
Owen tiba di pusat perbelanjaan dimana istrinya masih terjebak didalam lift yang ada di gedung itu.
"Bagaimana? Apa istriku terjebak seorang diri didalam sana?" tanya Owen panik pada salah satu staff pengelola tempat itu.
"Sepertinya istri anda tidak sendirian, Tuan."
"Tolong cepat selesaikan kerusakan ini!" ucapnya dengan rahang mengeras dan gigi bergemelatuk. Ia menahan kemarahan, karena ia sadar insiden ini tidak siapapun menginginkannya. Mendengar Gloria tidak sendirian, cukup membuat Owen bisa bernafas lega. Meski demikian, ia tetap meyakini jika istrinya sangat ketakutan didalam sana.
"Kenapa istriku bisa di dalam dan kalian diluar? Kenapa tidak mendampinginya?" Owen beralih pada dua orang bodyguard yang bertugas menjaga Gloria.
"Maafkan kami, Tuan. Kami terlambat memasuki lift sebab Nyonya memasukinya dengan tergesa-gesa. Kami tidak menyangka Nyonya akan memasuki lift yang pintunya hampir tertutup."
"Ada berapa orang yang terjebak didalam lift?" Jared menimpali.
"Se-sepertinya Nyonya hanya berdua saja sebab dua orang lainnya yang juga sempat menaiki Lift yang sama, sudah turun di lantai 3!" jawab salah satu bodyguard itu.
Owen mendengkus keras. Dikepalanya sudah dipenuhi rasa yang semraut. Bagaimana jika istrinya ketakutan dan histeris? Bagaimana jika Gloria pingsan atau bahkan kehabisan nafas? Mengingat itu, ia tak sanggup membayangkannya.
"Berapa lama lagi waktu untuk memperbaikinya? Mereka sudah terjebak hampir setengah jam, berengsek!" maki Owen kesal. Entah pada siapa umpatan itu ditujunya, yang jelas hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melepas rasa jengkel serta rasa kalutnya. Bersamaan dengan itu, Ia pun meninju pintu besi dihadapannya.
Owen tahu, yang ada dihadapannya hanyalah pintu besi kosong. Sementara kapsul lift yang berisi Gloria didalamnya, telah mendarat tepat di lantai paling dasar atau basement gedung yang tak bisa dimasuki-- sebab pintu keluar tetap dilantai atasnya. Tali katrol lift putus, sehingga kapsul lift terjebak di lantai bawa tanah, harus segera diangkat atau ditarik naik, agar mereka bisa segera keluar.
Owen mencengkram kepalanya sendiri, Frustrasi. Apalagi ia mendadak teringat jika istrinya memiliki phobia dalam ruang sempit dan gelap, itu yang ia ketahui sejak mereka masih tinggal bersama. Gloria memang sering menceritakan tentang kebiasaannya.
"Astaga! Apa kalian tidak bisa cepat? Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku akan membunuh kalian semua!" kata Owen menunjuk semua yang ada disana dengan penuh ancaman.
"Sabarlah, Tuan...." Jared berusaha menenangkan sang atasan, namun Owen hanya berdengkus berulang kali, sebab Jared tak akan memahami kondisinya saat ini.
Disaat Owen merasa sangat kesal dan penuh amarah, tiba-tiba ia mendengar lift yang akhirnya berdenting, lalu pintu besi itu terbuka saat beberapa pekerja yang ikut memperbaiki Lift mulai menekan tombol disana dengan tidak henti-hentinya. Akhirnya lift itu berhasil ditarik naik dari ruang bawah tanah ke lantai dasar gedung.
Mata Owen langsung tertuju kedalam lift, dimana ada istrinya yang meringkuk memeluk lututnya sendiri. Owen tak tahu lagi keadaan sekitar, ia hanya terfokus pada satu wanita bernama Gloria, istrinya.
"Honey, kau tidak apa-apa?" Suaranya bahkan bergetar memilukan, amat lembut namun penuh ketakutan. Ia meringsek masuk ke dalam lift dan mencoba melihat keadaan Gloria.
"Sayang, badanmu dingin..." Owen kembali panik, diangkatnya kepala Gloria yang tertunduk, lalu menemukan istrinya telah diam dengan bibir membiru. Meski Gloria masih membuka matanya dan sesekali berkedip namun tak sekalipun Gloria menjawab sapaan Owen.
Seseorang pun menyela diantara sikap intens keduanya. "Dia menggigil sejak tadi, dia juga sempat pingsan karea sesak nafas."
__ADS_1
Owen langsung menatap pada si pembicara. Sedetik saling menatap, keduanya sama-sama terkejut satu sama lain.
"Sean?"
"Owen?"
"Apa .... dia istrimu?"
Owen mengangguk sembari meraih tubuh Gloria kedalam gendongannya. Dengan sigap ia membawa Gloria dari kerumunan orang-orang disana. Persetan dengan mereka semua, terlalu lamban, membuat istrinya dalam keadaan seperti ini.
Semua orang dalam pusat perbelanjaan itu seolah mengetahui kekalutan Owen, mereka memberi akses jalan agar pria itu segera membawa istrinya keluar dari area pusat perbelanjaan.
"Jared, telepon James! Kita akan membawa Gloria ke Rumah Sakit, sekarang!" titahnya sambil berjalan lurus dengan Gloria yang terkulai dalam gendongannya.
"Sabarlah, Honey.... aku akan membawamu dengan cepat!" kata Owen pada Gloria yang lemah.
Owen memasukkan Gloria ke jok belakang mobil, menggeser posisi sopir yang duduk dibalik kemudi.
"Minggir, aku yang menyetir, kau pergilah! Pulang atau kemanapun!" ucapnya dingin.
"Dia pasti membawa Gloria ke Rumah Sakit James," batin Sean.
Sean pun segera mencari keberadaan mobilnya.
______
Tidak sampai 15 menit, mobil dengan kecepatan tinggi yang dikemudikan oleh Owen berhasil tiba di Rumah Sakit milik James.
Menggunakan Brankar, istrinya didorong masuk kedalam ruang tindak penanganan.
Owen bergerak gelisah. Kepalanya terasa mau pecah. Ditambah lagi, ia memikirkan Sean yang tadi sempat berada dalam satu lift dengan Gloria.
"Untuk apa dia di kota ini?" batin Owen sedikit cemas.
Ruang penanganan terbuka, Owen segera menanyakan kondisi istrinya pada James yang turun langsung mengecek keadaan Gloria.
"Gloria syok, dia demam mendadak karena suhu tubuhnya meningkat naik. Sebenarnya, ada apa Owen?"
__ADS_1
"Dia terjebak dalam lift yang rusak. Gloria phobia ruang sempit dan gelap," jawab Owen lesu.
"Pantas saja, dia pasti sangat takut. Phobia bisa menyebabkan seseorang ketakutan hingga histeris bahkan pingsan. Di ruang gelap, dia juga mungkin kehabisan nafas, begitulah pada kebanyakan orang yang mengalami phobia serupa," terang James.
"Lalu, bagaimana selanjutnya?"
"Biarkan dia istirahat disini dulu, sehari atau dua hari. Paling tidak, sampai demamnya turun," saran James.
Owen memejamkan mata sejenak. ”Bagaimana kalau dirawat jalan dirumah?"
"Memangnya kenapa?" James tampak heran dengan keputusan Owen. "Rumah Sakit ini memiliki ruangan VVIP yang nyaman serta peralatan dan obat yang lengkap," lanjutnya.
"Aku hanya menghawatirkan Gloria, bukan hanya dari keadaan fisik dan psikisnya, tapi dia terjebak di lift bersama Sean.... dan Sean sudah tahu jika Gloria adalah istriku, aku tidak bisa mengelak untuk melindunginya, sebab keadaan yang sudah terlanjur Sean lihat sendiri, mau tak mau aku harus jujur dan mengakui Gloria didepannya. Aku tidak tahu dia berbahaya atau tidak, aku hanya berjaga-jaga saja," papar Owen terus terang.
"Sean?" James melongo.
Owen mengangguk. "Bukankah lebih aman jika Gloria di Mansionku?" tanyanya memastikan.
"Biarkan Gloria disini, beri pengamanan lebih. Aku pikir Sean pasti akan mengunjungi Mansion mu juga nantinya. Kita tidak tahu apa tujuannya, mungkin dia murni sedang ada urusan di kota ini atau memang mau mengunjungimu juga," kelakar James.
"Entahlah, aku hanya ingin melindungi Gloria dan Jeff secara bersamaan. Jadi, ku pikir lebih baik jika anak dan istriku berada ditempat yang sama.... agar aku mudah untuk mengawasi."
James mengangguk singkat. "Ku pikir Sean tidak akan mengganggumu, sebab ayahnya sudah mendapatkan semua yang kau serahkan, bukan?"
"Ku harap juga begitu," jawab Owen ragu.
Pembicaraan itu terhenti kala Gloria akan segera dipindahkan ke ruang rawat untuk pemulihan.
"Honey...." Owen mengecupi seluruh buku-buku jari tangan Gloria, ia tampak begitu cemas.
"Owen, aku takut...." Suara Gloria nyaris berbisik sebab itu sangat pelan.
"Jangan takut, semua sudah berakhir. Kau sudah keluar dari lift itu. Ada aku disini...." kata Owen menenangkan Gloria.
*******
...Vote, like, hadiah dong🥰🥰🥰...
__ADS_1