
Aku kembali sibuk seperti biasanya, mengurusi bisnis yang ada didalam dan luar negeri. Beberapa hari kedepan bahkan aku harus terbang ke UEA untuk urusan pekerjaan.
"Jared, utus orang untuk menjaga Gloria selama aku pergi, aku tidak mau Richard mengganggunya," titahku pada Jared. Pria itu mengangguk pelan.
Selama ini aku memang mengawasi Gloria kemanapun ia pergi, bukan bermaksud memata-matai aktivitasnya, melainkan aku mengkhawatirkan keselamatannya, apalagi sejak Richard menemuiku beserta komplotannya di FGH street waktu itu, aku selalu was-was jika Gloria bepergian sendiri.
Syukurnya Gloria memang jarang keluar rumah, hanya sesekali ke salon atau berbelanja itupun tidak dalam waktu yang lama.
Gloria tidak tahu mengenai ini, karena utusanku mengawasinya dengan tetap memberi jarak dan ku harap Gloria tidak pernah mengetahuinya.
Aku kembali ke Apartemen ditengah hari. Gloria terheran-heran dengan kepulanganku siang ini karena memang aku tak pernah pulang di jam ini saat bekerja.
"Kau sudah pulang?" Gloria menatapku sekilas, tampaknya ia sibuk sekali didapur.
"Kau sedang apa?" Aku balik bertanya sembari memperhatikannya mengeluarkan sebuah tatakan dari dalam oven.
"Aku membuat kue tart," kata Gloria tersenyum.
"Kue tart? Untuk apa?" tanyaku heran.
"Sebenarnya hari ini adalah ulang tahunku." Gloria terkekeh pelan.
Aku mengumpat dalam hati, bisa-bisanya aku tidak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahun Gloria.
Aku mendekat padanya, meletakkan kedua tangan disisi pinggangnya yang ramping. "Kau bisa mengatakannya padaku, aku bisa meminta Jared untuk membelikanmu cake ulang tahun dan kau tidak perlu repot membuat kue sendiri seperti ini." Aku menatapnya dengan tatapan melembut.
"Jangan berlebihan, Owen! Lagipula banyak tugas yang lebih penting untuk Jared lakukan. Bukan malah membeli cake ulang tahun untukku."
"Atau kau mau aku yang membelikannya khusus untukmu?" Aku menaikkan sebelah alis, memberinya penawaran. Gloria malah semakin tertawa kemudian mengelus pipiku sekilas. Perlakuan kecilnya ini membuat hatiku semakin merasa bersalah karena tak mengetahui hari jadinya.
"Maafkan aku," ucapku tulus.
"Maaf untuk?"
"Lupa dengan ulang tahunmu."
"Ku pikir bukan lupa." Gloria membungkam mulutnya yang terkekeh.
"Ya, lebih tepatnya aku tidak tahu karena aku tidak pernah menanyakannya. Lain kali aku akan lebih memperhatikanmu."
Gloria bergerak gelisah, menepis pelan tanganku yang berada di pinggangnya sejak tadi. Secara perlahan dia beringsut menjauh, seolah menghindar. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?
"Kenapa?" tanyaku heran dengan perubahan sikapnya yang tidak bisa ku tebak apa sebabnya.
"Tak ada, aku ingin memberi toping di kue nya." Gloria kembali fokus pada kue yang tadi sempat ia letakan di meja dapur.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanyaku kembali mendekapnya dari belakang. Aku pikir Gloria sedikit terkejut dengan perlakuanku ini sebab aku merasakan tubuhnya sedikit terhenyak saat ku dekap tiba-tiba.
"Tidak ada," jawab Gloria sambil memoles kuenya dengan cokelat cair. "Kenapa kau pulang lebih awal? Tidak biasanya." Gloria malah terdengar mengalihkanq pembicaraan kami.
Baiklah, aku tidak akan membicarakan tentang perubahan sikapnya lagi, aku akan mengatakan soal kepergianku kepadanya.
__ADS_1
"Aku akan pergi ke UEA."
"Kapan?"
"Dua hari lagi."
"Baiklah, aku akan membantumu berkemas," kata Gloria pelan. Aku merasa suaranya bergetar. Apa dia sedih dengan kepergianku?
"Aku tidak akan lama, hanya 5 sampai 7 hari. Setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali."
"Akhhss..." Gloria meringis. Rupanya tangannya terluka saat sedang memotong buah strawberry.
Aku melihat jarinya yang mengeluarkan darah, dengan sigap aku membawanya sampai ke depan kitchen sink lalu mencuci jarinya disana menggunakan air hangat dari kran.
"Akan ku obati," ucapku tenang, aku pun meniup jari Gloria yang terluka. "Aku ambil plester dulu, tunggulah disini."
Aku bergerak menuju kamar, mengambil kotak obat demi mendapati sebuah plester penutup luka. Aku kembali dan melihat Gloria sudah terduduk di ruang makan dengan wajah yang lesu.
"Glo, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada," jawab Gloria tersenyum kecil. Entah kenapa aku merasa senyumnya amat dipaksakan.
"Baiklah jika begitu." Aku mulai mengobati lukanya dan menutupnya dengan plester.
"Selesai."
"Terima kasih, Owen."
"Marah padamu? Untuk apa? Aku tidak berhak marah padamu."
"Sikapmu tiba-tiba berubah."
Gloria terdiam beberapa saat. "Hanya perasaanmu saja," jawabnya kemudian.
Gloria berdiri, seperti hendak bergegas demi menghindari ku lagi. Namun, aku segera menarik lengannya.
"Aku pulang cepat karena aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku rasa aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Sebelum aku berangkat, kita habiskan waktu bersama-sama, oke?"
Gloria menggeleng. "Tidak usah, aku dirumah saja, Owen."
"Kenapa? Kau betah sekali didalam rumah berlama-lama. Aku bahkan jarang mendapatkan notifikasi tentang belanjamu." Aku mengelus rambut Gloria dengan lembut.
Gloria diam, dia menatapku penuh arti, namun aku tidak bisa mengetahui arti tatapannya. Hanya saja, aku menangkap kesedihan dan harapan besar terkandung disana.
"Come on, jujurlah. Apa yang sedang kau pikirkan. Katakan padaku!" desakku padanya.
"Aku hanya tidak mau terlalu berharap padamu. Menerima semua perlakuan baikmu padaku hanya akan membuatku semakin sulit untuk melupakanmu nantinya."
Gloria menepis tanganku, kemudian dia berbalik arah menuju kamar kami.
Aku tersentak dengan ucapan Gloria itu, ia menolak perlakuanku, menolak pemberianku, jarang menggunakan fasilitas yang ku berikan, semata-mata karena takut suatu saat sulit untuk melupakan aku.
__ADS_1
Apa bayang-bayang aku akan meninggalkannya mulai memasuki pikiran Gloria, sekarang? Padahal aku belum mau melepasnya, entah sampai kapan.
Aku tahu, sikapku ini menunjukkan tidak adanya pendirian dalam diriku untuk mempertahankannya atau tidak. Aku mau, tapi aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus bersikap begini dengannya. Aku juga takut jika sewaktu-waktu bosan dengannya sehingga aku tidak berani menjanjikan apapun padanya. Tapi, jika sikap Gloria seperti ini, aku justru tidak menginginkannya.
_____
"Kau benar-benar tidak mau pergi denganku?" Aku menghampiri Gloria dikamar sembari membawa sebuah paperbag yang tadinya memang ingin ku berikan pada Gloria.
Gloria menggeleng.
"Jadi kau akan bersikap menghindar terus seperti ini padaku?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Jangan begini, please." Aku tidak pernah memohon seperti ini pada wanita manapun. Sekali lagi hanya Gloria yang bisa mendengar permohonan ku seperti saat ini. Aku juga heran kenapa aku begini padanya.
Aku menangkup kedua pipi Gloria, menatapnya lekat. Demi apapun rasanya aku tidak bisa meninggalkannya sekarang. Jika nanti? Entahlah...
"Aku hanya ingin menyiapkan hatiku, semoga saat kau kembali dari UEA, aku bisa bersikap biasa lagi. Aku berusaha agar tidak memakai perasaan padamu, hanya sebatas partner-mu saja."
Aku menggeleng keras. "Aku tidak mau!" kataku tegas.
"Lalu apa yang kau mau?"
"Aku ingin kau dan seluruh perasaanmu. Aku ingin kau menggunakan perasaanmu saat bersamaku. Seperti selama ini saat kita bersama-sama."
Gloria menatapku dengan mata membola. Aku tahu jawabanku sangat egois. Aku ingin perasaannya hanya tertuju padaku. Aku tidak mau dia terpaksa denganku, aku tidak mau apapun yang terjadi diantara kami hanya dilandasi dengan kesenangan semata. Aku ingin dia melakukan segalanya bersamaku menggunakan segenap perasaannya.
"Sekarang, aku tanya padamu. Apa kau juga bisa menggunakan perasaanmu saat bersamaku?" tanya Gloria menatapku nanar.
"Aku? Tentu aku menggunakan perasaanku saat bersamamu."
"Benarkah? Bukan hanya sebatas kebutuhan dan naf su?"
"Sudah ku bilang jangan mengartikan jika kau hanya sebatas teman tidurku, Glo, kau spesial untukku."
"Hanya spesial?" Gloria tertawa sumbang. "Aku tanya padamu, apa kau menggunakan perasaanmu seperti kau menyayangiku, misalnya? Atau... apa kau mencintaiku?"
Gloria menatapku nyalang, amarah dan kesedihan terpancar disana. Aku terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaannya itu.
"Jika tidak, jangan paksa aku menggunakan perasaan padamu. Aku sedang berusaha agar biasa saja, jadi... jangan paksa aku!" Gloria menekankan kalimatnya.
Aku bukan memaksanya, sejak awal bahkan aku tidak pernah memaksanya, sebab aku tidak menyukai pemaksaan. Tapi entah kenapa kali ini aku ingin memaksanya untuk tetap memiliki perasaan padaku.
"Glo!" Aku mengelus pipi Gloria, menatapnya dengan sendu dan penuh harapan yang besar.
"Kau egois, Owen!" Gloria menepis kedua tanganku yang ada di pipinya.
Aku tahu ia pasti kecewa denganku, aku sendiri mengakui keegoisan yang ada dalam diriku. Aku Ingin dicintai oleh Gloria, namun aku belum bisa memberinya perasaan yang sama. Atau, justru aku yang tidak menyadari perasaan itu?
*****
__ADS_1