Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Amatir


__ADS_3

"Aku merasa, Richard telah berselingkuh dibelakangku," kata Gloria dengan nada lirih.


Ingin rasanya aku berterus terang pada Gloria tentang hal yang ku ketahui mengenai suaminya, namun aku tidak mau masuk terlalu dalam di kehidupan rumah tangganya, biarlah dia akan tahu dengan sendirinya. Aku hanya perlu mengambil keuntungan dari Gloria--sesuai langkah awal permainanku. Permainan yang kali ini tidak berjalan mudah, karena Gloria belum mau dan aku yang tak mau memaksanya.


"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" tanyaku sambil melihat seorang pelayan yang mulai berjalan ke arah meja kami untuk membawakan hidangan. Aku tidak berani menatap Gloria, takut dia bisa membaca sesuatu yang ku sembunyikan.


"Terkadang naluri seorang istri bisa merasakannya," jawabnya tersenyum kecut.


"Jika benar Richard telah berselingkuh, apa yang mau kau lakukan?"


Gloria mengendikkan bahu. Kemudian atensi kami teralihkan pada pelayan yang menyajikan makanan di meja.


"Silahkan Tuan, Nyonya ...." ucap pelayan itu sopan.


Aku mengangguk samar, setelah pelayan itu benar-benar pergi meninggalkan meja kami, barulah aku melanjutkan pertanyaanku.


"Apa kau tidak mau membalas suamimu yang sedang berselingkuh?" tanyaku pada Gloria.


"Maksudmu?" Gloria mengernyit heran.


"Aku bersedia membantumu membalasnya, jadikan aku simpananmu!" kataku dengan yakin.


Gloria tersentak, aku memaklumi bias kekagetan yang muncul diwajahnya, aku mengelus sekilas punggung tangannya lalu menepuk-nepuknya pelan. Gloria segera menarik tangannya dari atas meja.


Apa dia tidak tergoda sama sekali dengan diriku ini? Ku pikir aku cukup mempesona sebagai seorang pria. Aku percaya diri bahwa pesonaku masih jauh diatas Richard. Apalagi dalam hubungan r a n j a n g, aku yakin akan kemampuanku yang pasti bisa membuat Gloria mengerangg hebat. Sial, kenapa aku jadi memikirkan hal yang menjurus kesana lagi?


Lalu, bagaimana dengan hubungan ranjangg mereka, ya? Aku jadi ingin menanyakannya, tapi rasanya itu tidak etis.


"Kau tidak bersedia, ya?" tanyaku lagi karena menerima responnya yang demikian.


"Aku lapar." Gloria menyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi. Namun aku tahu, dia hanya ingin menghindari topik pembicaraan kami.


Aku menghela nafas. "Makanlah," ucapku singkat.


Kami mulai makan malam dengan senyap, aku memang terbiasa makan dalam keadaan diam seperti ini tapi entah kenapa aku tidak suka melihat Gloria diam, aku ingin dia bicara tentang penawaranku meski aku sadar bahwa penawaranku tadi cukup terdengar gila.


"Glo, maaf jika aku lancang. Hanya saja, aku penasaran dengan hubunganmu dengan Richard."


Gloria menatapku, dia tersenyum kecil. "Wajar jika kau penasaran, hubungan kami terlihat baik dimata orang lain, tapi dari kebersamaan kita kau pasti tahu bahwa rumah tanggaku sangat berantakan."

__ADS_1


"Aku sudah tahu sejak awal, bukan karena kebersamaan kita."


"Tahu darimana?"


"Kau mabuk dan mengatakan bahwa Richard seperti tidak tertarik padamu. Kau juga mengatakan kalau Richard sering tidak pulang, aku menyimpulkannya sendiri, so sorry ...."


Gloria mengangguk, wajahnya nampak sendu.


"Kalau memang hubungan kalian baik, aku tidak mungkin menjumpaimu sedang mabuk seorang diri di club malam. Richard juga tidak mungkin mengantarkanmu kepadaku seperti ini."


"Ya, kau benar. Semua yang kau katakan memang benar."


Aku menangkap nada sedih dari nada suara Gloria. Nuraniku yang sudah lama mati suri, seakan hidup kembali saat melihat kesakitan yang ada diwajah Gloria. Aku tahu, dia mencoba menjadi wanita tegar namun sesungguhnya dia tidak sekuat itu. Entahlah, instingku mengatakan bahwa Gloria sangat rapuh dan aku sangat ingin melindunginya.


Makan malam kami berakhir dengan suram karena Gloria tetap diam sejak aku mengutarakan tentang kesimpulanku mengenai rumah tangganya bersama Richard. Entahlah apa yang sekarang dia pikirkan dibenaknya.


Sampai di mobil, aku tidak sanggup lagi untuk terus berada dalam mode silent seperti ini. Maka aku memutuskan untuk mengajaknya bicara.


"Glo..."


"Owen..."


"Kenapa? Bicaralah," ucapku pelan.


"Kau saja dulu," kata Gloria menggeleng.


Jujur saja, aku jadi lupa hendak bicara apa dengannya. Aku harus mencari alasan agar ada pokok pembicaraan diantara kami.


"Itu, aku cuma mau bilang seatbelt-mu belum terpasang." Aku beralasan.


"Oh..." Gloria segera meraih seatbelt dan hendak memasangnya, namun tanganku yang panjang lebih dulu meraih benda itu untuk membantunya.


Keadaan ini membuat jarak kami menjadi sangat dekat dan aku bisa mencium aroma parfum Gloria yang seakan mencekat kerongkonganku. Aku hanya bisa menelan saliva dengan berat dan kembali pada tujuan utamaku untuk memasang sabuk pengaman.


Namun, saat aku ingin menyatukan kaitan seatbelt itu, ucapan yang tercetus dari bibir Gloria benar-benar membuatku kaget.


"Aku setuju menjadikanmu simpananku, Owen. Apa kau masih bersedia?"


Aku mengadah pada wajah wanita itu yang tampak bersemu merah setelah selesai dengan kalimatnya tadi.

__ADS_1


Mendengar ucapannya adrenalisku terasa berpacu dan jantungku kembali bermanufer dengan cepat, membuatku mengikis jarak dan mendekat ke arah dimana mataku tertuju--bibirnya--yang tampak ranum karena polesan lipstik merah menyala. Mengecupnya dan berlama-lama disana. Aku merasakan Gloria tersentak dengan ciuman dadakan yang ku berikan, namun dia tidak menolaknya.


Merasa tak mendapat penolakan, aku semakin memaguttnya dengan sepenuh hati, mereguk manisnya yang lebih manis dari yang ku perkirakan. Rasanya diluar batas ekpektasiku.


Aku menghentikan ciumanku karena merasakan deru nafas Gloria yang berkejaran, apa dia sulit bernafas karena perlakuanku? Apa aku terlalu brutal menciumnya? Dia sangat amatir, seperti tidak pernah menerima perlakuan ini sebelumnya.


Aku menatap Gloria yang wajahnya sudah merah padam, aku ingin mengulang lagi momen mereguk rasa manis yang sama, namun Gloria menahan bibirku dengan ujung jarinya.


"Why?" protesku. Aku takut dia akan berubah pikiran sekarang.


"Kau belum menjawab, kau masih bersedia atau tidak?" tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik.


Aku tersenyum kecil. Bukankah ciumanku sudah sebagai jawaban untuknya? Rupanya dia ingin mendengar pernyataan langsung dariku, begitu?


"Tentu saja aku mau, aku yang menyarankan padamu, bukan?"


Gloria mengangguk kecil dengan senyuman manisnya.


"Lipstikku jadi berantakan, Owen!" gerutunya kecil dan aku hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Gloria menarik secarik tisue dari box yang ada dimobil, kemudian dia menatapku.


"Ehm, bibirmu juga penuh noda lipstikku."


Ku biarkan dia membersihkan bibirku dengan lembut menggunakan tisue, perlakuannya ini membuatku bisa menatapnya lagi dari jarak yang begitu dekat.


"Can i kiss you, again?"


Gloria menghentikan aktivitas mengelap bibirku, dia terdiam sembari membuang pandangannya ke arah samping, namun aku meraih kedua sisi wajahnya agar kembali menatapku.


"Boleh?" tanyaku lagi.


Gloria menggigit bibirnya membuatku tertawa pelan.


"Kita pulang saja," ucapku memutuskan dengan cepat.


Aku menstater mobil dan fokus untuk pulang karena aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri jika melihat Gloria sudah bersedia seperti ini. Kami memang harus pulang, karena jika pengendalian diriku kalah, setidaknya kami sudah berada di Apartemen dan bukan didalam mobil seperti ini.


*****

__ADS_1


__ADS_2