya." Ucap Selir Mei di ikuti Ming Yue dan beberapa pelayan.
Sampai dikediaman Naga Selir Mei langsung masuk ia melihat Kaisar Feng mabuk berat. Ming Yue penasaran ia ingin melihat tapi tidak mungkin mengingat dirinya hanya status pelayan rendah.
Karena pendengaran Ming Yue tajam ia bisa mendengarkan percakapan Selir Mei dan Kaisar Feng.
"Yang Mulia." Ucap Selir Mei menggoda.
"Huh, ada apa Selir Mei? kenapa kau kesini?" tanya Kaisar Feng yang masih terus meminum arak di tangannya.
"Berhentilah Yang Mulia,, anda sudah mabuk berat." Ucap Selir Mei. Ia mencegah lengan Kaisar Feng.
"Lancang !" teriak Kaisar Feng dengan geram, ia menghempaskan tubuhnya ke lantai.
praankkk !! suara cangkir emas terlempar jauh.
"Apa hak mu menyuruhku hah? kau hanya seorang Selir. Apa kau tau Permaisuri ku meninggalkan ku?" teraik Kaisar Feng menggelagar di ruangannya.
"Yang Mulia, maafkan hamba jika membuat Yang Mulia Permaisuri pergi, tapi hamba mohon jangan pernah berubah. Apa yang mulia sadar yang mulia telah berubah seperti orang lain yang tidak pernah hamba kenal." Ucap Selir Mei menangis tersedu. Setiap saat dan setiap waktu dia berusaha membuat hati yang sudah keras menjadi lembut kembali.
"Kau menangis, lalu bagaimana dengan Permaisuri ku?" Kaisar Feng berteriak dan tertawa. "Pergi tinggalkan aku sendiri."
Selir Mei melihat itu semua sangat sakit hati akan Suaminya yang tidak pernah memperdulikannya lagi. Kaisar Feng menyalahkan dirinya, tapi dalam dirinya tidak akan ada kata menyerah.
"Ayahanda,, Ibunda." Ucap Pangeran Jixiang melihat mereka.
"Ayah berhentilah bersikap kasar pada Ibunda." Teriak Pangeran Jixiang.
Kaisar Feng menatap tajam pada Pangeran Jixiang.
"Pergilah ! aku tidak ingin melihat kalian." ucap Kaisar Feng berteriak.
"Aagh !" Kaisar Feng menjambak rambutnya.
"Ini semua kebodohan ku. Kasim Qie, apa kau tau Hua'er ku pergi ? bilang pada Hua'er ku pulanglah, aku merindukannya. Bilang padanya, Hua'er ku boleh menyiksa ku seperti apa pun, asalkan ia tidak pergi." Lirih Kaisar Feng terduduk dilantai menangis tersedu-sedu, bahkan rambutnya sudah acak-acakan.
Kasim Qie tidak tega melihat junjungannya seperti ini. Ia memapah tubuh Kaisar Feng ke ranjangnya.
Pangeran Jixiang melihat Ayahnya menderita seperti itu tak kalah sedihnya. Pangeran Jixiang mendekati Kaisar Feng menggenggam tanganya menatap wajah Kaisar Feng. Ia meminggirkan rambut yang menutupi separuh wajah Kaisar Feng.
"Ayah, Jixiang berjanji akan mencari dan membawa Ibunda Permaisuri. Ayah harus kuat." Ucap Pangeran Jixiang memeluk Kaisar Feng.
Kaisar Feng menangis dipelukan putranya beberapa menit kemudian suara nafas teratur artinya Kaisar Feng sudah tertidur.
Pangeran Jixiang merebahkan tubuh ayahnya dengan hati hati. Ia melihat ke arah Kasim Qie.
"Jaga Ayahku." Perintah Pangeran Jixiang kemudian membawa Ibundanya pergi ke kediamannya.
Ming Yue mendengarkan nya bahkan melihat Selir Mei menangis tersenyum sinis dengan menundukkan wajahnya. Kesedihan Kaisar Feng lelucon baginya.
Ming Yue dan para pelayan mengikuti Selir Mei dan Pangeran Jixiang ke Pavilium Teratai kediaman Selir Mei.
__ADS_1