Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /1


__ADS_3

Btw, kisah Owen dan Gloria udah end ya, jadi ini othor kasi bonus chapter cerita Jared dan Lily ✌️ Karena kasian dia sendiri yang gak punya pasangan 🤭🤭🤭 Yang masih lanjut baca, ninggalin like, komentar dan udah kasih hadiah makasih banyak yaaa... cerita ini akan segera tamat🙏


_____


Selepas acara ulang tahun Jeff, semua yang hadir pun mulai pulang satu persatu.


Jared memperhatikan tingkah Jeff dan Lily dari kejauhan. Jeff memang tampak akrab dengan Lily, tapi Jared menduga jika Lily sengaja memanfaatkan Jeff untuk mendekatinya. Intuisi Jared yang tinggi tidak usah diragukan lagi.


Lily pamit undur diri pada Gloria, Owen dan Jeff. Tak lupa dia juga memberikan sebuah hadiah ulang tahun untuk Jeff. Jeff tampak kegirangan, tangannya terulur menerima hadiah berukuran besar dari Lily.


"Berjanjilah setelah mendapatkan hadiah dariku kau akan semakin giat dan pintar!" pinta Lily dan Jeff mengangguk sembari terkekeh-kekeh senang.


"Aku janji, Lily!" Jeff menutup mulutnya yang tertawa dengan sebelah tangan. Sikapnya sangat menggemaskan, membuat Lily mencubit pipi bocah tampan itu.


"Uhh.... kau selalu menggemaskan," kata Lily gemas.


"Baiklah, aku permisi, bye!" Lily melambaikan tangan namun rupanya Jeff kembali menarik-narik tangan Lily yang satunya.


"Kenapa lagi, Jeff?"


Jeff tak menjawab, matanya mencari-cari sesuatu di seluruh penjuru ruangan, sampai matanya menangkap wajah Jared.


"Uncle, tolong antarkan Lily pulang ya!" kata Jeff dengan tampang memelas.


Owen yang mendengar itu terkekeh sementara Gloria menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan niat Jeff yang mudah sekali terbaca.


"Jeff!" Gloria memegang pundak puteranya, berniat ingin menghentikan aksi bocah tiga tahun itu. Namun Jeff mengadah sambil menggeleng, pertanda menolak apapun protes dari bibir ibunya.


"Kasian Lily pulang sendiri, Mommy! Kalau Jeff sudah dewasa pasti Jeff yang akan mengantarkannya."


Gloria tak bisa berkata lagi, ia speechless dengan kalimat yang dilontarkan Jeff. Kenapa anak ini bisa tumbuh secepat ini? Begitulah batin Gloria, takjub.


Tentu saja perkataan Jeff itu didengar oleh Lily, Jared dan yang lainnya. Mereka semua pun tak berani angkat bicara lagi.


Jared mendekat kearah Lily, ia memilih untuk mengalah, meninggalkan egonya yang cukup besar. "Baiklah, ayo saya antar, Nona," katanya dengan nada malas, namun tetap berusaha formal karena Lily adalah tamu di Mansion ini.


_______


"Jangan memanfaatkan anak kecil untuk kepentinganmu sendiri," cetus Jared memecah keheningan dalam kabin mobil. Saat ini ia sedang mengemudi untuk mengantarkan Lily pulang sesuai dengan permintaan Jeff.


Lily menoleh pada Jared dengan mata melotot. "Aku? Aku memanfaatkan anak kecil?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, siapa lagi!" ketus Jared.


"Aku tidak pernah memanfaatkan Jeff. Ini semua inisiatifnya sendiri. Lagipula siapa juga yang mau kau antarkan!" kata Lily tak kalah ketus.

__ADS_1


"Oh, bukannya kau tertarik padaku?" Jared to the point. Tapi ucapannya itu membuat Lily tergelak.


"Hahaha... apa kau bilang? Jangan terlalu percaya diri, Tuan!" Lily melengos, membuang pandangan ke luar jendela.


Jared menggeram dalam hati, ia merem as kemudi dengan sangat kuat. Pasalnya ia tak suka pada Lily karena Lily adalah adik dari mantan kekasihnya yang pernah mengkhianatinya. Karena patah hati itulah, sampai sekarang Jared tidak pernah tertarik membuka hati pada gadis manapun. Hatinya membeku, seiring dengan sikapnya yang juga semakin kaku.


"Kemana aku harus mengantarmu?" tanya Jared mau tak mau.


"Ke rumah ibuku! Jika kau lupa maka akan ku beri tahu alamatnya!" Lily menggerakkan bibir seolah mencibir pada tingkah galak Jared.


"Aku sudah lupa!" ucap Jared berdusta.


"Woa, padahal ku pikir kau akan hafal mati dimana alamat rumah ibuku, karena dulu kau selalu menghabiskan waktu disana."


"Diamlah, jangan membahas yang dulu!" senggak Jared.


"Dasar lelaki galak!" tukas Lily sambil kembali melayangkan pandangan ke luar jendela.


"Jangan coba-coba tertarik padaku! Aku tidak menyukai adik dari mantan kekasihku, sebab tingkahnya pasti sama saja!" ucap Jared dengan senyuman miring.


"Kepercayaan diri anda sangat tinggi, Tuan! Sepertinya berada di level seratus!" sahut Lily tak mau kalah.


Jared terkekeh pelan. Ia tahu sejak lama jika Lily mengaguminya. Rose, kakak Lily-- sendiri yang mengatakan padanya ketika mereka masih berstatus sepasang kekasih.


"Jangan melihat Lily, dia itu tertarik padamu. Dia mengidolakanmu. Bahkan mau memiliki kekasih sepertimu jika sudah lulus sekolah nanti." Itulah ucapan Rose, kala itu. Beberapa tahun silam.


_____


Lily tak heran, meski ia tak memberitahu Jared tentang tempat tinggalnya tapi Jared pasti sudah hafal betul. Tampaknya Jared memang belum bisa move on dari kakaknya, Rose.


Lily membuka seatbelt dan bersiap untuk turun. Namun, sebelum benar-benar turun dari mobil ia menyempatkan untuk mengejek Jared terlebih dahulu.


"Jangan berharap bisa bertemu atau melihat kakakku di rumah ini karena dia sudah pindah dan ikut dengan suaminya!" ejek Lily saat Jared tampak celingukan seperti mencari sesuatu.


Mendengar itu, Jared menangkap lengan Lily untuk mencegahnya keluar.


"Siapa yang kau maksud ingin melihat kakakmu?" tanyanya dengan tatapan penuh intimidasi.


"Ya kau lah!" sahut Lily cepat. "Aku tahu kau belum bisa melupakan Rose!" sambungnya sambil mendelik kan mata.


"Hah? Yang benar saja!" kata Jared.


"Buktinya kau tidak menikah sampai sekarang sejak putus dari kakakku! Mengaku saja, Tuan!" tuding Lily.


"Tidak menikah bukan berarti belum bisa melupakan masa lalu."

__ADS_1


"Whatever! Buktinya kau menatap rumah ibuku seperti ingin mencari keberadaan seseorang." Lily tersenyum penuh cibiran.


"Aku ingin melihat keadaan Bibi Dientin, bukan ingin bertemu Rose!" jawab Jared tak acuh.


"Ah sudahlah, aku lelah berdebat denganmu!"


Lily segera menepis tangan Jared yang sejak tadi masih memegang pergelangan tangannya. Saat itu juga Jared baru menyadari jika sejak tadi dia belum melepaskan tangan Lily.


"Kau yang memulainya!" kata Jared.


"Kau!"


"Kau!"


Mereka terus menuding dan menyalahkan satu sama lain sebab sudah memulai perdebatan. Hal itu membuat Lily belum turun juga dari mobil.


Tok


Tok


Tok


Kaca mobil diketuk dari luar, membuat mau tak mau Jared membuka kaca mobil itu dan ternyata seorang wanita paruh baya dengan senyum teduh tampak disana.


"Jared?"


Wanita itu adalah Ibu dari Rose dan Lily. Dia adalah Dientin.


"Biby Dien?" Jared menyapa, ia tak menyangka jika Ibu mantan kekasihnya masih mengenali dirinya.


"Kenapa kalian bisa pulang bersama?" Dientin melihat ke kursi penumpang disebelah Jared dan mendapati Puteri keduanya sedang duduk disana.


"Ini hanya kebetulan," jawab Lily yang kemudian beranjak turun dari mobil.


"Jared, mampirlah..." pinta Dientin dari luar jendela. Jared yang sungkan meladeni wanita itu hanya dari kaca jendela mobil pun-- mau tak mau ikut turun juga.


"Apa kabar, bibi?" kata Jared sembari menggosok tengkuknya sendiri, salah tingkah.


"Bibi sehat. Sangat sehat. Masuklah..." Dientin membukakan pintu untuk Jared dan Lily yang tampak memendam suara disampingnya.


"Ah, tidak usah Bibi... aku--aku--" Jared tidak punya alasan untuk menolak, lebih tepatnya ia terkejut dan kejadian ini tidak sesuai prediksinya. Ia belum menyiapkan alasan sebagai penolakan.


"Jangan sungkan, kau sudah lama tidak kesini...." Dientin yang ramah bersikap sewajarnya, sementara Jared ragu untuk mampir ke rumah itu.


"Masuklah! Setidaknya hargai ibuku!" Lily berucap pelan agar hanya Jared yang mendengarnya.

__ADS_1


******


__ADS_2