Permaisuri Sang Penguasa

Permaisuri Sang Penguasa
Berubah Dingin


__ADS_3

Kaisar Feng menggunakan Qingqongnya agar lebih cepat, ia tidak lagi menggunakan kudanya karna urusannya sangat mendesaknya.


Kaisar Feng terus meloncat dari satu dahan ke dahan lainnya bahkan ia tidak berhenti.ia sangat merindukan Hua'ernya..


sehari semalam.


Ia tempuh tampa hambatan apapun di Hutan saat perjalanan pulangnya.


sampailah Kaisar Feng dan pengawalnya di gerbang istana pada malam harinya,,ia tidak memberi taukan kedatangannya karna menurutnya kali ini mendesak.


dua penjaga gerbang memberi hormat dan membukakan pintu gerbang istana...


Kaisar Feng terus berjalan ke kediamannya untuk membersihkan badannya.


Ia ingin tidur di kediaman Permaisurinya.


sampailah Kaisar Feng dikediamannya.


"Hormat hamba, Yang Mulia." Ucap Kasim Qie dikuti para pelayan.


"Siapkan aku air." Perintah Kaisar Feng datar.


Kaisar Feng telah menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas ke Pavilium Phoenix.


"Apa yang dilakukan Permaisuri setiap harinya?" tanya Kaisar Feng.


"Menjawab, Yang Mulia, Permaisuri hanya berada di Istana, tapi Permaisuri sempat keluar istana ke pasar setelah itu Permaisuri membawa Tiga orang laki laki dan Satu perempuan." Ucap Kasim Qie..


Kaisar Feng hanya mengangguk, ia tidak akan mengurusi hal yang hanya sepeleh itu. Selama tidak mengancam nyawa Permaisurinya, ia akan membiarkannya, asalkan Permaisurinya tenang.


Saat tiba Pavilium Phoenix.

__ADS_1


"Hormat hamba, Yang Mulia." Ucap sang Pelayan.


Kaisar Feng hanya mengangguk dan masuk kedalam kediaman Permaisuri Lan Hua.


Langkah kakinya mendekati ranjang Lan Hua, ia melihat Permaisurinya bertambah cantik, kulitnya pun bertambah halus dan putih.


Tangannya terasa gatal, ingin menyentuh pipi Permaisuri Lan Hua. Ia gerakkan mengelus pipi dengan lembut. Ia tersenyum, tidak ada bosannya memandang istrinya yang semakin cantik.


Permaisuri aku merindukan mu batin Kaisar Feng.


Kaisar Feng merebahkan tubuhnya di samping Lan Hua ia memeluk erat tubuhnya, seakan tidak ingin terlepas dari tubuhnya sedikit pun.


ke esokan paginya.


Lan Hua mengucek-ngucek matanya, ia merasa ada sesuatu di atas perutnya. Merabanya dan seketika membuka matanya. Ia menoleh dan langsung beringsut duduk.


"Astagah kenapa ia bisa ada disini,, kenapa tidak ada yang membaritauku?" Lan Hua bertanya-tanya. Ia kesal pada pelayan yang berjaga di luar. Seharusnya mereka membangunkannya. Sehingga ia bisa memberikan pembatas.


Hem


Seketika Lan Hua menatap wajah Kaisar Feng.


"Permaisuri kau mau kemana? temanilah aku tidur sebentar lagi." Ycap Kaisar Feng dengan nada seraknya.


Lan Hua membulatkan matanya dan memukul tangan Kaisar Feng yang masih melingkar di perutnya.


"Kenapa kau bisa tidur dikediaman ku? apa kediaman mu pindah tempat? hingga kau nyasar kesini." Cerocos Lan Hua dengan geram.


Kaisar Feng membuka matanya. Sudah lama ia tidak melihat Permaisurinya kesal. Rindu, iya rindu dengan kemarahannya dan wajahnya yang begitu menggemaskan. Membuatnya semakin tertarik.


"Permaisuri kau terlihat menggemaskan jika sedah kesal,, aku ingin sekali memakan mu."

__ADS_1


"Memakan ku memangnya kau pemakan daging manusia."


"Bukan itu,, aku ingin memakan mu disini." Kaisar Feng dengan menunjukkan jarinya ke arah sensitiv Lan Hua.


"Dasar mesum, jika kau melakukannya aku akan membenci mu." Lan Hua beranjak pergi dari kasurnya, meninggalkan Kaisar Feng yang diam seribu bahasa.


Hua'er apakah aku terlalu tidak pantas untuk mu batin Kaisar.


"Yoona." Panggil Lan Hua.


"Hamba, Yang Mulia Permaisuri."


"Siapkan aku air." Ujar Lan Hua dengan amarah yang mulai memuncak, sepertinya dirinya harus berendam agar api di hatinya padam.


"Permaisuri bisakah kita mandi bersama." Kaisar Feng muncul di sampingnya dengan tersenyum menggoda.


"Tidak." Ucap Lan Hua dengan ketusnya.


Lan Hua pergi meninggalkan Kaisar Feng ketempat pemandiannya. Sementara Kaisar Feng pergi kekediamannya sendiri.


Sampai dikediaman Naga.


"Siapkan aku air hangat." Ucap Kaisar Feng seraya mengepalkan tangannya. Ia sakit hati dengan sikap Lan Hua yang begitu dingin padanya. Padahal ia sudah berharap, hubungannya akan membaik setelah dia membawa Permaisuri Lan Hua jalan-jalan.


"Baik, Yang Mulia." Ucap Kasim Qie.


"Tunggu Kasim Qie, ajak semua penghuni istana untuk makan pagi bersama." Ucap Kaisar Feng dengan nada tajam.


"Baik, Yang Mulia." Ucap Kasim Qie. Ia melirik ke wajah Kaisar Feng, lalu bergegas pergi.


Selesai dengan aktivitas mandinya Kaisar Feng pergi ke ruang perjamuan. Teriakan seorang Kasim pun memberitaukan kedatangannya. Permaisuri Lan Hua dengan malasnya berdiri memberikan hormat, di susul Selir Mei dan Ibu Suri.

__ADS_1


__ADS_2