Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Gloria


__ADS_3

Gloria POV.


Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat untuk pertama kalinya Richard datang ke Apartemen Owen yang saat ini ku tinggali.


Sebenarnya aku tidak mau bertemu dengan pria yang masih berstatus suamiku itu. Kalaupun aku ingin bertemu dengannya mungkin saat persidangan perceraian kami nantinya, bukan sekarang.


Rupanya Richard datang bersama Max, sepupunya yang seorang polisi.


Hal ini membuatku tidak bisa berkutik sebab ajudan yang ditugaskan untuk menjagaku pun tidak bisa berbuat apa-apa saat Richard justru menuduh mereka tengah menculikku didepan Max.


Mau tak mau, akhirnya aku menjumpai pria itu. Pria yang dulu ku kenal lewat sebuah aplikasi jejaring sosial hingga berlanjut ke sebuah pernikahan. Sayangnya, pernikahan kami hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi kelakuan Richard yang menyimpang.


Entah, entah sejak kapan dia hidup dalam penyimpangan itu, yang aku tahu hanyalah nasibku sendiri yang ternyata hanyalah dijadikan tameng untuk menutupi aib seorang Richard Jensen.


"Mau apa kau kesini? Aku sudah bilang tidak ingin menemuimu!" Aku menatap pada Richard yang menatap sendu ke arahku.


"Aku akan terus membujukmu! Selagi Owen tidak ada, mungkin aku akan mendapat keberuntungan," jawab pria itu melirih.


Aku menggeleng keras, menatap Max yang juga melihat perdebatan antara aku dan Richard.


"Tolong, ini adalah hak ku, aku tidak mau menemuimu. Aku tidak mau bicara denganmu. Silahkan pergi!"


"Tapi, Gloria...."


"Temui aku disidang perceraian kita!"


Aku pun langsung masuk ke kamarku, meninggalkan Richard dan Max yang mungkin terkejut melihat reaksi penolakanku.


___


Selang dua hari dari kejadian itu, ternyata Richard kembali menemuiku. Kali ini dia datang sendiri, namun aku yakin dia membawa Max ikut serta agar melancarkan akses masuknya kedalam Apartmen ini.

__ADS_1


"Gloria, tolong beri aku kesempatan. Apa aku tidak layak dimaafkan?"


Pria itu mendekat ke arahku yang hanya mematung tanpa ingin mendekatinya di sofa ruang tamu.


Ia membawaku untuk duduk di sofa, aku menurutinya meski sebenarnya aku jengah dengan sikap manisnya.


Kemana saja dia selama ini?


Bukankah dia telah menyia-nyiakan aku selama masa pernikahan kami?


Bukankah dia juga lebih memilih untuk mengikuti kesenangannya dengan has ratnya yang menyimpang?


Apa karena semua sudah ku ketahui sehingga sekarang dia bersikap manis lagi untuk meluluhkanku? Atau ini semua agar aku tutup mulut? Oh yang benar saja, aku juga tidak mau mengurusi hal ini dengan membuka aibnya ke orang banyak. Biar saja nanti dia yang mengakui sendiri tentang ketidaknormalannya itu dihadapan kedua orangtua dan publik.


"Aku tahu, selama ini aku telah banyak bersalah padamu." Richard menatapku lekat. "Izinkan aku memperbaiki semuanya, pernikahan kita layak diselamatkan."


Aku tertawa mendengar ucapan Richard. "Kau membuatku muak, pernikahan kita sudah selesai saat kau dengan sengaja mengantarku pada Owen!" tegasku.


"Kau tahu, hubunganmu bersama Owen bisa mendatangkan masalah baru."


Aku menatap Richard dengan gelengan tak percaya. "Apa maksudmu mengatakan itu? Kau yang menyerahkan ku padanya!" cecarku.


"Aku akan mengembalikan semua keuntungan itu asal kau kembali ke sisiku, Gloria!"


Aku mendesis tak percaya. Dulu dia membuatku seperti barang, dia berikan aku pada Owen dengan sebuah nominal yang disetujuinya. Sekarang kenapa dia ingin meminta kesempatan?


"Aku bisa melaporkan perselingkuhan kalian. Dan lagi, nama Owen sebagai pengusaha terkenal akan tercoreng akibat skandal yang kalian perbuat!"


Entah kenapa aku menganggap ucapan Richard kali ini seperti mengancam ku.


"Kau benar-benar menjijikkan Richard! Kau yang menyebabkan semua ini!"

__ADS_1


"Ya, tapi aku tetap akan menjemputmu, kan? Aku tidak pernah mengatakan bahwa Owen berhak memilikimu untuk selamanya. Jadi, baik itu nanti atau hari ini sama saja, kau akan tetap kembali kepadaku!"


"Kalau aku tidak mau?"


"Maka akan ku pastikan skandal ini tercium oleh media!" ujarnya disertai senyum penuh kelicikan.


"Dasar licik!" desisku dengan emosi tertahan.


Tanpa pernah ku duga, Richard menyentuh pipiku, membelainya dengan lembut, aku sempat terkesima sampai akhirnya aku menepis tangannya yang dia tempelkan disisi wajahku itu.


"Gloria, aku ingin berubah. Hanya kau yang ku inginkan untuk membantuku sembuh. Sedikit lagi, setidaknya tunggu aku sampai aku benar-benar lepas dari masa laluku yang kelam."


Hah, aku mendengkus pelan. Dulu, aku sangat ingin diperlakukan Richard seperti ini. Sangat menginginkan sentuhannya, sangat mengharapkan perhatiannya, bahkan aku bertekad untuk membuatnya memohon kepadaku. Sekarang, saat dia benar-benar memohon seperti ini, aku sudah kehilangan respect terhadapnya. Salahkah?


"Aku janji, setelah aku sembuh, kita akan memulai semuanya dari awal. Membuat kenangan yang manis, kalau perlu kita akan berlibur dan berbulan madu."


Aku tertawa. "Apa kau bisa?" sarkasku.


"Tentu saja! Aku akan membuktikannya padamu!" jawabnya penuh keyakinan.


Mendadak, aku jadi membandingkan dia dengan Owen. Owen tidak pernah mengumbar janji padaku, hanya satu janjinya 'tidak akan menyakitiku'. Kenapa sekarang aku merasa sangat merindukannya? Padahal dulu aku mati-matian ingin terlepas dari jerat seorang Owen Zwart. Kini, aku justru menginginkan dia ada disini demi melepaskan aku dari pembicaraan konyol bersama Richard yang notabene nya adalah suamiku sendiri.


"Kau mau, kan?"


"Aku tidak mau, Richard. Aku sudah jatuh cinta pada Owen. Kau telat dan ini semua karena salahmu juga!"


Richard berdiri seketika saat mendengar penuturanku itu. Kemudian dia menatapku nyalang.


"Ku beri kau waktu untuk berpikir, dalam dua hari ini.... jika kau tidak kembali padaku maka aku pastikan Owen akan hancur!" kata Richard mengancam.


Sebenarnya, aku gamang dengan ancamannya. Aku tidak tahu seberkuasa apa Owen. Aku tidak tahu jati diri Owen yang sesungguhnya. Yang ku tahu dia adalah seorang pengusaha tapi aku tidak tahu kekuatan Owen. Apakah Owen benar-benar akan hancur karena ancaman Richard?

__ADS_1


****


__ADS_2