
Siang harinya.
Permaisuri Qi Luxia duduk di sisi ranjang, bibirnya terus mengukir senyum melihat Kaisar Yuan yang masih tertidur pulas. Sesekali Kaisar Yuan tersenyum dengan mata yang terpenjam.
Dengan lembut Permaisuri Qi Luxia mengusap lembut kepala Kaisar Yuan. Lamunannya tersadar ketika seorang pelayan menghampirinya.
"Hormat hamba, Permaisuri. Makan siang telah siap." Ucap pelayan An..
"Terima kasih," sahut lembut Permaisuri Qi Luxia. Ucapan itu telah biasa dia keluar dari mulutnya membuat para pelayan menaruh hormat padanya. Banyak para pelayan yang merasa dirinya bukan seorang pelayan karna sifat kelembutan Permaisuri Qi Luxia.
"Yang Mulia," Permaisuri Qi Luxia mengusap lembut pipi Kaisar Yuan. Ia bermaksud membangunkan Kaisar Yuan. Dirinya khawatir akan kesehatan Kaisar Yuan yang tidak makan mulai tadi pagi. Ia takut Kaisar Yuan jatuh sakit.
"Emz, Permaisuri aku masih ngantuk." Ucap Kaisar Yuan dengan nada malas. Permaisuri Qi Luxia hanya terkekeh. Bagi dirinya sudah biasa jika Kaisar Yuan akan bersikap manja. Pasti dengan satu alasan jika ia ingin bangun.
Cup
Permaisuri Qi Luxia mendaratkan ciumannya di bibir Kaisar Yuan. Seketika Kaisar Yuan membuka matanya. Tentu saja Kaisar Yuan mengambil kesempatan itu, memperdalam ciumannya.
Selama 15 menit mereka ciuman dan pada akhirnya saling melepaskan.
__ADS_1
"Apa Permaisuri ingin menggoda ku?" tanya Kaisar Yuan dengan smiriknya.
"Tentu saja hamba membangunkan Yang Mulia agar Yang Mulia bangun."
Kaisar Yuan memeluk leher Permaisuri Qi Luxia, kedua tangannya ia letakkan di bahu Permaisuri Qi Luxia dan menempelkan dahinya di dahi Permaisuri.
"Aku merindukan mu, Permaisuri." Ucapnya dengan tatapan mengunci.
Permaisuri Qi Luxia menghembuskan nafas kasarnya. Sudah pasti Kaisar Yuan akan meminta yang aneh-aneh. Sudah biasa bagi dirinya menghadapi pria kekar itu yang tidak ada habisnya meminta lagi dan lagi.
Dengan jahilnya Permaisuri Qi Luxia menggelitiki Kaisar Yuan hingga Kaisar Yuan tertawa lebar. "Ampun Permaisuri." Ucapnya di sela-sela tawanya.
"Ampun Permaisuri, baik, baik aku akan bangun. Tapi tolong hentikan."
Seketika Permaisuri Qi Luxia berhenti. "Baiklah Yang Mulia harus bangun. Hamba sudah menyiapkan makan siang untuk Yang Mulia. Sedari tadi Yang Mulia hanya tidur dengan perut kosong. Tapi sebelum itu hamba akan membersihkan wajah Yang Mulia terlebih dulu."
Kaisar Yuan hanya mengangguk dan memperhatikan Permaisuri Qi Luxia mengambil sebuah nampan. Dia tasnya terdapat baskom berisi air. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Permaisuri Qi Luxia mengusap lembut wajah Kaisar Yuan. Putih dan halus tanpa cacat sedikit pun, itulah wajah Kaisar Yuan yang membuat Permaisuri Qi Luxia tidak pernah berhenti mengagumi ketampanan Kaisar Yuan.
Mata Permaisuri Qi Luxia tidak pernah berhenti memandangi makhluk terindah di hadapannya itu. Tanpa sadar ia terus memperhatikan wajah Kaisar Yuan begitu lekat.
__ADS_1
"Apa aku tampan Permaisuri?" goda Kaisar Yuan.
"Benar, Yang Mulia sangat tampan. Hingga aku takut orang lain akan merebut Yang Mulia." Lirih Permaisuri Qi Luxia pelan. Ia membalikkan badannya membawa nampan tadi ke tempat semula dan beralih membawa nampan yang berisi hidangan.
"Yang Mulia makanlah." Permaisuri Qi Luxia menyodorkan sebuah sumpit.
"Tidak, aku ingin di suapi oleh Permaisuri." Rengeknya dengan nada merayu.
"Hah, sudah biasa."
Permaisuri Qi Luxia hanya menggelengkan kepalanya, pertanda pasrah. Sudah biasa bagi dirinya Kaisar Yuan selalu meminta di suapi. Ia beralih mengambil sendok di nampan itu lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa sayuran.
Seketika Kaisar Yuan membuka mulutnya dan makanan di atas sendok itu masuk kedalam mulutnya. "Permaisuri."
Kaisar Yuan masih mengunyah, ia masih fokus ke wajah Permaisurinya.
"Ya," Permaisuri Qi Luxia melihat ke arah Kaisar Yuan. Sedari tadi ia hanya fokus mengambil nasi ke sendoknya itu.
"Terima kasih, terima kasih telah bertahan. Walaupun aku telah menyakiti mu."
__ADS_1
"Dan hamba berterima kasih karna Yang Mulia menyayangi hamba apa adanya dan menyayangi hamba dengan tulus."