
5 tahun telah berlalu..
Kini Kekaisaran Feng aman,, adil,, makmur dan santosa..
Chen dan Jendral Fangyin kini sudah menikah dan memiliki seorang putra mereka berdua hidup nyaman di Hutan Surgawi..
Sementara kedua bersaudara Changyi dan Changyu diangkat menjadi Jendral di Kekaisaran Feng.
Ming Yue tidak di angkat menjadi Jendral karna ia sudah menikah dengan Iyan dan memiliki seorang putri dan Iyan suami Mingyu mendapat kepercayaan dari Kaisar Feng diangkat menjadi seorang Jendral.
Kini Kekaisaran Feng memiliki Empat Jendral terkuat. Sehingga tidak ada yang berani mengusik Kekaisaran Feng.
Terlihat seorang wanita memerhatikan kedua putranya dan satu putrinya. Canda dan tawa menghiasi taman Istana Kekaisaran Feng. Pangeran Jixiang menemani kedua saudaranya yaitu Pangeran Yuan Feng dan Putri Lan Sing sedang belajar menulis.
"Gege apakah tulisanku bagus daripada meimei?" ucap Pangeran Yuan feng memperlihatkan tulisannya pada Pangeran Jixiang. Anak pertama Lan Hua dan Kaisar Feng.
"Gege Jixiang coba lihat tulisan meimei lebih bagus." ucap Putri Lan Sing anak kedua Lan Hua dan Kaisar Feng. Mereka berdua berebutan siapa yang lebih bagus tulisannya.
Lan Hua melihat kedua anaknya tersenyum,
tiba-tiba ia dikagetkan oleh tangan yang memeluknya dari belakang.
"Sayang apa yang kau lakukan disini? kenapa tidak menghampiri putra kita dan putri kita?" tanya Kaisar Feng mencium aroma wangi tubuh Lan Hua.
"Yang Mulia hamba bersyukur mereka hidup rukun dan untuk Pangeran Jixiang kapan dia akan menikah?" tanya Lan Hua.
"Entah lah Hua'er, Pangeran Jixiang selalu menempel dengan mu,, kadang aku merasakan cemburu." jawab Kaisar Feng cemberut.
"Hua'er apa kau tidak ingin memiliki anak lagi?"
"Tidak Yang Mulia,, hamba rasa sudah cukup memiliki mereka!" ucap Lan Hua.
"Kita hampiri saja mereka. Lihat Pangeran Jixiang sudah pusing melihat tingkah laku kedua adiknya."ucap Kaisar Feng tertawa.
Merekapun menghampiri kedua putranya dan putrinya.
"Ehem" derheman Kaisar Feng menyadarkan mereka. Mereka bertiga menoleh ke Kaisar Feng dan Lan Hua memberi hormat.
"Salam hormat hamba Ayahanda dan Ibunda." ucap mereka serempak.
Pangeran Jiixiang berdiri menggeliat di tangan Lan Hua.
"Ibunda Ji'er pusing menghadapi mereka berdua." ucap Pangeran Jixiang manja.
Lan Hua dan Kaisar Feng memaklumi tingkah manja Pangeran Jixiang karna Pangeran Jixiang jarang mendapatkan kasih sayang Selir Mei. Semasa hidup Selir Mei hanya ada tahta dan tahta bahkan Selir Mei setiap harinya jarang mengurus Pangeran Jixiang ia serahkan pada pengasuhnya layaknya seorang anak angkat.
"Hem, Gege kenapa Gege manja sekali pada Ibunda." ucap Putri Lan Sing cemberut.
"Sayang kalian semua adalah anak Ibunda. Jadi Ibunda menyayangi kalian." ucap Lan Hua sambil mengelus kepala Pangeran Jixiang.
Kaisar Feng hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak anaknya.
"Ji'er kapan akan menikah." tanya Lan Hua.
"Ibunda Ji'er masih belum menikah, ji'er masih ingin mendapatkan kasih sayang ibunda." ucap Pangeran Jixiang dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf sayang Ibunda tidak akan memaksa Ji'er, Ibunda akan menuruti permintaan Ji'er, terserah Ji'er menikah kapan? asalkan ji'er sudah siap." ucap Lan Hua menatap Pangeran Jixiang.
"Ada satu rahasia yang Bunda harus katakan pada kalian. Lima Tahun Bunda merahasiakannya." ucap Lan Hua menatap Kaisar Feng, Putra dan Putrinya.
"Hua'er apa yang kau rahasiakan, Apa kau tidak percaya pada Suami mu?" ucap Kaisar Feng berwajah masam.
"Maafkan hamba Yang Mulia,, bukan hamba tidak percaya." ucap Lan Hua dengan nada penuh penyesalan.
__ADS_1
Kaisar Feng hanya berdehem.
"Apa kalian ingat Bibi Fangyin dan Paman Chen." ucap Lan Hua.
Mereka bertiga mengangguk.
"Apa kalian merindukan mereka?" ucap Lan Hua.
"Iya Ibunda kami merindukan Bibi Fangyin dan Paman Chen,, sudah lama mereka tidak kesini, apa mereka tidak merindukan kami? bahkan kami merindukan Diedie Xiao Xuewan." ucap Pangeran Yuan.
"Nanti malam kita akan menemui mereka." ucap Lan Hua.
"Hua'er memangnya mereka tinggal dimana?" tanya Kaisar Feng.
"Hutan Surgawi." ucap Lan Hua.
Kaisar Feng dan Pangeran Jixiang melongo tidak percaya.
"Benerkah Ibunda,, Apa benar Hutan Surgawi ada?" tanya Pangeran Jixiang menatap Lan Hua.
"Nanti malam kalian akan tau." ucap Lan Hua.
Tak terasa perbincangan mereka,,canda tawa mereka..
Sampai matahari terbenam.
Mereka menghabiskan di taman Kekaisaran Feng. Lan Hua dan Kaisar Feng kembali kekediamannya begitupun dengan Putra dan Putrinya.
Mereka pun bersiap siap akan kejutan Lan Hua.
Pangeran Jixiang dan Kedua Adiknya sudah menunggu Lan Hua dan Kaisar Feng di taman.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Lan Hua menatap mereka.
"Red,, Dragon,, Rexi. " ucap Lan Hua.
Mereka tidak heran jika Lan Hua memanggil Ketiga Hewan Legenda.
Red,, Dragon dan Rexi memilih tetap tinggal di ruang dimensi Lan Hua agar lebih cepat sewaktu di hutuhkan.
Pangeran Jixiang, Pangeran Yuan Feng dan Putri Lan Sing tidak kaget bertemu mereka.
Karna mereka hampir setiap hari jika ada waktu luang bermain di Hutan Kematian jika mereka bertiga bosan.
"Pangeran Jixiang,, Pangeran Yuan dan Putri Lan Sing kalian menaiki Dragon. Sementara Ibunda dan Ayahanda menaiki Rexi dan Red biarkan saja dia mengekori kita." ucap Lan Hua.
Akhirnya mereka menurut dan terbang bersama ke Hutan Surgawi.
sampai di Hutan Surgawi mereka berhenti di sebuah pohon yang rindang.
Lan Hua menghampiri pohon rindang itu di ikuti mereka.
pohon rindang itupun mengelurkan cahaya membukakan pintu masuk.
Sampai di Hutan Surgawi alangkah terkejutnya Kaisar Feng, Putra dan Putrinya melihat keindahan di depan mereka bahkan sebuah istana yang tidak pernah ada di semua Kekaisaran.
Kedua penjaga pintu masuk memberikan hormat pada mereka.
"Tidak usah seperti itu,, kalian seperti tidak pernah melihat ku saja." ucap Lan Hua kepada kedua penjaga.
"Terimakasih Yang Mulia. Anda tidak pernah berubah pada kami." ucap Kedua penjaga.
Lan Hua hanya mengangguk.
__ADS_1
"Mari, Yang Mulia,, Putra dan Putri ku." ucap Lan Hua.
Mereka pun menuju Istana Bunga. Setiap mereka berjalan banyak orang menunduk memberikan hormat pada Lan Hua dan Kaisar Feng,,Kedua Putranya dan Putrinya.sebagai balasannya mereka mengangguk dan tersenyum.
Sampai di Istana Bunga, Lan Hua melihat Gegenya mengadakan rapat tentang pembangunan di Hutan Surgawi melihat rakyatnya sudah berkembang pesat.
Chen yang melihat kedatangan mereka turun dari singgasananya.
Para pejabat menunduk memberi hormat pada Lan Hua walaupun Lan Hua melepaskan jabatannya bagi mereka Lan Hua penolong sekaligus Dewi yang membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik.
"Salam hormat, Yang Mulia." ucap Chen memberikan hormat.
"Tidak perlu seperti itu Gege,, Dimana Jiejie? Aku juga ingin melihat Keponakan ku." ucap Lan Hua.
"Meimei." ucap Changyin memanggil mereka sambil menggendong Putranya yang masih umur 9 bulan.
"Bagaiman kabar Jiejie dan keponakan ku yang imut ini." ucap Lan Hua mencubit pipi gembul Putra Fangyin.
"Maaf, Yang Mulia hamba tidak sopan tidak menyadari Yang Mulia." ucap Fang Yin pada Kaisar Feng.
Kaisar Feng setengah sadar disenggol oleh Lan Hua.
"Tidak apa apa Jendral Fangyin." ucap Kaisar Feng.
"Baiklah, Yang Mulia sebaiknya beristirahat terlebih dahulu dan untuk Pangeran Jixiang,, Pangeran Yuan dan Putri Lan Sing kalian juga harus beristirahat pasti kalian sangat lelah kalian tidak pernah datang kesini." ucap Fangyin tersenyum.
"Tidak Bibi kami akan jalan jalan, Kami ingin melihat Dunia Hutan Surgawi." ucap Pangeran Yuan menarik baju Gegenya dan Meimeinya..
"Baiklah Jiejie aku merindukan kamarku" ucap Lan Hua menggandeng tangan Kaisar Feng.
Sampai dikamar Lan Hua, lagi lagi Kaisar Feng tercengang melihat ornamen hiasan kamar Lan Hua.
"Hua'er apa ini Kediaman mu." tanya Kaisar Feng.
"Iya, Yang Mulia, bagaimana indah bukan? " ucap Lan Hua merebahkan tubuhnya di kasurnya.
Kaisar Feng juga ikut merebahkan tubuhnya disamping Lan Hua.
"Hua'er maaf kediaman kita tidak sebagus Kediaman mu." ucap Kaisar Feng.
"Yang mulia hamba tidak peduli hal itu yang terpenting hati yang mulia." ucap Lan Hua.
"Hua'er,, terimakasih. " ucap Kaisar Feng mencium bibir Lan Hua.
"Hua'er aku mau." ucap Kaisar Feng menahan gairahnya.
Lan Hua melihat tatapan Kaisar Feng akhirnya mencium bibir Kaisar Feng dengan lembut, Kaisar Feng membalas ciuman Lan Hua..
Tangan Kaisar Feng tidak terkondisikan lagi ia membuka seluruh hanfu Lan Hua, Kaisar Feng terus menelusuri tubuh Lan Hua hingga ia mendesah..
"Yang Mulia setiap hari anda selalu meminta jatah. Apa anda tidak merasa lelah?" tanya Lan Hua.
"Tidak Hua'er justru aku selalu bernafsu ketika melihat mu." ucap Kaisar Feng melanjutkan aksinya mencium bibir Lan Hua dengan lembut.
Kaisar feng terus menelusuri tubuh Lan Hua.
Kaisar Feng melihat tubuh Lan Hua mendesah
nikmat, Ia membuka seluruh bajunya hingga Kaisar Feng perlahan menghujam dengan pelan karna mendengar lenguhan Lan Hua. Ia tidak tahan menghujam dengan cepat sampai dengan puncaknya.
Akhirnya Lan Hua tidur kelelahan tanpa melepaskan ikatan mereka namun tidak dengan Kaisar Feng yang masih menatap Istri tercintanya..
*H**ua'er semoga kita tetap bersama hingga maut memisahkan kita ucap Kaisar Feng mencium kening Lan Hua yang sudah tertidur ...π*
__ADS_1