Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Season 3 : Dia mengaku kalah


__ADS_3

Putri Mahkota keluar dari penginapan itu, sejenak ia melirik dan tersenyum. Kemudian melangkah kan kakinya.


"Putri, apa yang tadi kau bicarakan?" tanya Putra Mahkota Yuan Feng menatap khawatir. Ia mengikuti Putri Mahkota dan berjalan disampingnya.


Putri Mahkota tersenyum, "Tidak ada yang perlu di jelaskan Putra Mahkota," ucap Putri Mahkota tanpa menoleh ke arah Putra Mahkota Yuan Feng.


Putra Mahkota Yuan Feng memegang bahu Putri Mahkota agar Putri Mahkota membalikkan badannya. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lainnya.


"Jangan berbohong pada ku, apa yang kalian katakan?" tanya lagi.


tik


tik


tik


Tanpa sadar hujan turun, membasahi kota itu. Orang yang berlalu lalang pun berlari mencari tempat teduh. Tapi tidak dengan Putra Mahkota dan Putri Mahkota. Mereka tidak bergeming masih saja saling menatap. Tanpa basa basi Putra Mahkota mendaratkan ciumannya di bibir Putri Mahkota.


Dibawah hujan, semua orang merasakan dingin. Namun tidak dengan Putra Mahkota dan Putri Mahkota mereka saling menghangatkan satu sama lainnya dengan ciuman itu. Hujan itulah yang menjadi saksi jika mereka tidak bisa terpisahkan sama sekali.


Putra Mahkota melepaskan ciumannya, "Jadilah bulan yang merangkula matahari,"


"Dan jadilah matahari yang merangkul bulan." jawab Putri Mahkota tersenyum. Mereka melakukan ciuman nya lagi.


Untuk kedua kalinya Putra Mahkota melepaskan ciumannya, "Terimakasih gadis kecilku," Putra Mahkota mengelus pipi Putri Mahkota dengan lembut.


Sementara di jendela penginapan lantai dua. Terlihat seorang wanita yang menyaksikan semuanya. Dadanya sakit dan nyeri. Ia memukul dadanya dengan keras.


Hujan bisa menjadi saksi kebahagian dan juga bisa menjadi saksi kesedihan.


"Argh,,,"


Wanita itu terus memukul dadanya, tanpa terasa kakinya tidak bisa berdiri. "Kenapa? kenapa harus sesakit ini ketika mencintai. Jika aku mau, aku tidak ingin mengenal cinta." teriaknya menangis tersedu-sedu.


"Aku sadar, aku tidak bisa bersaing dengannya."


....


Pada malam harinya..

__ADS_1


Di sebuah ruangan dengan penerangan cahaya lilin. Sepasang kekasih yang masih menempel seperti prangko tanpa sehelai benang pun. Mereka saling berpelukan dengan menghangatkan tubuh.


"Putri Mahkota aku penasaran apa yang di bacarakan mu dengan Huang Xue Na,"


"Apa sebegitu pentingnya? Apa Putra Mahkota merasakan khawatir padanya," tanya Putri Mahkota.


"Tidak, aku lebih mengkhawatirkan mu. Aku takut Huang Xue Na mengancam mu atau berkata yang tidak tidak."


"Benar, dia hanya mengatakan jika Putra Mahkota dan dirinya sangat saling mengenal." ucap Putri Mahkota dengan nada penuh penekanan.


"Sudah ku duga," ucap Putra Mahkota menghela nafas kasar.


"Dan Nona Huang Xue Na ingin bertaruh dengan ku,"


Putra Mahkota menaikkan salah satu alisnya disertai wajah penasaran.


"Dia ingin di bawa kesini, dia ingin menaklukan hati Putra Mahkota."


"Hah," Putra Mahkota langsung membulatkan matanya, "Ada masalah apa di otaknya? aku sudah menolaknya beberapa kali." Desah Putra Mahkota seraya memijat pelipisnya.


"Hamba hanya membiarkan saja dan menerima tantangannya," ucap Putri Mahkota dengan santai.


"Jangan mengada-ada, bagaiman pun Ibunda tidak akan mengijinkan." ucap Putra Mahkota mencubit hidung Putri Mahkota melihat raut wajah yang menggemaskan.


"Aku tidak akan mengijinkannya," ucap Putra Mahkota dengan singkat dan padat membuat Putri Mahkota kesal.


"Apa Putra Mahkota takut, jika Putra Mahkota tidak bisa menjaga hati," Putri Mahkota mengalihkan pandangannya.


"Siapa bilang, aku hanya mencintai mu. Tidak ingatkan Putri saat di tolong dengan seorang anak kecil bahkan Putri masih menyimpan hadiahnya. Dan anak kecil itu adalah aku,"


Putri Mahkota langsung menatap wajah Putra Mahkota. Sejenak dia diam membisu. Semoga pendengarannya tidak salah.


Putri Mahkota menatap dengan pandangan begitu lekat. Benar wajah itu mirip dengan anak yang pernah menolongnya.


"Benarkah?" Putri Mahkota langsung menangis, ia memeluk Putra Mahkota begitu erat.


hiks


"Kenapa Putra Mahkota tidak memberitau ku," ucapnya seraya memukul pelan dada Putra Mahkota.

__ADS_1


"Aku hanya ingin Putri mengenalinya sendiri."


tok


tok


tok


"Hormat hamba, Putra Mahkota dan Putri Mahkota. Maaf mengganggu, hamba hanya ingin menyampaikan sebuah surat."


Putra Mahkota membuka kelambunya, ia mengambil surat itu di atas nampan sang Kasim.


Sang Kasim pun memberikan hormat dan berlalu pergi.


Putra Mahkota membuka surat itu lalu membacanya.


Hormat hamba Putra Mahkota..


Maaf selama ini hamba selalu menyusahkan Putra Mahkota dan terimakasih telah menampung wanita rendahan ini.


Maaf, maaf beribu maaf..


Hamba berbuat telah berbuat kesalahan. Hamba telah lancang memiliki perasaan untuk sang Matahari yang telah di takdirkan untuk sang bulan. Hamba sadar selama ini hamba telah salah. Maka dari itu hamba meminta ampun. Yang lebih lancangnya lagi, hamba membuat taruhan dengan Putri Mahkota. Hati yang tidak akan pernah hamba miliki dan hamba sudah mengaku kalah. Jadi hamba mohon, hamba pergi dengan beribu maaf. Mungkin dengan hamba memberi jarak. Dada hamba tidak akan sakit lagi.


Dan untuk Putri Mahkota, hamba juga minta maaf.


Semoga Putra Mahkota dan Putri Mahkota berumur seribu tahun dan kebahagian selalu menyertai keluarga Putra Mahkota.


Dan maaf hamba harus mengembalikan pengawal dan pelayan Putra Mahkota.


Huang Xue Na


Putra Mahkota menghela nafas, ia menggulung surat itu.


"Ada apa Putra Mahkota?" tanya Putri Mahkota ketika melihat raut wajah kecewa dan sedih.


Putra Mahkota memberikan gulungan itu, "Bacalah."


Putri Mahkota langsung menerima gulungan itu dan membacanya. Ia mengerutkan dahinya, "Apa dia mengaku kalah?" Putri Mahkota menatap Putra Mahkota dengan wajah yang sulit di artikan.

__ADS_1


"Mungkin, tapi sudahlah itu keputusannya sendiri. Lebih baik kita melakukannya lagi," ucap Putra Mahkota dengan wajah menggoda.


Dan pada akhirnya desahan itu mulai keluar menyelimuti ruangan itu. Mereka melakukannya lagi dan lagi tanpa rasa lelah yang ada hanyalah kehangatan.


__ADS_2