
Setelah perdebatan itu, Putra Mahkota Yuan Feng memilih pergi meninggalkan arena latihan. Ia menunggangi kuda, berniat mencari ketenangan. Kuda itu pun melaju tanpa arah tujuan. Tanpa terasa kuda itu melaju ke arah hutan kematian. Putra Mahkota Yuan Feng mendesah pelan.
tolong ...
tolong ...
tolong ...
Teriakan itu membuat Putra Mahkota Yuan Feng melihat sekeliling, ia menajamkan pendengarannya. Tanpa basa basi lagi, Putra Mahkota Yuan Feng meloncat dari kudanya, ia mencari asal suara itu. Melompat dari satu dahan ke dahan lainnya.
srek
Langkah kakinya terhenti ketika melihat satu orang wanita dengan lima orang berbadan kekar. Terlihat tatapan penuh gairah itu di mata lima orang bertubuh kekar. Dua orang memegang kedua tangan wanita itu, satu orang memegang kedua kakinya. Sementara keduanya lagi merobek hanfu wanita itu seraya dengan tatapan menggiurkan yang siap melahap.
Tolong ...
Putra Mahkota Yuan Feng memotong ranting pohon yang tak jauh dari arah matanya. Dengan mata fokus Putra Mahkota Yuan Feng melempar ranting itu ke salah satu orang yang bertubuh kekar hingga menebus dadanya.
aaaaaa
Teriak wanita itu dengan wajah terkejut. Melihat orang di depannya terjatuh dengan mata melotot.
Kini tinggal lah empat orang berpakain hitam dengan wajah tertegun.
"Keluar," ucap salah satu dari empat bandit itu.
__ADS_1
Putra Mahkota Yuan Feng tersenyum, ia memotong ranting lagi dan melemparkan ke salah satu di antara mereka dan
jleb
Tepat sasaran, kedua bandit mati tertusuk oleh ranting kini hanya tinggal lah tiga orang bandit. Tanpa berfikir panjang Putra Mahkota Yuan Feng turun dari pohon rindang itu.
"Sudah lama menunggu," ucap Putra Mahkota Yuan Feng membuat wanita dan ketiga bandit itu melihat ke arahnya.
"Siapa kau?" tanya salah satu dari ketiga bandit.
"Tidak perlu tau aku, yang jelas kalian telah melecehkan wanita ini." ucap Putra Mahkota Yuan Feng menatap tajam.
"Jadi kau yang membunuh mereka?" tanya bandit lainnnya.
Putra Mahkota Yuan Feng tersenyum sinis. Tanpa berfikir panjang, Ketiga bandit itu pun mengeluarkan pedang mereka dan menyerang Putra Mahkota Yuan Feng.
"Hanya segerombolan orang bodoh," ucap Putra Mahkota Yuan Feng yang kini mengeluarkan pedangnya.
Putra Mahkota Yuan Feng mengayunkan pedangnya, menanggapi semua pedang dari ketiga bandit itu. Putra Mahkota Yuan Feng memiringkan tubuhnya ketika salah satu pedang itu ingin menusuk perutnya. Dengan sigap ia memutar pedangnya dan
jleb
Pedang Putra Mahkota Yuan Feng berhasil masuk kedalam bandit di depannya itu. Segera ia menarik pedangnya kembali menatap kedua bandit itu yang masih tercengang.
"Sial ! Dia bukan lawan kita," ucap bandit itu menatap teman di sampingnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pergi, kita tidak mungkin melawannya. Aku masih sayang dengan nyawaku."
Merekapun melompat ke dahan, namun tidak dengan Putra Mahkota Yuan Feng yang hanya tersenyum, tapi di balik senyumannya itu. Putra Mahkota Yuan Feng mengacungkan pedangnya hingga pedang itu menancap di salah satu bandit itu. Ia pun menoleh ke arah pedang yang tak jauh dari kakinya. Dengan sigap ia menginjak pedang itu hingga pedang itu ada di tangan kanannya. Ia kembali memfokuskan penglihatannya dan melemparkan pedang itu, mengenai dada sang bandit yang masih fokus melompat dari satu dahan ke dahan lainnya.
Setelah para bandit itu mati, Putra Mahkota Yuan Feng menoleh ke arah wanita di belakangnya. Ia membuka salah satu hanfunya menutupi wanita itu. Kini hanfunya hanya tersisa hanfu polos.
"Te, terimakasih." ucap wanita di depannya, menatap Putra Mahkota Yuan Feng.
"Dimana tempat tinggal nona, saya akan mengantarkan nona." ucapnya datar.
"Tidak jauh dari sini Tuan," jawab wanita itu.
Putra Mahkota Yuan Feng mengangguk, ia pun melangkah kan kakinya menuju ke arah wanita itu. Lalu menggendongnya dan menggunakan qingqongnya menuju ke arah kudanya.
Sesampai di punggung sang kuda, Putra Mahkota Yuan Feng menduduki wanita itu di depan.
"Maaf tadi saya berbuat lancang," ucap Putra Mahkota Yuan Feng menatap wanita di depannya yang masih menunduk.
"Tidak apa-apa Tuan, terimakasih."
Hening, hanya keheningan dan angin yang menyapa, menemani perjalanan mereka.
"Tuan bisa belok kiri, kediaman saya tidak jauh dari kota." ucap wanita itu.
Putra Mahkota Yuan Feng hanya diam, ia membelokkan kudanya sesuai dengan arahan wanita itu.
__ADS_1
Sampailah mereka di sebuah gubuk sederhana. Putra Mahkota Yuan Feng turun. Lalu membantu wanita itu turun.