Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Sikap dingin


__ADS_3

"Gloria kabur dari Mansion ku, sekitar satu tahun yang lalu."


"Semua berawal dari kesalahanku, padahal kami sudah mulai membaik waktu itu tapi aku kembali memaksanya, dia berhasil melarikan diri."


Owen mengepalkan tangannya kuat, menahan kemarahan. "Lalu, apa dia langsung pulang ke Indonesia?" tanyanya pada Richard.


"Sepertinya tidak, dia mengurus semua proses perceraian kami sampai selesai, aku tidak tahu dimana dia menyembunyikan dokumen pernikahan kami, aku tidak bisa mencegahnya untuk menggugatku." Richard mengusap kasar wajahnya sendiri.


"Apa kau tidak mencarinya?" tanya Owen.


"Tentu saja aku mencarinya, tapi aku tidak menemukannya. Kami hanya bertemu di sidang perceraian dan semuanya sudah usai dua bulan yang lalu. Ku pikir dia kembali padamu, karena seusai sidang dia mengatakan bahwa dia sempat bertemu denganmu."


"Kami tidak pernah bertemu sejak dia memutuskan hubungan kami di Mansionmu waktu itu!"


"Benarkah?"


Owen mengangguk.


"Berarti kita sama-sama salah menduga. Kau menduga dia masih bersamaku, sementara aku menduga dia kembali bersamamu." Richard terkekeh diujung kalimatnya.


"Sekarang, kira-kira dimana dia tinggal?"


"Entahlah, mungkin kembali ke Indonesia atau mungkin masih berada di kota ini."


"Baiklah, terima kasih atas infonya."


"Huum, apa kau akan mencarinya?" tanya Richard sebelum benar-benar beranjak.


"Entahlah, aku juga akan menikah..." lirih Owen.


Richard tersenyum masam. "Setidaknya, carilah dia... ku pikir dia telah melahirkan anak kalian."


Owen menatap Richard tak percaya. Apa dia salah mendengar tadi?


"Apa katamu? A-anak?"

__ADS_1


"Kau juga belum tahu jika Gloria hamil? Ya Tuhan ...." Richard mengusap wajahnya lagi untuk yang kesekian kalinya. Dia mengira sejak Gloria pergi, setidaknya Gloria sudah mengatakan hal ini pada Owen.


Owen mendadak lemas. Ia pernah menginginkan Gloria mengandung anaknya. Tapi, mengetahui kenyataan ini kenapa hatinya terasa mencelos? Apalagi Gloria sudah tak berada disisinya.


"Dia sudah kabur setahun yang lalu. Kau pikir karena apa aku dan dia baru benar-benar bisa bercerai di dua bulan terakhir? Itu karena menunggunya bersalin barulah perceraian kami resmi!"


Glek...


Owen menelan saliva dengan susah payah. Entah kenapa sekarang ia merasa sesak, jantungnya tidak kuat mendengar hal ini.


Lalu, kehidupan seperti apa yang dijalani Gloria saat mengandung tanpa didampingi siapapun?


"Aku... aku pasti akan mencarinya," jawab Owen dengan suara bergetar.


______


"Jared, apa kau sudah mengetahui keberadaan Gloria?"


Beberapa hari setelah mengetahui info dari Richard, dengan gencarnya Owen terus mencari keberadaan Gloria saat ini.


"Belum, Tuan."


"Ya, tapi kami belum menemukannya, Tuan."


"Temukan dia secepatnya!" Owen kembali tempramental. Ia memukul meja dan membuang semua benda yang ada diatasnya.


"Owen, ada apa ini?" Celine masuk kedalam ruangan Owen dengan wajah pias sebab melihat pria itu mengamuk.


"Keluarlah, Celine! Untuk saat ini jangan dulu menemuiku!"


"Tapi, kita harus membahas mengenai pernikahan kita!" ucap Celine mengiba.


Owen menghela nafas berat. "Temui aku besok, jangan sekarang!" ucapnya dingin.


Celine pun memilih pergi dari hadapan Owen saat itu juga. Ia tak menyangka kedatangannya yang baru beberapa menit sudah diusir oleh Owen, ia merasa Owen memang tak pernah menganggapnya spesial.

__ADS_1


_______


Celine pergi berbelanja, demi menghilangkan segala kegundahan hatinya tentang sikap Owen yang semakin berubah kepadanya.


Padahal, dia sudah melakukan banyak cara untuk merebut perhatian pria itu. Namun, ia sadar bahwa ia tak pernah mendapatkan ruang didalam hati Owen.


Owen memberinya fasilitas setelah ia mengakui bahwa telah terjadi kesalahan diantara mereka setahun yang lalu. Tapi, bukan hanya materi yang Celine butuhkan, melainkan cinta dari pria itu.


Agaknya meluluhkan hati Owen memang sulit, meski ia telah menempuh cara curang sekalipun.


Setelah puas belanja, Celine memutuskan untuk mendatangi Oxela, ia ingin berkeluh kesah tentang dinginnya sikap Owen padanya, padahal mereka akan menikah sebentar lagi.


"Jadi, apa kau tetap menginginkan pernikahan itu?" tanya Oxela memastikan.


"Tentu saja, Xela."


"Apa kau tidak takut jika setelah menikah kakakku tidak berubah?"


"Ku harap setelah menikah dia akan mencintaiku," lirih Celine.


"Jika tidak, bagaimana?" tanya Oxela lagi.


Celine terdiam, ia kembali memikirkan semua yang telah ia lakukan untuk mendapatkan perhatian Owen selama ini.


"Maaf Celine, aku memang mendukung pernikahan kalian. Tapi aku jauh lebih senang jika kalian sama-sama bahagia, kalau pernikahan ini membuat kalian menderita lebih baik tidak usah dilanjutkan," saran Oxela sembari mengelus perutnya yang sudah membuncit.


"Apa sikap Owen ini karena dia belum melupakan Gloria?" gumam Celine namun Oxela cukup bisa mendengar itu. Celine tak pernah mengenal sosok Gloria, namun ia sering mendengar nama wanita itu disebut.


"Sebagai sesama wanita, aku cukup paham perasaanmu. Memang akan sangat menyakitkan jika kita menikah dengan pria yang hatinya masih mencintai wanita lain."


"Jika begitu, kenapa Owen mengajakku menikah?" Celine tiba-tiba menangis sambil melihat pada cincin di jari manisnya.


"Celine, maaf jika perkataanku ini akan menyinggungmu. Tapi ku rasa, kakakku mengajakmu menikah hanya karena kasihan padamu. Kau mengatakan trauma dengan kejadian setahun lalu itu, kan?" sindir Oxela.


Sebenarnya, Oxela sendiri cukup kesal kala mendengar penuturan Celine mengenai hal itu, seolah-olah Owen telah melakukan kesalahan besar seperti mencoba memperk osa Celine hingga meninggalkan trauma, padahal menurut Oxela, Celine pun pasti menikmati semuanya-- terlebih wanita itu sudah sejak lama mencintai kakaknya.

__ADS_1


Celine meremass tangannya sendiri dengan perasaan kalut, entah kenapa ucapan Oxela seperti menancap tepat di jantungnya. Apalagi Oxela kembali membahas mengenai kesalahan satu malam yang dilakukan Owen pada malam itu, itu membuatnya kembali gusar.


******


__ADS_2